Berita  

Situs Candi Liyangan Temanggung Jejak Peninggalan Peradaban Jawa Kuno Sindoro- Sumbing Noor Hayati

Situs Candi Liyangan, Temanggung: Jejak Peradaban Jawa Kuno yang Terpendam

Temanggung, Jawa Tengah – Situs Candi Liyangan, yang terletak di Desa Ngargosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, mengungkap kisah peradaban Jawa Kuno yang mengagumkan. Terpendam selama berabad-abad di bawah lapisan tanah setebal sembilan meter akibat letusan Gunung Sindoro, situs ini menyingkap kehidupan sosial dan spiritual masyarakat masa lalu di Jawa Tengah.

Situs ini terdiri dari empat halaman bertingkat, masing-masing dengan temuan unik yang menyoroti fungsi dan budaya masyarakat masa lampau. Halaman pertama mengungkap struktur candi utama yang diduga sebagai altar pemujaan. Candi ini memiliki keunikan tersendiri, yakni altar berbentuk yoni persegi panjang dengan tiga lubang, berbeda dengan yoni konvensional yang biasanya hanya memiliki satu lubang. Di sekitarnya terdapat empat batur candi lain yang berjajar dari utara ke selatan, menunjukkan tata letak yang terstruktur.

Pada halaman kedua, situs ini menampilkan bekas fondasi pendopo yang diduga berfungsi sebagai pasar, tempat terjadinya transaksi perdagangan. Temuan pecahan guci dari era Dinasti Tang di area ini memperkuat dugaan adanya aktivitas jual beli, menjadikannya sebagai pusat ekonomi masyarakat setempat pada masa lampau.

Halaman ketiga diisi oleh sebuah candi lain dengan struktur yoni, menekankan simbolisme spiritual yang kuat. Sementara itu, di halaman keempat terdapat patirtaan, atau tempat pemandian, yang dilengkapi dengan jaladwara atau saluran air. Struktur ini berhasil direkonstruksi pada tahun 2014 dan dipercaya sebagai tempat penyucian diri sebelum ritual sembahyang.

Selain struktur candi dan bangunan, salah satu temuan penting di Situs Liyangan adalah fosil padi yang diperkirakan berasal dari abad ke-2 Masehi. Fosil ini berbentuk bulat pendek mirip ketan dan menjadi bukti bahwa masyarakat kuno di kawasan ini sudah mengembangkan pertanian.

Situs ini juga dilengkapi dengan struktur pagar talud yang membujur dari utara ke selatan, di mana susunan batu membentuk jalan kuno yang menghubungkan Candi Liyangan dengan situs Dieng dan Candi Pringapus. Keberadaan jalan kuno ini mengindikasikan jaringan transportasi dan komunikasi yang terhubung di masa lalu.

Secara filosofi, Situs Candi Liyangan mengajarkan nilai pembersihan diri sebelum berdoa, mencerminkan pentingnya penyucian fisik dan rohani. Langkah ini dipercaya sebagai persiapan batin sebelum mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Temuan di Situs Candi Liyangan tidak hanya menambah kekayaan arkeologi di Indonesia, namun juga membuka wawasan baru tentang peradaban kuno Jawa Tengah yang kompleks, mencakup aspek kehidupan profan dan sakral.

Sumber:
1. Wawancara dengan narasumber bapak Budiyono Jupel Candi Liyangan.
2. Peninggalan Arkeologi di Lereng Wukir Susundara Sumving.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.