Berita  

King Dolar Amerika Serikat Alami Keruntuhan Akibat Dedolarisasi

Jakarta – Status dolar Amerika Serikat (AS) sebagai raja mata uang terus tergerus. Semenjak perang Rusia – Ukraina pecah, dedolarisasi atau pengurangan penggunaan dolar AS menjadi semakin semarak.

Hal itu diungkapkan oleh Stephen Jen, CEO dan co-CIO Eurizon SLJ Capital, yang melihat pangsa dolar AS di cadangan devisa global 2022 anjlok 10 kali lebih cepat dari rata-rata dalam 20 tahun terakhir.

“Dolar AS menderita keruntuhan yang menakjubkan pada 2022 dalam pangsanya sebagai mata uang cadangan devisa, mungkin karena penerapan sanksi yang sangat tegas (ke Rusia)” tulis Jen, Rabu 19/4/23.

Akibat dari perang dengan Ukraina, Amerika Serikat dan sekutunya membekukan cadangan devisa bank sentral Rusia yang ditempatkan di luar negeri.

Banyak yang melihat dolar AS bisa menjadi senjata bagi Amerika Serikat guna menekan negara lain. Dedolarisasi pun semakin masif terjadi.

Berdasarkan perhitungan Jen, pangsa dolar AS di cadangan devisa global pada 2001 mencapai 73%, kemudian turun menjadi 55% pada 2021. Tetapi, pada 2022, hanya dalam tempo satu tahun pangsanya anjlok menjadi 47%.

Melihat data Currency Composition of Official Foreign Exchange Reserve (COVER) dari IMF, nilai dolar AS dalam cadangan devisa global memang mengalami penurunan drastis.

Pada kuartal IV-2021, nilainya mencapai US$ 7.085,01 miliar, sementara pada kuartal IV-2022 sebesar US$ 6.471,28 miliar.

Pangsa pasarnya, pada 2021 sebesar 54,8%, sedangkan pada 2022 turun menjadi 54%.

Perhitungan pangsa yang digunakan Jen mungkin berbeda dengan laporan COFER IMF. Tetapi dedolarisasi memang sedang sangat marak, China menjadi motor utamanya.

China merupakan eksportir terbesar kedua di dunia, berdasarkan data dari International Trade Center pada 2022 nilainya mencapai US$ 3,6 triliun. Nilai tersebut jauh di atas Amerika Serikat sebesar US$ 2,1 triliun.

Maka tidak salah jika China terus berusaha mendorong yuan menjadi mata uang internasional.

Presiden China, Xi saat berkunjung ke Riyadh Desember lalu mengatakan China dan negara-negara Teluk Arab seharusnya menggunakan Shanghai Petroleum and Natural Gas Exchange sebagai platform menyelesaikan transaksi minyak dan gas.

“China akan terus mengimpor minyak mentah dalam jumlah besar dari negara-negara Arab, memperbanyak impor LNG, memperkuat kerjasama pengembangan hulu minyak dan gas, layanan teknik, penyimpanan, transportasi, dan penyulingan serta memanfaatkan sepenuhnya Shanghai Petroleum and National Gas Exchange sebagai platform settlement perdagangan minyak dan gas dengan menggunakan yuan,” kata XI pada Desember 2022 lalu.

Upaya tersebut pun mulai menunjukkan hasil. China kini juga bertransaksi dengan menggunakan yuan dalam perdagangan liquefied natural gas (LNG) dengan Uni Emirat Arab.

Indonesia Salah Satu Negara yang sudah Melakukan Dedolarisasi

Fenomena dedolarisasi kini terjadi di sejumlah negara. Beberapa negeri kini genjot menggunakan mata yang masing-masing, alih-alih dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi perdagangannya.
Hal ini membuat Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo buka suara. Ia mengakui bahwa saat ini Indonesia termasuk salah satu negara yang sudah mulai untuk meninggalkan greenback.

Perry menjelaskan, transaksi dengan negara mitra dagang dan investasi menggunakan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT). Ini merupakan salah satu upaya Indonesia dalam melakukan dedolarisasi.

“Indonesia kan sudah mulai menggagas diversifikasi penggunaan mata uang, yaitu dalam bentuk LCT itu adalah yang kita sebut diversifikasi,” jelas Perry dalam konferensi pers kemarin, Rabu 19/4/23.

“Nah ini kata dasarnya dedolarisasi, artinya menggunakan mata uang selain dolar kan,” kata Perry.

Menurutnya, bahkan negara-negara anggota ASEAN juga sudah menyepakati untuk melakukan kerjasama pembayaran lintas batas atau cross border payment.

Perry menjelaskan, LCT merupakan instrumen transaksi antar negara menggunakan mata uang lokal, dalam penyelesaian transaksi perdagangan maupun investasi.

Dengan demikian, kata Perry Indonesia dan negara bilateral tidak perlu untuk membentuk mata uang baru. Apalagi seperti BRICS (Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan), yang melakukan hal sama.

LCT sebetulnya arahnya sama, bahkan di ASEAN lebih konkret sudah melakukan. Indonesia jauh lebih konkret, tidak hanya dengan ASEAN, tapi juga dengan Jepang dan Tiongkok,” ucap Perry.

Berdasar data CNBC Indonesia, sejak 2018 Indonesia sudah melakukan kerja sama dengan negara mitra dagang dan investasi untuk melakukan aksi dedolarisasi alias ‘buang dolar’, dengan Malaysia dan Thailand. Di 2021 implementasinya meluas menjadi empat negara, dengan tambahan Jepang dan China.

Sebenarnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga pernah menyatakan dukungannya agar Indonesia dengan negara bilateral, bisa melakukan transaksi tanpa menggunakan dolar AS. Sama dengan Perry ini mengarah ke LCS.

Sri Mulyani memandang, LCS penting dalam mendorong pemulihan ekonomi. Apalagi ketika banyak ketidakpastian dari global.

Sri Mulyani melihat LCS di jalur keuangan merupakan exit strategy untuk mendukung pemulihan, diharapkan stabilitas makro akan semakin kuat dan berkelanjutan, tidak hanya masing-masing negara tetapi secara global.

“Tujuan LCS untuk mengurangi hubungan dalam satu mata uang tunggal terutama dolar AS. Hal ini diharapkan semakin stabilnya hubungan perdagangan dan investasi antar negara termasuk Indonesia dengan negara ASEAN,” Pungkas Sri Mulyani. (Red 01)