Berita  

NANA MULYANA : Jiwa Saya Melekat Bertani

Kab. Semarang- Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 (SMK N 1) Bawen awal berdiri di Kota Salatiga pada 1965 dan pada 1990 pindah di Bawen Kabupaten Semarang pada 1990

SMK N 1 Bawen di era 90 an lebih dikenal dengan SMT (Sekolah Menengah Technology) atau masyarakat umum menyebut Sekolah Pertanian. Dalam perkembangannya, kini Sekolah yang memiliki luas 9,8 hektar terdapat 64 ruang dengan jumlah siswa 2.171 memiliki enam jurusan , Yaitu jurusan Agribisnis Pertanian, Peternakan, Hasil Pertanian, Usaha Pertanian, Kuliner dan Perhotelan.

Hari Pendidikan selalu kami gunakan untuk sarana dan momentum untuk menengok proses – proses pendidikan yang telah dilakukan sebagai refeleksi untuk melakukan perbaikan sebagaimana mestinya sekaligus untuk penyelarasan regulasi yang lahir, yang kadang regulasi itu berbeda – beda tapi saya beserta para guru berkomitmen untuk menarik kembali ke filosofi pendidikan.

“Memaknai Hari Pendidikan, kembali ke filosofi yang ditanamkan Ki Hajar Dewantoro yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” demikian sampaikan Kepala Sekolah SMK N 1 Bawen. Nana Mulyana ketika memaknai Hari Pendidikan Nasional (2 Mei)

Di lingkungan sekolah Nana Mulyana selalu menanamkan Kedisiplinan, Kreatif, Produktif baik dengan para guru maupun di tengah anak didik.

Menurutnya, dalam membangun masyarakat di Sekolah ada empat (4) hal yang selalu ditanamkan antara lain, TAARUF atau pengenalan. Jadi jika di lingkungan saling mengenal secara individu, maka berbagai program kegiatan yang dikembangkan oleh sekolahan antar unit berjalan baik.

Yang kedua adalah , TAAWUN. Saling memahami dengan melakukan pendalaman, dan itu tentu bisa dilakukan oleh masyarakat sekolah.

Ketiga, TAAWUN Artinya saling membantu semua orang dengan kesadaran serta membangun kesadaran di internal sekolah antar jurusan.

Dan yang keempat adalah, TAKAFUL. Saling menanggung maka dari kalangan pendidik hingga siswa saling memiliki rasa tanggung jawab, sukses dan tidaknya dalam kegiatan dan pembelajaran. Hal ini semua biasa disampaikan tiap apel pagi di sekolah sebagai penajaman dari satu hingga ke empat hal di atas tadi.

Sementara itu, nama Nana Mulyana hingga mengantongi kariernya sebagai orang nomor wahid di SMK N 1 bukanlah sebuah cita – cita ketika dia duduk di bangku Sekolah Dasar. Ia lahir dari keluarga pas – pasan namun jiwa bertani sudah melekat di benaknya.

” Saya berangkat dari keluarga pas – pasan namun kebetulan rumah di pinggir jalan yang selalu lalu – lalang mobilisasi sayuran maka saya terobsesi ingin menjadi petani yang berdasi” pungkas ayah dari empat anak (Eny/nn)