JAKARTA – KH. Abdul Chalim dilahirkan di Leuwimunding pada tanggal 2 Juni 1898. Ia putra Kedung Wangsagama dan ibu Satimah. Ayahnya seorang Kuwu (kepala desa dengan wilayah yang luas) dan ia sangat disegani. Putra dari seorang kuwu juga, bernama Kedung Kertagama, putra dari Buyut Liuh yang merupakan seorang pejuang republik. Putra seorang Pangeran Cirebon, sehingga silsilah KH. Abdul Chalim pun bersambung kepada Sunan Gunung Djati (Syarif Hidayatullah).
KH. Abdul Chalim menghabiskan masa kecilnya bersekolah di Sekolah H I S (Hollandsch Inlandsche School). Kemudian, Ia belajar di beberapa pesantren di wilayah Leuwimunding dan Rajagaluh, di antaranya Pondok Pesantren Banada, Pondok Pesantren al-Fattah Trajaya, dan Pondok Pesantren Nurul Huda al Ma’arif Pajajar. Pada tahun 1913, KH. Abdul Chalim naik haji dan belajar di Mekkah.
KH. Abdul Chalim pada saat belajar di Mekkah bertemu dan berkawan antara lain dengan KH. Abdul Wahab Hasbullah dan KH. Asnawi Kudus. Ia tercatat sebagai anggota SI (Syarikat Islam) termuda cabang Mekkah. Ia berguru kepada beberapa ulama Mekkah, yang antara lain KH. Mahfud Termas, dan pada tahun 1914 KH. Abdul Chalim bersama dengan beberapa temannya kembali ke Indonesia.
KH. Abdul Chalim sekembalinya dari Mekkah Ia berkhidmat kepada kedua orang tuanya, yaitu membantu untuk menyelesaikan tugas tugas ayahnya. Setelah ayahnya meninggal dunia Ia teringat akan temannya KH. Abdul Wahab Hasbullah dengan komitmennya untuk ikut serta memerdekakan Indonesia . Maka pada tahun 1922 Ia berangkat ke Surabaya dengan berjalan kaki selama 14 hari untuk menanamkan dan menebalkan nasionalisme dan kecintaanya terhadap tanah air. Pada hari ke-12 beliau singgah di Pondok Pesantren Tebuireng dan tinggal sehari semalam di Tebuireng untuk mendapatkan bimbingan, pengarahan dan nasehat dari KH. Hasyim Asy’ari, dari sinilah mulai terbangun komunikasi intensif dengan KH. Hasyim Asy’ari.
KH. Abdul Chalim setibanya di Surabaya. Ia langsung bergabung dengan KH. Abdul Wahab Hasbullah. Untuk membantu menangani dan memanage organisasi-organisasi yang telah dirintis oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah, yaitu Nahdlatul Wathan dan Taswirul Afkar.
Dengan kepiawaian dan kepandaiannya dalam memanage organisasi maka organisasi-organisasi tersebut berkembang pesat sehingga terbentuk Nahdlatul Wathan di berbagai cabang, yaitu Sidoarjo dan Gresik dan cabang cabang yang lain.
Nahdlatul Wathan merupakan tempat pengkaderan dan pengkursusan para pemuda yang dipersiapkan untuk menjadi para pemimpin bangsa, untuk periode 1924 dipimpin langsung oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dan KH. Abdul Chalim sebagai sekretarisnya dengan jumlah peserta sebanyak 65 peserta.
Mereka berdua juga bertindak sebagai tutor dan karena kepandaian mereka dalam melakukan Tahrikil Afkar (memotivasi dan membangkitkan semangat) utamanya untuk kemerdekaan maka Nahdlatul Wathan pada periode ini setelah menyelesaikan program kurikulumnya menjelma menjadi Syubbanul Wathan yang diketuai oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dan KH. Abdul Chalim bertindak sebagai sekretarisnya KH. Abdul Wahab Hasbullah dan KH. Abdul Chalim mulai tahun 1922 merupakan dua orang sahabat senior dan juniornya yang tidak pernah berpisah, saling harga menghargai dan saling menghormati, keduanya adalah anak-anak muda yang cerdas antisipatif dan penuh kreatif.
Mereka senantiasa mendapatkan bimbingan dan pantauan serta pengarahan dari KH. Hasyim Asy’ari. Sehingga pada saat mereka memimpin Syubbanul Wathan mereka mendirikan komite Hijaz yang bertugas untuk mengundang ulama-ulama pesantren dengan agenda untuk mendirikan organisasi Ulama – ulama Pesantren, untuk merespon kejadian yang terdapat di Hijaz dan agenda utamanya adalah untuk kemerdekaan IndonesIa.
Susunan kepengurusan komite Hijaz ini penasehatnya adalah KH. Abdul Wahab Hasbullah, dan KH. Abdul Chalim ditempatkan sebagai wakil sekretaris untuk memudahkan percepatan penjabaran konsep-konsep organisasi. Ketuanya Hasan Gipo, sedangkan wakil ketuanya Shaleh Syamil dan sekretarisnya Muhammad Shodiq.
KH. Abdul Wahab Hasbullah dan KH. Abdul Chalim setelah mendirikan komite Hijaz segera mereka mengkonsep surat yang ditulis oleh KH. Abdul Chalim di Kertopaten, Surabaya. Kemudian surat tersebut dikirimkan ke ulama – ulama besar pesantren seluruh Jawa dan Madura yang pengirimannya dikoordinir oleh KH. Abdul Chalim.
Yang agendanya adalah untuk mengkonsep surat yang ditujukan kepada Raja Abdul Azis dalam rangka merespon apa yang rencana dilakukan oleh Raja abdul Azis, untuk menghancurkan situs-situs Nabi termasuk makam Nabi.
Agenda kedua adalah untuk mendirikan organisasi para Ulama Pesantren, sedangkan agenda utamanya adalah untuk kemerdekaan Negara Republik IndonesIa. Surat yang ditulis dan dikirimkan kepada Ulama – ulama pesantren dan pengirimannya dikoordinir oleh KH. Abdul Chalim mendapatkan respon yang luar bIasa dari para ulama, mereka semuanya hadir untuk memenuhi undangan tersebut.
Komite Hijaz pada tanggal 31Januari 1926 yang bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H menyelenggarakan pertemuan yang diikuti oleh 65 ulama, yang antara lain KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng, KH. Ahmad Dahlan Ahyat Surabaya, KH. Abdul Wahab Hasbullah Surabaya, KH. Abdul Chalim, KH. Abdullah Ridhwan Surabaya , KH. Mas Alwi Surabaya, KH. Dara Muntaha Bangkalan, KH. Ridhwan Semarang, KH. Zubeir Sarang, KH. Asnawi Kudus, KH. Mas Nawawi Sidogiri.
Dengan menelurkan beberapa keputusan, antara lain ;
1. Pokok – pokok pikiran dari surat yang dikirim kepada Raja Abdul Azis di Makkah.
2. Memutuskan nama Jam’iyah Nahdlatul Ulama sebagai pengirim dari surat yang akan dikirim. Nahdlah diambilkan dari nama Nahdlatul Wathan, sedangkan ulama dari para ulama yang hadir saat itu.
3. Menetapkan delegasi yang akan mengirimkan surat adalah KH. Asnawi Kudus.
4. Terus mengobarkan semangat untuk kemerdekaan.
Setelah ditetapkannya pengirim surat ini adalah Nahdlatul Ulama, maka saat itu pula disusun pengurus intinya Syuriah, Rais Akbar KH. Hasyim Asy’ari, Wakil Rais KH. Ahmad Dahlan Ahyat, Katib Awwal KH. Abdul Wahab Hasbullah dan Katib Tsani KH. Abdul Chalim.
Sedangkan susunan Tanfidziyahnya diambilkan dari pengurus komite Hijaz, ketuanya Hasan Gipo, Wakilnya Shalih Syamil dan sekretarisnya Muhammad Shodiq dan Bendaharanya H. Burhan. Kelengkapan susunan pengurusnya diserahkan kepada pengurus inti dan dikoordinir oleh KH. Abdul Chalim.
Dari hal tersebut di atas, yang membedakan KH. Abdul Chalim dengan 65 pendiri NU yang lainnya, KH. Abdul Chalim sebagai penulis surat dan koordinator pengiriman surat, KH. Abdul Chalim yang mengusulkan agar isi surat tersebut tujuan pertamanya yaitu kemerdekaan Republik.
KH. Abdul Chalim sejak tahun 1922 bertempat tinggal di kedung Sroko gg. 5 Surabaya untuk terus berjuang bersama KH. Abdul Wahab Hasbullah menggerakan dan memanage organisasi dan mendirikan sekolah-sekolah yang didirikannya di kedaung Sroko Surabaya, di Bubutan dan Kebon Dalem Surabaya, tetapi sesekali juga pulang ke Jawa-barat, ke Cirebon dan Majalengka untuk mendirikan cabang- cabang Nahdlatul Ulama di Jawa-Barat dan mengerakan semangat perlawanan terhadap penjajah. Selanjutnya, KH. Abdul Chalim juga di tugaskan di Semarang untuk mendirikan cabang-cabang Nahdlatul Ulama di Jawa-Tengah dan membina sekolah-sekolah di Semarang. Ia senantiasa hadir dalam setiap muktamar Nahldatul Ulama. Ia senantiasa hadir dalam setiap muktamar Nahdlatul Ulama hinga akhir hayat.
Perjalanan dan pengalaman KH. Abdul Chalim dengan KH. Abdul Wahab Hasbullah pada saat di Makkah, KH. Abdul Chalim menjadi pendamai dari ketegangan yang kadang-kadang terjadi antara KH. Abdul Wahab Hasbullah dan KH. Asnawi Kudus. Dan pada saat di Surabaya, di Nahdlatul Wathan menjadi pendamai dari ketegangan yang kadang terjadi antara KH. Abdul Wahab Hasbullah dan KH. Mas Alwi Surabaya, dan menjadi komunikator yang intensif anatara KH. Abdul Wahab Hasbullah dan KH. Hasyim Asy’ari dalam pendirian organisasi Nahdlatul Ulama, Sehingga KH. Abdul Chalim mendapatkan laqob ” Mushlikhu Dzatil Bain” (pendamai dari kedua belah pihak yang berselisih).
Tidak banyak memang sumber-sumber tertulis yang dapat menjelaskan secara rinci tentang masa kecil KH Abdul Chalim. Namun yang jelas , beliau adalah putra tunggal dari pasangan Kuwu Leuwimunding, Kedung Wangsagama, dan ibu Santimah. Beliau dilahirkan di Desa Leuwimunding Majalengka, pada 1898.
Sebagai Kuwu atau Kepala Desa Leuwimunding, Kedung Wangsagama adalah juga aktivis yang aktif dalam pergerakan -pergerakan petani dan pernah bergabung dengan tokoh pergerakan dari lain daerah dalam “pemberontakan petani” di wilayah-wilayah Jawa Barat di awal tahun 1990-an sedang para buyutnya , Buyut Kreteg, Buyut Liuh, dan Buyut Keragaman, adalah tokoh-tokoh masyarakat yang asal-usul dan nasabnya sampai Sunan Gunung Jati, seorang dari sembilan wali (Walisanga), yang menyebarkan ajaran-ajaran Islam di Tanah Jawa.
Pada masa pergerakan dalam membela Tanah Air,Buyut Liuh adalah sosok pendekar yang memiliki kesaktian. Beliaulah yang memiliki Babad Tatanan pemerintahan Leuwimunding dan berkhidmad pada para Kyai di Cirebon dan Banten yang berada di patapaan Belanda.
Irawan Kurnia menulis dalam sejarah Desa Leuwimunding (2011), pada zaman pemerintahan VOC,Dukuh Leuwimunding, Dukuh Lebak (Leuwikujang), Dukuh Cirabak (Murat) dan Dukuh Cibatur/Buah Nyebrak (Ciparay). Keempat Dukuh tersebut diperintah oleh seorang Kokolot Dukuh yang bernama Buyut Dukuh. Pada tahun 1803 , Kuwu Buyut Dukuh dibawah pemerintahan di Dusun Tarikolot(Mirat).
Leuwimunding merupakan ibu kota Distrik atau Kewedanaan yang membawahi beberapa kecamatan seperti kecamatan Leuwimunding, kecamatan, Rajagaluh dan kecamatan Sukahaji.
Nama Leuwimunding sendiri diambil dari asal sebuah danau yang berada ditengah-tengah hutan belantara yaitu Sang Hyang Dora diwilayah pegunungan Kromong yang berbatasan dengan pabrik semen Palimanan sekarang ini. Selain jernih, air danau itu dapat diminum dan airnya tidak pernah kering meskipun dimusim kemarau karena dikelilingi pohon pohon besar yang umurnya sudah ratusan tahun.
Dalam bukunya,KH Abdul Chalim: Mengapa Harus Dilupakan?, J.Mubarok meyebutkan, nama Leuwimunding mulai dikenal pada awal tahun abad ke-16 dalam Babad Cirebon.
Nama lain Leuwimunding pada saat itu adalah Lemah Putih dengan batas sebelah Utara Sindanghaji (Panjalin), sebelah barat Garawangi dan Bongas, sebelah selatan Majapahit (sekarang Leuwimunding) dan sebelah timur adalah perbukitan Hyangdora.
Lemah Putih berada dalam kekuasaan Prabu Cakraningrat dikerajaan Rajagaluh. Daerah ini dipimpin oleh dua kakak beradik yakni Dipati Dipasara dan Dipati Suradipa. Dipati Dipasara berada dibatas sebelah selatan dan Dipati Suradipa berada disebelah Utara (Panjalin).
Setiap tahunnya para Dipati dan Gegeden wilayah selalu mengadakan seba atau menyerahkan upeti kepada kerajaan Rajagaluh. Upeti dua Dipati tersebut biasanya berupa sembilan kerbau yang gemuk-gemuk pada kerajaan Rajagaluh. Dalam perjalanannya, iring iringan sembilan kerbau itu selalu berhenti di kubangan atau Leuwi, yang sekarang menjadi alun-alun Leuwimunding. Ditempat itulah kerbau-kerbau itu diistirahatkan untuk mandi sebelum melanjutkan perjalanannya ke Kerajaan Rajagaluh.
Satu hikayat menerangkan, asal mula Leuwimunding adalah ketika Dipati Dipasara memandikan kerbau-kerbaunya dibantu oleh seorang anak muda, Jagakerta. (yang selanjutnya bergelar Ki Gedeng Leuwimunding). Entah darimana datangnya tiba-tiba jumlah kerbau bertambah dari semula sembilan menjadi sepuluh, sehingga orang-orang yang mengantar upeti tersebut berteriak ,”Munding leuwih…..aMunding leuwih…..mundingna leuwih”.
Diantara wilayah-wilayah yang tidak melakukan seba atau upeti adalah Kerajaan Cirebon dengan seorang adipatinya Raden Abdul Qodir atau Syarif Hidayatullah atau Fathullah (Faletehan) , yang dikemudian hari bergelar Sunan Gunung Djati, nama itu diambil dari nama sebuah bukit didekat Cirebon.
Ia adalah Raja Muda yang diangkat oleh Raden Patah alias Sultan dari kerajaan Demak untuk Jawa Barat yang berkedudukan di Pantai Cirebon. Ia dipercaya sebagai Panglima Kerajaan Demak untuk menyiarkan agama Islam dan melakukan perlawanan terhadap Portugis, dan puncaknya (tahun 1521). Sunda Kelapa dapat dibebaskan dari kekuasaan serdadu Portugis.
Faletehan tahu bahwa ada hubungan antara Kerajaan Rajagaluh dan Portugis. Hasil pengumpulan upeti dari daerah-daerah kekuasaannya tersebut ternyata dijual kepada Portugis. Faletehan pun tidak dapat menerima tindakan tersebut karena dipandang sebagai penodaan terhadap martabat bangsa dan agama (Islam) yang dianutnya.
Kemudian dicobalah menempuh jalan damai untuk menginsyafkan Kerajaan Rajagaluh agar tidak melakukan persekongkolan dengan Portugis. Namun jalan damai yang ditawarkan oleh Kerajaan Cirebon ditolak keras. Pihak Rajagaluh malah balik mengancam Cirebon agar mau menyerahkan sebagian wilayahnya. Sehinga peperangan kedua kerajaan tersebut tidak bisa dihindari.
Dipati Dipasara mengamuk, Dipati Kiban melepaskan trisula, sementara Pangeran Dipati Kuningan dari Kerajaan Cirebon segera maju kemedan perang dengan mengendarai kuda si Winduhaji, yang sangat tinggi dan disebut keturunan kuda Sembrani. Dipati Dipasara pun berteriak “hai, Kiban, walaupun engkau tinggi besar seperti gunung susun tujuh, aku tidak gentar menghadapimu majulah”.
Peperangan berjalan satu lawan satu antara rakyat Rajagaluh dan Kuningan, sampai berhari-hari.Dan Pangeran Kuningan mengalami kekalahan perang dengan Rajagaluh. Diceritakan Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Cirebon sedang berada di Masjid Agung bersama para Wali, para murid berkumpul pada mengaji Qur’an dan Kitab.Tidak berapa lama datanglah utusan Kuningan menghadap kepada Faletehan.
“Gusti,menghaturkan berita sedih karena kami mengalami kekalahan. Pangeran Dipati Kuningan yang berkumpul dengan Dipati Dipasara sudah tidak kelihatan, tidak ada akhirnya, Ki Gedeng Limunding dan pasukan dari Rajagaluh mengamuk hingga wadyabala Kuningan rusak dan bubar berlari keempat arah tanpa tujuan. Mohon dengan hormat menjadi pengetahuan Gusti.”.
Kanjeng Sunan pun berkata,”Rama cakrabuana semoga mau bertindak bertolak ke Rajagaluh.Tahu beresnya saja”.
Para Wali mufakat Sri Mangana Seyogyanya yang menjadi Senopati. Sri Mangana berhatur Sandika, bermohon pamit keluar dari Masjid Agung dan mengumpulkan para Wadyabala Cirebon dan para Gedeng untuk bertolak ke Rajagaluh. Umbul-umbul dipasang di beberapa pinggir jalan. Bendera Cirebon pun dikibarkan. Bendera tersebut berupa Macan luhur /Siliwangi dengan kaligrafi Arab berwarna kuning hijau berlafadzkan laa illaha illah Allah Muhamadarasulullah. Warna dasar bendera hijau dan macamnya kuning yang bermakna Rahman Rahim..genderang perangpun bergema diseluruh Kerajaan Cirebon.
Rama cakrabuana tampil sebagai Senopati ngalaga dari Kerajaan Cirebon sementara Senopati Ngalaga dari kerajaan Rajagaluh bernama Rama Sanghyang Sutem.
Rama Sanghyang Sutem berteriak ,”hai,orang Cirebon,lawanlah aku ,Senopati Rajagaluh. Panggil Sunan Cirebon agar perang tanding dengan ku. segeralah keluar jika engkau perwira”.
Tak lama kemudian datanglah Sri Mangana.”Siapa engkau yang datang kehadapanku? mana Sunan Cirebon?”. tanya Rama Sanghyang Sutem.
“Iya,aku Ki Kuwu Cirebon yang akan melawan mu, tidak usah Sunan Jati, ini Kuwunya terlebih dahulu kalahkan”.
Rama Sanghyang Sutem mengeluarkan senjata Trisula, Ki Kuwu tersenyum.Rama Sanghyang Suntem menghunuskan Keris, Ki Kuwu tidak bergeming. Kerispun melembek. Sanghyang Sutem segera lari merasa tidak tahan dan menghilang seperti siluman di Gunung Gundul (Gempol). Merasa kehilangan musuhnya, Ki Kuwu mengeluarkan golok cabangnya.Tiba-tiba goloknya berteriak ,”Hai, Sanghyang Gempol, Ki Gedeng Palimanan dan Ki Gedeng Limunding, anutlah agama Islam, baiknya mengabdi kepada Sunan Jati”.
Kiai Haji Abdul Chalim (1898-1972) adalah satu diantara delapan Kiai pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Namun jarang sekali tokoh ini diperbincangkan dan ditulis. Masyarakat luas, terutama kalangan NU sendiri ,baru sedikit tahu saat Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gusdur) berziarah kemakam Kiai Chalim di Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat. Ketokohan Kiai Abdul Chalim tersorot kembali saat rombongan long match hari Santri Nasional 2015 Surabaya-Jakarta singgah dan berdoa di makam Kiai tersebut.
Membaca kembali dengan cermat dan seksama sejarah kelahiran dan perkembangan NU kita akan lebih mengerti dan memahami siapa KH Abdul Chalim, apa peranannya saat ikut membidani kelahiran NU pada 1926. Sebagi Kiyai yang dekat sekali dengan Kiai Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah, Kiai Abdul Chalim adalah komunikator kunci para ulama terkemuka se-Jawa dan Madura. Selain itu, yang lebih menarik, adalah pikiran-pikirannya, karya-karyanya yang menunjukkan kecintaan pada Tanah Air dan perjuangannya ikut mempertahankan Kemerdekaan Republik ini. Selain aktif sebagai anggota Laskar Hizbullah, Kiai Abdul Chalim juga tokoh pendidikan yang merintis berdirinya Pergunu (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama) dan Pertanu (Persatuan Petani Nahdlatul Ulama). Kepahlawanan Kiai Chalim sangat jelas.
Putra Kuwu Leuwimunding Kedung Wangsagama , yang silsilahnya bisa dirunut sampai Sunan Gunung Jati tersebut juga dikenal sebagai Kiai yang sangat sederhana. Saat bertekad menemukan KH Wahab Chasbullah , temanya sesama mukimin yang menuntut ilmu di Mekkah, Kiai Chalim berjalan kaki selama 12 hari dari Leuwimunding hingga Surabaya.
Begitu sederhananya kehidupan Kiai Abdul Chalim hingga disebut hanya memiliki dua steel pakaian, baju-celana-sarung Hinga akhir hayatnya Saat menjadi anggota MPR pun tidak mau mengunakan fasilitas negara yang tersedia. Sebagai pendiri NU, Kiai Abdul Chalim adalah satu-satunya kiai yang tidak memiliki pondok pesantren. Ketika mengunjungi Kiai Abdul Chalim di Leuwimunding pada 1956, KH Wahab Chasbullah membantu mendirikan pondok. Kiai Abdul Chalim pun seolah bernazar. “Nanti anak saya akan mempunyai pondok pesantren yang besar.”
Biografi KH. Abdul Chalim tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Umum Pergunu/Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MA yang merupakan putera KH Abdul Chalim saat menjadi keynote speaker atau pembicara utama pada acara Seminar Nasional tentang ‘Pengusungan KH. Abdul Chalim sebagai Pahlawan Nasional’, di Ruang Delegasi, Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen.
Sedangkan Narasumber pada kesempatan ini yakni Prof Dr Reiza D Dienaputra (Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran). Lalu, Prof Dr H Abdul Halim, M.Ag (Guru Besar Sosiologi Politik UNISA Surabaya) dan KH As’ad Said Ali (Dewan Penasehat Pengurus Pusat Pergunu). Sementara Achmaf Zuhri M.I.Kom, wakil Ketua Umum Pergunu dan Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijogo, Yogyakarata bertindak sebagai moderarator.
Hadir juga sebagai peserta sekitar 280 orang dari berbagai kalangan, antara lain anggota PERGUNU perwakilan beberapa daerah, perwakilan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI), Ikatan Guru Indonesia (IGI) dan Tim Peneliti, Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD).
Wakil Ketua MPR, Yandri Susanto menyebut KH Abdul Chalim merupakan sosok yang komplit, ulama multitalenta. Salah satu pendiri Nahdhadtul Ulama (NU) pada tahun 1926 itu juga seorang pendidik, pejuang dan politisi ulung yang berkontribusi membangun bangsa Indonesia.
“Beliau pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) tahun 1955. Tidak banyak orang yang se-komplit KH Abdul Chalim,” kata Yandri, saat membuka Seminar Nasional Pengusungan KH Abdul Chalim sebagai Pahlawan Nasional. Dalam acara Seminar Nasional, di komplek parlemen, Jakarta, Selasa, 18/4/2023.
Dengan sederet kontribusinya bagi bangsa ini, kata Yandri, KH Abdul Chalim merupakan sosok yang layak untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional. Tidak ada alasan apapun untuk tidak menjadikan Kyai kharismatik asal Majalengka, Jawa Barat itu sebagai Pahlawan Nasional.
“Saya punya kewajiban moral untuk mengangkat nama besar KH Abdul Chalim baik di panggung nasional maupun internasional,” kata Yandri.
KH. Abdul Chalim melampaui batas-batas dinamika perjuangan di Indonesia dan tidak menyerah melalui masa-masa sulit baik saat menuntut ilmu di berbagai daerah. Ia pun pernah belajar ilmu agama kepada banyak kiai di berbagai pondok pesantren dan kemudian mengajarkan kepada seluruh lapisan masyarakat.
Menurutnya, beliau menimba ilmu ke Arab Saudi dengan susah payah. Pergi mencari ilmu dari Majalengka ke Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan cara berjalan kaki. Dan buah dari keperihatinan itu menghasilkan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara ini, termasuk membantu berdirinya ormas NU.
Pada 22 Oktober 1945, KH. Abdul Chalim turut bergerak mengumpulkan massa untuk berperang menentang kembalinya penjajahan Belanda dan sekutu di Surabaya, Jawa Timur. Penggalangan massa itu dijalankan sesuai dengan arahan ulama NU KH Hasyim Asy’ari yang mengumandangkan resolusi jihad.
“Untuk itu, bangsa Indonesia harus meneruskan semua perjuangan yang pernah dilaluinya dengan mengangkatnya menjadi pahlawan nasional. Agar menjadi spirit bagi anak bangsa untuk meneruskan perjungan beliau di masa sekarang,” ujarnya.
Ketua MPR itu mengatakan KH. Abdul Chalim bersama KH Abdul Wahab Hasbullah berjasa besar terhadap berdirinya organisasi NU. Saat itu, KH Abdul Cahlim menjabat Sekretaris I NU di masa kepemimpinan KH Abdul Wahab Hasbullah. Berkat campur tangan KH. Abdul Chalim pula, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) juga berhasil didirikan, bahkan bisa berkiprah hingga sekarang.
Menurut Yandri, KH. Abdul Chalim juga telah memberi contoh bahwa santri dan ulama tidak menghindari panggilan dunia politik. Dengan menjadi anggota legislatif kita berkontribusi secara maksimal membangun bangsa.
Wakil Ketua MPR RI itu mengungkapkan bahwa perjalanan sejarah hidup seorang pejuang sekaligus ulama dan politisi KH. Abdul Chalim, bisa menjadi literasi anak bangsa bahwa ada seorang sosok tokoh besar Indonesia yang mungkin selama ini belum terlihat kepermukaan, sehingga perlu diangkat sebagai pahlawan nasional.
Ketika, beliau sudah menjadi pahlawan nasional maka diharapkan anak-anak bangsa terutama generasi muda, akan lebih mengenal siapa KH. Abdul Chalim itu. Dan mudah-mudahan perjalanan hidup beliau, akan menjadi inspirasi dan motivasi serta diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa poin menarik yang membuat KH.Abdul Chalim layak diangkat menjadi sosok penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, antara lain beliau adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), lalu saat Resolusi Jihad berkumandang beliau terlibat aktif mengumpulkan para ulama, kemudian bersama rakyat bahu membahu melawan penjajah di Surabaya.
“Itulah sebabnya mengapa saya, ikut andil dalam pengusungan KH. Abdul Chalim mendapatkan gelar sebagai pahlawan nasional. Semoga dengan dukungan rakyat, jalan ke arah itu akan semakin mudah dan lancar,” pungkasnya.
Di tempat yang sama KH. As’ad Said Ali mengatakan KH. Wahab Hasbullah dan KH. Abdul Chalim Merupakan Dwi Tunggal, Dan KH. Wahab Hasbullah dan KH. Abdul Chalim merupakan tokoh Nahdlatul Ulama yang berkontribusi besar terhadap lahirnya organisasi keagamaan terbesar di dunia yaitu NU. Keduanya merupakan dwi tunggal karena di masa awal berdirinya Nahdlatul Ulama keduanya terus berkomunikasi dan berkordinasi untuk membentuk organisasi keagamaan yang sekarang dikenal dengan NU.
Keduanya dalam ikut serta merintis kemerdekaan Indonesia juga membuka kursus kebangsaan, dan berjalan sampai tujuh angkatan di mana setiap angkatan terdiri dari 60 anak muda putra para kiai NU.
Ketika terjadi konggres umat Islam yang di mana isi konggres menghendaki mengadopsi sistem hkilafah maka KH. Wajab Hasbullah dan KH. Asnawi Kudus yang mewakili NU keluar dari konggres dan kemudian disusul oleh Muhammadiyah.
Strategi para kiai NU memutuskan untuk tidak mengadopsi sisyem hkilafah merupakan cara agar umat Islam tidak terus menerus dijajah oleh bangsa lain. Dan munculah gagasan negara bangsa yang akhirnya mewujud menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita kenal sekarang.
KH. As’ad, melanjutkan, para ulama Nahdlatul Ulama saat menimba ilmu di Timur Tengah banyak terpengaruh oleh pemikiran Al-Gozali. Menurut Al-Gozali Agama dan Negara bagaikan saudara kembar. Maka Agama dan Negara jangan sampai dibenturkan satu sama lain. Dan sebaiknya antara Agama dan Negara saling mengisi. Pengaruh pemikiran Al-Gozali itulah yang menghasilkan model Islam yang moderat yang saat ini banyak dianut oleh para kiai dan santri NU, serta mayoritas masyarakat Indonesia. Islam moderat dan negara Indonesia harus terus saling mengisi untuk mewujudkan peradaban Indonesia yang luhur.
Sejarah NU dimulai ketika kalangan pesantren gigih melawan kolonialisme dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916.
Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Selanjutnya didirikanlah Nahdlatut Tujjar (Pergerakan Kaum Saudagar) yang dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat.
Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
Kemudian, saat Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab wahabi di Mekah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap bid`ah. Maka terjadilah pro dan kontra. Kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban.
Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH Wahab Hasbullah.
Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya hingga saat ini di Mekah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing.
Kemudian, muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy`ari sebagi Rais Akbar.
“Untuk menegaskan prinsip dasar organisasi ini, maka KH Hasyim Asy`ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I`tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU, yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik,” pungkas mantan Waka-BIN dan merupakan Dewan Penasehat Pergunu, saat menjadi narasumber dalam seminar nasional pengusulan gelar pahlawan kepada KH. Abdul Chalim.
Cucu dari KH. Abdul Chalim yang sekarang menjabat sebagai Wakil Bupati Mojokerto, Muhammad Al-Bara dalam seminar nasional pengusulan gelar pahlawan KH. Abdul Chalim tersebut memaparkan, para Kyai dan Santri dalam Merebut Kemerdekaan adalah Fakta Sejarah. Wakil Bupati Mojokerto menjelaskan Sebelum Indonesia merdeka memang kondisi kehidupan masyarakat sangat miskin, tidak memiliki senjata dan sulit bersatu karena penjajah saat itu menggunakan setrategi pecah belah untuk melemahkan pergerakan para pejuang. Para Kyai dan santri pada saat itu merupakan komponen masyarakan yang paling bersemangat mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Maka kontribusi para kiai dan santri dalam merebut kemerdekaan merupakan fakta sejarah.
Menurutnya pada saat itu para kyai selalu menanamkan cinta pada tanah air. Dampaknya semangat para santri dalam berjuang merebut kemerdekasn dari penjajah tidak bisa dibendung lagi.
Sayangnya setelah Indonesia merdeka para santri dan para kyai kembali ke pesantren untuk berhidmah dalan ilmu pengetahuan kembali. Dan pada saat itu belum banyak para kyai dan santri yang mencatat perjuangan mereka dalam berjuang merebut kemerdekaan. Akibatnya banyak kontribusi para kyai dan santri dalam merebut kemerdekaan tidak masuk dalam catatan sejarah. Hal ini bisa dilihat minimnya catatan sejarah KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Chasbullah dan KH. Abdul Chalim.
Bukti perjuangan KH. Abdul Chalim dalam membidani berdirinya Nahdlatul Ulama dan perjuangan merebut kemerdekaan bisa dilacak dalam tulisan-tulisan yang masih ada sampai sekarang di mana tulisan-tulisan tersebut bersetempel NU,” jelas Gus Bara, waktu berbicara di acara seminar nasional pengusulan KH. Abdul Chalim sebagai pahlawan nasional.
Menurut Gus Bara, KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah keduanya merupakan tokoh sentral berdirinya NU yang hari ini merupakan organisasi keagamaan terbesar di dunia. Keduanya juga telah berkontribusi besar dan nyata dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Lalu di mana peran KH. Abdul Chalim ? Beliau berperan sebagai komunikator antara KH. Hasyim Asy’ari denga KH. Wahab Hasbullah. Itu artinya peran KH. Abdul Chalim dalam kelahiran NU dan kemerdekaan Indonesia sangat besar. KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah telah dianugrahi gelar pahlawan oleh negara. Dengan demikian selayaknya KH. Abdul Chalim mendapat gelar pahlawan. Dan proses pengusulanya sedang berjalan, semoga KH. Abdul Chalim segera dianugrahi gelar pahlawan nasional.
Di kesempatan yang sama, Guru Besar UINSA Surabaya, Dr H. Abdul Halim, M.Ag menyampaikan, pemikiran KH. Abdul Chalim sangat dipengaruhi oleh alam pikiran Al-Gozali. Hal ini terjadi mungkin ketika beliau menuntut ilmu di makah banyak mengakses kitab-kitab karangan Al-Gozali diantaranya kitab Ihya Ulumudin. Bisa dilihat di manapun beliau berada selalu membawa Kitab Ihya ulimudin karangan Al-Gozali. Jadi kitab inilah rupanya yang banyak mewarnai dalam perjalanan beliu baik ketika menjadi politisi, berorganesasi di NU, dan saat ikut berjuang merintis kemerdekaan. Dan sampai menjelang akhir hayatnya beliau dalam keadaan membuka kitab Ihya Ulumudin.
“KH. Abdul Chalim di era kemerdekaan pernah menjabat sebagai anggota DPR GR MPRS. Dalam berpolitik beliau menggunakan filosofi udara yang bisa masuk kemana-mana. Hal itu beliau praktekkan ketika Bungkarno membuat konsep ‘NASAKOM’ KH. Abdul Chalim masuk di dalamnya sembari berkata, “kalau sumpek ya keluar” kata Guru Besar Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut ketika menjdi nata sumrber dalam seminar nasional pengusulan gelar pahlawan kepada KH. Abdul Chalim yang diadakan di komplek parlemen.
Menurut Prof. DR. Abdul Halim. M.Ag, KH. Abdul Chalim merupakan ulama yang luar biasa dan unik karena pada saat itu sebelum Indonesia merdeka tepatnya tahun 1928 beliau sudah mampu menuangkan pemikiranya dalam bentuk tulisan. Tulisan-tulisanya banyak dipublikasikan di koran suara NU karena kebetulan beliau menjadi redaktur di media tersebut. Selain itu beliau juga mengelola rubrik tanya jawab suara NU. Contoh hasil tulisanya yang asli sangat terkenal adalah tentang sebuah negara akan menjadi adil dan makmur kalau negara tersebut ditopang oleh ulama, umaro, tentara, aparatur sipil negara yang baik dan banyak orang kaya yang dermawan.
Sementara, Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Pajajaran;
Prof. DR. D. Reiza Dienaputra M.Hum, menjelaskan, berdirinya Negara Kesatuan Ripublik Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran penting para ulama dan santru. Merekalah yang berkontribusi nyata dalam merebut kemerdekaan dari penjajah yang sudah lama menjajah bumi pertiwi. Banyak para pendiri bangsa dari kalangan ulama yang namanya tidak asing lagi seperti: Wahid Hasyim, Bungkarno, Kasman Singodimejo, Ki Bagus Hadikusumo, dan Tengku Muhammad Hasan. Merekalah yang melakukan dialog dan mengkonsep bentuk Negara Kesatuan Ripublik Indonesia yang merdeka.
Sebelum merdeka dan pasca kemerdekaan NU merupakan organesasi keagamaan yang memiliki kontribusi besar terhadap bangsa Indonesia. Ada tiga tokoh yang begitu inten dalam kelahiran NU yang saat ini merupakan organesasi terbesar di dunia. Mereka adalah : KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah dan KH. Abdul Chalim. Bahkan mereka merupakan sentral dari lahirnya Nahdlatul Ulama.
Karena jasa para ulama dan santri Negara Kesatuan Republik Indonesia lahir. Untuk itu mestinya para santri dan ulama saat ini sebagai pewaris para ulama bisa mendapatkan pemahaman yang baik tentang fakta sejarah perjuangan para ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan. Sehingga generasi muda dan pada umumnya bangsa Indonesia tidak amnesia terhadap sejarah perjuangan bangsanya.
Tokoh dari tanah pasundan KH. Abdul Chalim diketahui sangat besar jasanya dalam kelahiran organisasi Nahdlatul Ulama dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sudah layak KH. Abdul Chalim mendapatkan gelar pahlawan nasional. Dan saat ini sedang dalam proses pengusulan gelar pahlawan nasional tersebut.
“Dalam pengusulan gelar pahlawan nasional KH. Abdul Chalim perlu disiapkan dokumen pendukung yang berupa fakta-fakta sejarah yang akurat. Jika dalam proses pengusulan KH. Abdul Chalim sebagai pahlawan nasional tidak dilengkapi dengan dokumen dan fakta sejarah yang akurat bisa jadi gagal ditengah jalan. Perlu dipahami dokumen dan fakta sejarah tersebut akan diteliti oleh tim peneliti yang independen dan memiliki otoritas di bidangnya,” tegas Reiza dalam penjelasanya ketika menjadi nara sumber seminar nasional pengusulan gelar pahlawan kepada KH. Abdul Chalim.
Menurut Prof. DR. D. Reiza Dienaputra M.Hum ada empat langkah aktivasi yang harus dilakukan dalam mengusulkan KH. Abdul Chalim sebaga pahlawan nasional. Langkah yang pertama harus dilakukan rekontruksi sejarah KH. Abdul Chalim secara lengkap. Langkah yang kedua kiprah KH. Abdul Chalim terhadap bangsa dan NKRI harus diperkuat dengan fakta-fakta sejarah yang akurat. Langkah yang ketiga yaitu menggali sumber-sumber sejarah KH. Abdul Chalim secara koprehensif. Dan langkah yang keempat adalah berusaha membangun argumentasi dan explanasi yang baik. (Tim-Red)












