Wawancara Eksklusif
Wartawan: Redaksi Nasionalnews.co.id
Narasumber: KH. As’ad Said Ali, Mantan Wakil Kepala BIN dan tokoh Nahdlatul Ulama
Wartawan:
KH. As’ad, dalam forum KTT APEC di Korea Selatan, Presiden Prabowo Subianto mengkritik keras model ekonomi dunia yang disebutnya sebagai serakahnomic, yakni sistem ekonomi global yang didorong oleh keserakahan dan hanya menguntungkan segelintir orang. Bagaimana pandangan Anda terhadap pernyataan ini?
KH. As’ad Said Ali:
Saya sangat setuju dengan pandangan Presiden Prabowo. Istilah serakahnomic itu sangat tepat menggambarkan kondisi ekonomi global saat ini. Dunia memang sedang dikendalikan oleh sistem kapitalisme ekstrem yang menempatkan keserakahan sebagai motor penggerak utama. Negara-negara besar, terutama dari blok Barat, selama ini berusaha memonopoli sistem keuangan dan perdagangan dunia. Mereka ingin menentukan harga, sumber daya, dan arah ekonomi global sesuai kepentingan mereka.
Pernyataan Presiden Prabowo adalah bentuk perlawanan intelektual terhadap sistem ekonomi yang timpang ini. Beliau mengingatkan dunia bahwa ekonomi tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi harus berpihak pada keadilan dan keberlanjutan.
Wartawan:
Apakah fenomena serakahnomic ini memang sudah berlangsung lama?
KH. As’ad Said Ali:
Ya, sejak lama. Kalau kita lihat sejarah, dominasi ekonomi Barat sudah dimulai sejak era kolonial. Dulu penjajahan dilakukan dengan kapal dan senjata, sekarang penjajahan dilakukan lewat sistem keuangan dan pasar global. Mereka menggunakan lembaga-lembaga internasional untuk mengatur arus modal, menentukan standar ekonomi, bahkan menekan negara berkembang agar mengikuti sistem mereka.
Jadi, sebenarnya apa yang dikatakan Presiden Prabowo itu bukan sekadar retorika politik, tapi cerminan kesadaran global yang mulai tumbuh — bahwa sistem ekonomi dunia sudah tidak sehat. Dunia sedang mencari model baru yang lebih adil, dan Indonesia bisa menjadi bagian penting dari perubahan itu.
Wartawan:
Presiden Prabowo juga menyinggung soal pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan dan keadilan sosial. Bagaimana Anda melihat hal itu dalam konteks Indonesia?
KH. As’ad Said Ali:
Itu sangat relevan. Pertumbuhan ekonomi tanpa keadilan sosial hanya akan melahirkan ketimpangan dan konflik. Kita bisa lihat, di banyak negara, rakyat kecil semakin terpinggirkan sementara segelintir elit menguasai kekayaan luar biasa.
Presiden Prabowo ingin menegaskan bahwa pembangunan ekonomi Indonesia harus berbasis pada kemandirian nasional, pemerataan, dan nilai-nilai kemanusiaan. Jadi bukan hanya soal angka pertumbuhan, tapi juga soal martabat rakyat. Dalam konteks bangsa kita, ini berarti memperkuat sektor pertanian, industri rakyat, dan ekonomi berbasis sumber daya lokal — bukan bergantung pada utang atau investasi yang merugikan.
Wartawan:
Anda menyebutkan dominasi Barat. Apakah ini sebabnya Indonesia kini berusaha merangkul Tiongkok dan Jepang dalam kemitraan strategis?
KH. As’ad Said Ali:
Betul sekali. Politik luar negeri Indonesia harus cerdas dan seimbang. Sejak dulu, Bung Karno sudah mengingatkan tentang pentingnya politik bebas aktif. Kita tidak boleh hanya condong ke satu blok kekuatan dunia.
Sekarang dunia berubah. Tiongkok dan Jepang menjadi dua kekuatan ekonomi besar di Asia yang bisa menjadi mitra strategis Indonesia. Dengan menjalin kerja sama yang setara dan saling menguntungkan, Indonesia dapat memperkuat posisi tawarnya.
Namun, perlu diingat, merangkul Tiongkok dan Jepang bukan berarti tunduk. Kita harus tetap menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional. Diplomasi ekonomi Indonesia di bawah Presiden Prabowo harus bisa memainkan peran sebagai jembatan antara Timur dan Barat.
Wartawan:
Apakah menurut Anda langkah Presiden Prabowo di forum KTT APEC ini akan membawa dampak diplomatik bagi Indonesia?
KH. As’ad Said Ali:
Saya kira ya, dan dampaknya akan positif. Dunia menghargai pemimpin yang berani berbicara jujur. Kritik Presiden Prabowo terhadap serakahnomic bukan sekadar kritik terhadap Barat, tapi juga peringatan bagi semua negara — termasuk kita sendiri — agar tidak terjebak dalam keserakahan ekonomi.
Indonesia sedang berada di momentum penting. Dunia kini sedang mencari tatanan baru yang lebih adil. Pidato Presiden Prabowo menunjukkan bahwa Indonesia siap memimpin percakapan global tentang keadilan ekonomi dan moralitas pembangunan.
Wartawan:
Sebagai tokoh nasional dan mantan pejabat intelijen, apa pesan Anda bagi generasi muda Indonesia terkait dengan isu ini?
KH. As’ad Said Ali:
Pesan saya sederhana tapi mendasar: jangan hanyut dalam arus materialisme global. Generasi muda harus paham bahwa kekuatan sejati bangsa ini bukan hanya pada kekayaan alam, tapi juga pada nilai moral dan spiritual.
Kita perlu generasi yang sadar, berani berpikir kritis, dan mampu membangun ekonomi berbasis etika. Karena kalau kita hanya mengikuti logika pasar yang serakah, bangsa ini akan kehilangan jiwanya.
Wartawan:
Terakhir, bagaimana Anda melihat arah kepemimpinan Presiden Prabowo dalam konteks global?
KH. As’ad Said Ali:
Saya melihat beliau berani mengambil posisi yang independen dan berpihak pada kepentingan nasional. Beliau memahami geopolitik dunia, tapi juga punya keberanian moral untuk berbicara di forum internasional tentang nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Itu jarang dilakukan pemimpin dunia sekarang.
“Pidato beliau di KTT APEC bukan sekadar diplomasi, tapi refleksi dari visi besar tentang masa depan dunia yang lebih beradab. Dunia memang butuh pemimpin yang tidak tunduk pada sistem serakahnomic, tapi berjuang untuk sistem ekonomi yang berbagi, berkeadilan,” pungkasnya. (Red 01)












