Berita  

Melawan PKI di Kampung Sendiri: Kesaksian KH. As’ad Said Ali

Jakarta – KH. As’ad Said Ali, mantan wakil ketua, mengisahkan pengalaman pahitnya dalam menghadapi pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dikenal dengan Gerakan Tiga Puluh September (G-30-S/PKI). Peristiwa yang mengguncang Indonesia ini terjadi saat beliau masih duduk di bangku kelas satu SMA Negeri Kudus.

Sebagai anggota Ansor, KH. As’ad mengenang bagaimana setelah meletusnya G-30-S/PKI, ia bergabung dengan Banser yang berseragam hitam. Dalam beberapa bulan itu, dia terlibat aktif dalam pengamanan lingkungan, berkoordinasi dengan Bintara Onder Districk Militer (BODM) atau Koramil setempat.

Menariknya, tiga bulan sebelum peristiwa tersebut, ayahnya menerima pesan dari Kyai H. Hamid, seorang sufi terkenal dari Pasuruan, yang memperingatkan akan “banjir darah” dan meminta agar kader Nahdlatul Ulama (NU) dipersiapkan. Pesan ini menggerakkan para kyai di daerahnya untuk mengundang instruktur dari Jawa Timur, demi memperkuat anggota Ansor dan Banser.

Setahun kemudian, di akhir 1965, KH. As’ad dan teman-teman SMA bergabung dengan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI). Kegiatan utama mereka adalah unjuk rasa anti-PKI dan pengamanan malam hari. Semangatnya untuk melawan PKI semakin berkobar setelah pengalamannya ketika anggota PKI mencoba merampas gula merah hasil produksi keluarganya, yang berakhir dengan perlawanan dari ayahnya dan warga kampung.

Ayah KH. As’ad, seorang petani dan pengusaha gula merah, dikenal disegani di kalangan tetangga dan pejabat kecamatan. Dalam menghadapi ancaman dari Pemuda Rakyat dan PKI, masjid menjadi pusat komando. Warga kampung dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menjaga keamanan, dengan iringan alat musik bambu dan rebana.

“Setelah enam bulan, situasi mulai kondusif setelah banyaknya anggota PKI yang ditangkap. “PKI bergerak dengan kekerasan minus doa,” kata ayah saya. Pengalaman ini menunjukkan bagaimana masyarakat bersatu dan berjuang melawan ancaman ideologi yang merusak,” ungkapnya. 30/9/24.

Kesaksian KH. As’ad Said Ali adalah pengingat akan pentingnya persatuan dan kewaspadaan dalam menghadapi berbagai ancaman, serta bagaimana sejarah membentuk karakter dan identitas masyarakat. (Red 01)