Berita  

ALM KH ABUN BUNYAMIN ILYAS RUHIYAT

Jakarta – KH. As’ad Said Ali menceritakan lima tahun lalu bulan November bersama Wakil Retktor UPI, Prof Didik bersilaturahmi ke KH Abun Bunyamin bin KH Ilyas Ruhiyat. Dua hari lalu ( 2022 ) beliau mendahului kita semua انالله وانااليه راجعون , Semoga amal ibadahnya di terima oleh Alllah swt dan segala dosanya diampuni.

Ciri khas beliau, setiap saya berkunjung selalu dijamu rebusan kaki sapi / kerbau dan harus habis. Untuk menghormati tuan rumah saya habiskan karena memang lezat. Sebenarnya saya dilarang dokter makan kaki sapi, tetapi demi menghormati tuan rumah dan adat , saya melanggar aturan dokter.

“Seingat saya , kunjungan itu terkait dengan PERGUNU, khususnya memperkuatnya eksistensinya di daerah Jawa  Barat. Jenis kegiatan yang dilakukan adalah penbinaan para guru NU lewat

upgrade para guru dan memberikan sertifikasi bekerjasama dengan UPI ,sehingga bisa menambah keahlian dan sekaligus penghasilannya,” kata mantan Waka-BIN tersebut kepada awak media melalui keterangan, Minggu, 20/11/22.

“Pikiran saya mengembara ke masa lalu pada era Orde Baru. Muktamar NU di Cipasung pada 1993 menjadi momen historis

“ tekanan politik pemerintah terhadap NU “ dalam bentuk upaya pemerintah untuk menggagalkan pencalonan Gus Dur. Upaya itu gagal dan muktamar Cipasung menjadi tinta emas perjuangan warga NU dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Kritik atau koreksi terhadap kebijakan pemerintah secara damai jangan diartikan bughot ( pemberontakan ) tetapi lebih tepat sebagai bagian dari amar ma’ ruf dan nahi munkar” tambahnya.

Ia melanjutkan ketika itu KH Abun Bunyamin Ruhiyat masih berusia 64 tahun dan ketika saya berkunjung tidak banyak mengungkap apa yang beliau ketahui, mungkin tidak mau menonjolkan diri sesuai dengan ciri para ulama Nu yang sesuai dengan nilai akhlakul Karimah. Kalimat kalimat yang beliau pilih juga kalimat yang tidak bombastis dan tidak sarkastis, tetapi kalimat halus dan indah kalau dirasakan.

Menurutnya almarhum seumurnya  hanya sebulan lebih tua. Hidup dan mati urusan Allah semata dan bagi kita yang hidup tidak ada tekad lain kecuali meneruskan perjuangan  para pemimpin yang mendahului kita dan tetap menjaga persatuan.

Ia tulis cerita singkat tentang Pesantren Cipasung ini di Banyuwangi setelah kunjungan malam ke pesantren Ad Dzikra yang dipimpin oleh Kyai Dr Ir H Wahyudi SH. Kunjungan ke Banyuwangi itu juga dalam rangka mengenang tragedi tewasnya sejumlah suhada NU pada masa lalu yang juga tidak terlepas perjuangan menegakkan keadilan dan kebenaran. (Red 01)