Berita  

Halaqoh Pemikiran KH. Abdul Chalim Leuwimunding

Jakarta – Ketua Pergunu Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim M.Ag menggelar halaqoh pemikiran KH. Abdul Chalim di Hotel Sufyan tepatnya Rabu, 10/5/2023. Hadir dalam acara tersebut sekitar 200 anggota pergunu Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

KH. Asep Saifuddin Chalim menjelaskan bahwa ayahnya KH. Abdul Chalim pada masa tuanya selalu uzlah di mushola.

Ayahnya memberi amanah agar selalu membaca surat yasin. KH. Asep menceritakan ayahnya selalu membaca surat yasin ketika menjelang tidur dan membaca surat waqiah dalam setiap perjalanan.

“Ayah saya, KH. Abdul Chalim pernah mengijazahkan hizbul kahfi kepada saya. Dulu hizbul kahfi sering dibaca di pesantren Jombang,” kata KH. Asep.

Menurut KH. Asep, ayahnya gak pernah sakit. Saat menjelang ajalnya KH. Abdul Chalim sempat mengumpulkan keluarganya. Saat itulah ditemukan kitab ikhya ulumudin karangan imam Al-gozali berada ditanganya.

Dr. Ginanjar, seorang sejarawan dalam kesempatan tersebut mengatakan banyak tokoh besar NU yang tidak banyak dikenal karena minimnya literasi tentang tokoh-tokoh tersebut termasuk KH. Abdul Chalim.

KH. Abdul Chalim memiliki jaringan keilmuan yang banyak saat mencari ilmu di Mekah. Salah satu guru KH. Abdul Chalim adalah adalah ahli fiqih dan ahli hadist terbesar pada zamanya yaitu :Syeh Mahfud Tremas. Selain berguru kepada Syeh Mahfud KH. Abdul Chalim juga berguru kepada KH. Nawawi Banten.

Sepengetahuan, Ginanjar, KH. Abdul Chalim sempat mengarang sejarah berdirinya NU dalam bentuk nidlom

“KH. Abdul Chalim pernah menjabat administrator organesasi taswirul afkar dan nahdlatul wathon yang merupakan organesasi yang didirikan para tokoh NU,” katanya.

Ginanjar menjelaskan NU didirikan bukan untuk menanding organesasi islam modernis tapi NU didirikan untuk merespon geopolitik dunia islam yang sedang mengalami keruntuhan pafa saat itu.

Sementara, Cholid Ridwan sebagai seorang penulis tentang KH. Abdul Chalim menyampaikan bahwa KH. Abdul Chalim merupakan seorang perintis pendidikan yang kreatif dan inovatif.

“Pendidikan sangat berperan besar dalam mensukseskan perebutan kemerdekaan selain mengangkat senjata,” kata KH. Abdul Chalim seperti yang disampaikan oleh cholid Ridwan dalam halaqoh tersebut.

KH. As’ad Said Ali mengatakan pentingnya gelar pahlawan bagi pendiri NU dan pejuang kemerdekaan. Karena hal itu akan menjadi bukti sejarah.

“Perlu menggali narasi berdirinya NU dan
Melestarikan nilai nilai pendiri dan pejuang kemerdekaan agar generasi muda tidak melupakan sejarah,” kata mantan Waka-BIN tersebut saat menjadi nara sumber Halakoh Pemikiran KH. Abdul Chalim (Red 01)