Berita  

Langit Otonom Asia: Strategi Muhammad Wicaksono Membangun Kedaulatan Drone Indonesia dari Korea Selatan

Nasionalnews— Revolusi kendaraan tanpa awak telah memasuki fase baru. Drone kini bukan lagi sekadar alat terbang atau kapal tanpa awak, melainkan simpul strategis dalam jaringan kecerdasan buatan (AI), satelit, sistem data real-time, dan arsitektur pertahanan modern.

Dari laboratorium kampus hingga fasilitas manufaktur berteknologi tinggi di Korea Selatan, transformasi itu berjalan sistematis. Dalam wawancara khusus bersama NasionalNews, Muhammad Wicaksono—Kandidat Doktor (Ph.D. Candidate) di Kumoh National Institute of Technology—menguraikan bagaimana Asia Timur membangun ekosistem drone berbasis AI, serta peluang Indonesia menjadi kekuatan drone maritim dunia.

Drone: Dari Platform ke Sistem Otonom Terintegrasi

Muhammad menjelaskan, perubahan paling mendasar dalam satu dekade terakhir adalah pergeseran paradigma.

“Dulu drone dipandang sebagai platform—alat terbang tanpa pilot yang dikendalikan jarak jauh. Kini drone adalah sistem otonom terintegrasi,” ujarnya.di Jakarta. 17/2/26.

Baik UAV (Unmanned Aerial Vehicle) maupun USV (Unmanned Surface Vehicle) kini bekerja dalam ekosistem yang melibatkan sensor canggih, edge computing, AI berbasis deep learning, jaringan komunikasi satelit, hingga pusat komando berbasis cloud.

Nilai strategisnya bukan lagi sekadar kemampuan terbang atau berlayar, melainkan pada bagaimana data dikumpulkan, diproses, dianalisis, lalu diubah menjadi keputusan. “Kedaulatan teknologi modern terletak pada penguasaan algoritma dan arsitektur sistem,” tegasnya.

Konsistensi Korea Selatan: Riset, Industri, dan Kebijakan Satu Napas

Menurut Muhammad, kekuatan utama Korea Selatan ada pada konsistensi kebijakan dan integrasi riset–industri.

Pemerintah memiliki roadmap teknologi jangka panjang hingga 20–30 tahun, dengan pendanaan R&D yang relatif stabil lintas pemerintahan. Stabilitas ini menciptakan ekosistem inovasi yang matang.

Di kampus seperti Kumoh, kolaborasi dengan industri bukan sekadar formalitas. Penelitian diarahkan pada kebutuhan nyata—mulai dari kontrol otonom, optimasi aerodinamika, hingga sistem navigasi berbasis AI.

“Mahasiswa tidak hanya menulis tesis, tetapi mengembangkan prototipe. Prototipe diuji, disempurnakan, lalu masuk tahap komersialisasi. Rantai inovasi berjalan berkesinambungan,” jelasnya.

Budaya disiplin dan standar kualitas tinggi membuat transisi dari laboratorium ke produksi massal relatif cepat.

Loyal Wingman dan Swarm AI: Wajah Baru Pertahanan

Dalam sektor pertahanan, drone diposisikan sebagai force multiplier atau pengganda kekuatan.

Salah satu konsep kunci adalah loyal wingman—drone pendamping jet tempur seperti KF-21 Boramae. Drone ini dapat menjalankan misi berisiko tinggi seperti pengintaian, pengalihan ancaman radar, hingga dukungan serangan presisi.

Integrasi AI memungkinkan drone beroperasi semi-otonom dalam formasi. Pilot manusia tetap memegang kendali strategis, sementara beban teknis banyak diambil alih sistem cerdas.

Selain itu, pengembangan swarm intelligence—sekumpulan drone yang bergerak sebagai satu entitas kolektif dan berbagi data real-time—juga menjadi fokus utama.

“Ini bukan lagi sains fiksi. Teknologinya sedang diuji dan dikembangkan,” ujarnya.

Indonesia: Fondasi Ada, Konsistensi Jadi Kunci

Bagaimana dengan Indonesia?

Muhammad menilai Indonesia memiliki fondasi awal yang kuat. Program UAV nasional seperti Elang Hitam menunjukkan kapasitas rekayasa dalam negeri.

Sejak era LAPAN yang kini terintegrasi dalam BRIN, riset aeronautika dan sistem tanpa awak telah berkembang lebih dari satu dekade.

“Masalahnya bukan pada kemampuan dasar, tetapi pada konsistensi dan skala produksi. Kita sering memulai dengan semangat besar, tetapi kurang sustain dalam industrialisasi,” katanya.

Peluang Strategis: Kekuatan Drone Maritim Dunia

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki kebutuhan unik.

USV dapat digunakan untuk patroli laut berbiaya rendah, pemantauan perikanan, dan pengawasan wilayah perairan. UAV dapat memetakan jalur pelayaran, memonitor illegal fishing, hingga mendukung operasi pencarian dan penyelamatan.

Jika UAV dan USV terintegrasi dengan sistem satelit dan pusat data nasional, Indonesia berpeluang membangun arsitektur maritim digital yang efisien.

“Ini bukan hanya soal keamanan, tetapi ekonomi biru. Drone dapat mempercepat logistik ke pulau terpencil, menekan biaya distribusi, dan membuka akses ekonomi baru,” jelasnya.

Tantangan: Komponen, SDM, dan Regulasi

Namun tantangan tetap besar.

Pertama, kemandirian komponen. Sensor presisi, chip AI, sistem navigasi, dan modul komunikasi masih bergantung pada impor.

Kedua, kekurangan SDM di bidang AI dan sistem kontrol. Drone modern memerlukan algoritma canggih untuk navigasi otonom, deteksi objek, dan pengambilan keputusan adaptif.

Ketiga, regulasi. Aturan harus adaptif—mendukung inovasi tanpa mengorbankan keselamatan dan keamanan data.

Integrasi Militer–Sipil dan Generasi Muda

Ke depan, batas antara teknologi militer dan sipil akan semakin tipis. Inovasi pertahanan dapat mengalir ke sektor pertanian presisi, energi terbarukan, pengawasan lingkungan, hingga smart city. Sebaliknya, startup sipil dapat memperkaya teknologi pertahanan.

Muhammad juga berpesan kepada generasi muda agar tidak melihat AI sebagai ancaman, melainkan peluang.

Profesi masa depan di sektor ini meliputi:

. Arsitek sistem otonom

. Ahli etika AI

. Analis kebijakan teknologi

. Spesialis keamanan siber

. Visioner industri maritim digital

“Kuasai teknologi, tetapi jangan kehilangan karakter. Teknologi akan semakin cerdas, tetapi manusia tetap penentu arah,” ujarnya.

Indonesia 15 Tahun ke Depan

Muhammad membayangkan Indonesia dengan jaringan UAV dan USV terintegrasi untuk pengawasan laut, mitigasi bencana, dan logistik nasional.

Ia juga membayangkan pusat riset AI yang kuat, rantai pasok komponen lokal, serta industri manufaktur drone berstandar global.

“Itu bukan mimpi kosong. Fondasinya sudah ada. Tinggal keberanian politik dan konsistensi kebijakan,” katanya.

Langit masa depan bukan sekadar ruang udara—ia adalah ruang data. Siapa yang menguasai sistem otonom, dialah yang menentukan arah ekonomi dan keamanan.

“Jika kita membangun kompetensi, integritas, dan visi hari ini, Indonesia tidak hanya menyaksikan masa depan—kita ikut merancangnya.” (Red 01)