Indonesia memasuki fase penting dalam perjalanan ekonominya. Pertumbuhan ekonomi terus dijaga, investasi didorong, hilirisasi diperluas, ekonomi digital berkembang, dan pemerintah menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu fondasi masa depan. Namun, di tengah berbagai capaian tersebut, ada pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa pertumbuhan ekonomi itu?
Pertumbuhan bukan tujuan akhir. Angka pertumbuhan pada akhirnya harus diterjemahkan menjadi kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat: pekerjaan yang layak, pangan yang terjangkau, pendidikan berkualitas, layanan kesehatan yang memadai, rumah yang layak, serta kesempatan yang semakin luas bagi setiap warga untuk berkembang.
Karena itu, Indonesia perlu mulai menggeser cara pandang dari sekadar ekonomi pertumbuhan menuju ekonomi kesejahteraan. Bahkan lebih jauh, menuju ekonomi kelimpahan.
Kelimpahan bukan berarti semua orang memiliki kekayaan tanpa batas. Kelimpahan adalah keadaan ketika kebutuhan dasar masyarakat dapat dipenuhi secara berkelanjutan, produktivitas meningkat, akses terhadap pengetahuan dan teknologi semakin terbuka, dan kesempatan ekonomi tidak terkonsentrasi hanya pada kelompok tertentu.
Di sinilah tantangan terbesar Indonesia. Pertumbuhan harus mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri sekaligus memperluas distribusi manfaatnya. Hilirisasi, industrialisasi, ekonomi digital, energi, pangan, dan pembangunan infrastruktur perlu dipandang sebagai bagian dari satu ekosistem yang bermuara pada peningkatan kualitas hidup rakyat.
Program seperti Makan Bergizi Gratis, penguatan koperasi, pembangunan desa, dukungan terhadap UMKM dan transformasi digital juga tidak semestinya berdiri sendiri. Semuanya perlu terhubung dalam sebuah rantai pembangunan: gizi melahirkan manusia sehat, pendidikan menghasilkan manusia terampil, teknologi meningkatkan produktivitas, produktivitas menciptakan nilai tambah, dan nilai tambah memperluas kesejahteraan.
Perubahan teknologi, terutama kecerdasan artifisial, membuat persoalan ini semakin mendesak. AI berpotensi meningkatkan produktivitas secara besar-besaran, tetapi juga dapat mengubah struktur pekerjaan. Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar teknologi. Indonesia harus memiliki manusia, institusi, data, infrastruktur, dan ekosistem inovasi yang mampu menjadikan teknologi sebagai alat pemerataan kesempatan.
Di sinilah semangat gotong royong menemukan relevansinya kembali. Ekonomi masa depan tidak harus mempertentangkan negara dan pasar, pemerintah dan swasta, teknologi dan manusia. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi yang membuat seluruh kekuatan tersebut bekerja untuk memperbesar manfaat bersama.
Indonesia memiliki modal sosial yang kuat dalam bentuk gotong royong. Tantangannya adalah menerjemahkan nilai tersebut ke dalam sistem ekonomi modern: koperasi yang adaptif, UMKM yang terhubung dengan teknologi, desa yang produktif, pendidikan yang relevan dengan era digital, serta kebijakan yang memastikan manfaat transformasi ekonomi tidak hanya dinikmati oleh mereka yang sudah memiliki modal.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya seberapa tinggi angka pertumbuhan ekonomi, tetapi seberapa jauh pertumbuhan tersebut mengurangi kerentanan, memperluas kesempatan dan meningkatkan martabat manusia.
Indonesia tidak boleh berhenti pada pertanyaan, “berapa persen ekonomi tumbuh?” Pertanyaan berikutnya harus lebih penting: “berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena pertumbuhan itu?”
Jika pertumbuhan mampu melahirkan produktivitas, produktivitas menghasilkan kesejahteraan, dan kesejahteraan memperluas kesempatan bagi seluruh rakyat, maka Indonesia bukan hanya sedang membangun ekonomi yang lebih besar.
Indonesia sedang membangun ekonomi kelimpahan—sebuah ekonomi yang menjadikan kemajuan bukan milik segelintir orang, melainkan semakin banyak dirasakan oleh seluruh masyarakat.












