Berita  

Agitasi dan Teror PKI Terhadap Pesantren pada Periode 1963-1965: Kesaksian KH. As’ad Said Ali

Jakarta – Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (Wakabin), KH. As’ad Said Ali, mengenang masa-masa sulit umat Islam pada periode 1963-1965 ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) gencar melakukan agitasi dan propaganda (Agiprop) terhadap kalangan beragama, khususnya umat Islam. Dalam pengakuannya, KH. As’ad yang saat itu masih duduk di bangku SMP aktif mengikuti kelompok pengajian “Al Quran” di Pesantren/Madrasah yang diasuh oleh Kang Ishaq dan Kang Rahmat bin KH. Hambali di Jekulo, Kudus. Selain itu, ia juga mengikuti pengajian di masjid kampungnya, Golan Tepus, yang dipimpin oleh Kyai Ahmadi, seorang alumni Pondok Pesantren Tebuireng.

Menurut KH. As’ad, PKI sering melakukan gangguan dalam berbagai bentuk, termasuk meletakkan bangkai anjing di tempat akan diselenggarakannya pengajian. Untuk mengantisipasi gangguan tersebut, para pengasuh pesantren dan kyai sepakat mengadakan pengajian secara bergilir di berbagai masjid dan pesantren guna memperlihatkan kekuatan massa dan mencegah intimidasi dari pihak PKI. Setiap pengajian selalu dipenuhi oleh jamaah dari berbagai wilayah, yang datang untuk memberi dukungan moril kepada kegiatan keagamaan yang sering kali dihadang oleh provokator PKI.

Selain aksi pengajian secara bergiliran, KH. As’ad dan teman-temannya sesama santri kerap menghadapi gangguan fisik seperti lemparan batu dan hadangan saat pergi dan pulang dari pengajian. Untuk menjaga semangat dan keberanian, mereka melantunkan “Sholawat Badar” dan “Sholawat Asnawiyah” selama perjalanan, membuat mereka tetap tegar meski berada di bawah ancaman.

Setelah berakhirnya tragedi Gerakan 30 September (G-30-S PKI), KH. As’ad mengisahkan bagaimana santri dan pesantren di kampungnya mengambil inisiatif untuk menyantuni anak-anak PKI yang terlantar akibat orang tua mereka ditangkap oleh aparat keamanan. Ia menyebutkan bahwa pesantren, yang dikenal dengan nilai-nilai luhur keislamannya, tetap mengedepankan pendekatan kemanusiaan. Bahkan keluarganya rutin mengirimkan bantuan berupa beras, gula, dan uang kepada keluarga Mukmin, seorang kenalan lama bapaknya, yang ditahan oleh aparat.

“Pesantren dan para santri kala itu meneladani nilai “tego larane, ora tego patine,” yang berarti meskipun sakit hati karena ulah PKI, mereka tidak ingin memutus tali persaudaraan dan tetap membantu sesama. Pendekatan tersebut diyakini sebagai cara efektif untuk mencegah perpecahan lebih lanjut dan menjaga persaudaraan yang telah terjalin erat di masyarakat,’ ungkapnya. 1/10/24.

Peristiwa ini menjadi pengingat betapa pentingnya persatuan di tengah perbedaan pandangan, serta keutamaan nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh pesantren dalam menghadapi masa-masa sulit.(Red 01)