Banyak pandangan yang mengatakan bahwa kegiatan menghafal dalam pembelajaran merupakan sesuatu yang membelenggu peserta didik.
Meminjam istilah Paulo Freire, model pendidikan seperti ini merupakan konsep pendidikan yang mengadopsi gaya bank atau bangking concept of education. Pendidikan ‘gaya bank’ menjadikan peserta didik untuk sekedar hafal-hafalan tanpa mengenal secara kritis realias di sekitarnya.
Hal ini kemudian menyebabkan pendidikan kehilangan nilai subtansialnya yaitu sebagai wahana pembebasan dari kungkungan sistem sosial yang tidak adil dan hegemonik.
Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya benar. Nyatanya, banyak materi-materi pembelajaran yang bukan hanya sekedar dipahami melainkan harus dihafal. Jadi menghafal materi pembelajaran dalam hal ini merupakan sebuah keniscayaan.
Pada tataran ini agar praktek menghafal tidak dicap sebagai pendidikan ‘gaya bank’, salah satu solusinya ialah guru harus kreatif menggunakan teknik pembelajaran. Salah satu teknik pembelajaran untuk meringankan hafalan siswa ialah dengan mnemonic tipe akrostik.
Pengertian Mnemonic Tipe Akrostik?
Mnemonic tipe akrostik merupakan metode menyampaikan materi pembelajaran dengan cara membuat singkatan pada huruf pertama atau selainnya menjadi sebuah frasa atau kata.
Metode ini juga menggunakan kata kunci untuk membuat konsep abstrak menjadi lebih kongkrit sehingga lebih mudah dan cepat diingat.
Cukup Membuat Singkatan
Dalam prakteknya, penerapan metode mnemonic tipe akrostik ini sangat mudah. Guru hanya dituntut untuk membuat sebuah singkatan terkait materi yang dipelajari.
Misalnya, ketika mempelajari 7 warna pelangi, guru cukup membuat singkatan pada suku katanya.
Contohnya, singkatan MEJIKU HIBINIU, akan mempermudah peserta didik menghafal warna-warna pelangi, yakni Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru Nila dan Ungu.
Contoh lain, dalam pelajaran PAI untuk memudahkan menghafal huruf Qalqalah disingkat BAJUDITOQO untuk mengingat huruf-huruf qalqalah: ba, jim, dal, tha dan qaf. Untuk mendefinisikan klorofil, kitab dapat membuat singkatan semisal ZAHID: Zat Hijau Daun.
Hal di atas hanya sekedar contoh dan tentunya masih banyak materi-materi pelajaran lainnya untu
Meringankan Beban Hafalan Peserta Didik dan Tidak Memerlukan Kemampuan IT
Kreasi singkatan-singkatan tersebut dapat meringankan beban hafalan peserta didik. Peserta didik tidak diharuskan menghafal seluruh kata, namun hanya dituntut mengingat salah satu suku katanya saja yang sudah terintegrasi menjadi singkatan yang mudah diingat.
Pada dasarnya, penerapan teknik mnemonic akristik ini tidak serumit yang dibayangkan. Bahkan, dalam prakteknya tidak membutuhkan peralatan canggih serta kemampuan IT yang memadai.
Guru hanya dituntut kreatif membuat singkatan-singkatan terkait materi yang sedang dipelajari. Namun, akan lebih baik lagi jika dalam membuat singkatan-singkatan tersebut dengan kata-kata yang sudah akrab di telinga kita.
Metode Mnenomic Jarang Digunakan
Meskipun penerapan teknik ini mudah dan terbukti berhasil mempermudah dan mempercepat hafalan peserta didik, namun dewasa ini teknik ini kurang populer. Bahkan bukan hanya itu saja, teknik ini sudah dilupakan para guru dalam mengajar.
Padahal, pada materi-materi tertentu, ada peserta didik tidak cukup hanya memahami, akan tetapi harus juga menghafalnya.
Fakta metode ini telah dikesampingkan dan bahkan dipulakan yakni bahwa penerapan dan diskursus tentang hal ini masih kalah dengan teknik pembelajaran lainnya semisal index card match, card short, problem solving, problem based learning dan lain-lain.
Kelemahan-kelemahan Metode Mnemonic
Tidak satupun teknik pembelajaran yang tidak memiliki kelemahan. Teknik menemonic tipe acrostik ini juga memiliki kelemahan-kelemahan, di antaranya: tidak dapat diterapkan pada semua materi pembelajaran dan kesulitan membuat singkatan-singkatan menjadi kata-kata yang sudah akrab di telinga kita.
Meskipun demikian, teknik ini terbukti dapat memudahkan dan mempercepat hafalan peserta didik.
Penulis: Saefudin, S.Pd.SD (Guru SD Negeri Sindangsari 02 Kec. Majenang Kab. Cilacap)












