Berita  

EX PKI, DISUDUTKAN ATAU DITARIK KELINGKARAN

Jakarta, Nasionalnews.co.id-Keturunan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) kini dapat mendaftar calon prajurit TNI. Hal itu menyusul adanya terobosoan baru dari Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa terkait rekrutmen penerimaan prajurit TNI.

Terkait hal ini, mantan Waka-BIN, KH. As’ad Said Ali mengatakan Panta Rhei Uden Mene, kata filosof Herakleitos , tidak ada satupun di alam  semesta yang tidak berubah, semua bergerak dan berubah. Dalam khazanah pengetahuan Islam , semua yang ada didunia bersifat fana, hanya Allah yang baqa atau abadi.

Jenderal Andika Perkasa, lulusan Universitas di Amerika ketika membolehkan keturunan PKI ikut test masuk TNI, tampaknya ingin memberikan “pesan strategis “. TNI harus menjadi perekat bangsa sehingga Indonesia mampu mengantisipasi perobahan dunia yang sedang berlangsung sangat cepat.

“Berbagai jenis Ideologi politik didunia sedang mengalami perubahan seperti komunisme, sosialisme, liberalisme dan Islamisme ( Islam politik ) dan lain-lainya. Selanjutnya akan dikupas ideologi kiri cq Komunisme. Sejauh mana perubahan dan pengaruhnya terhadap komunis Indonesia secara singkat,” kata KH. As’ad, saat diwawancarai jurnalis Nasionalnews.co.id, di kantornya Tebet, Jakarta, Jum’at, 1/4/22.s

KH. As’ad melanjutkan bahwa Komunisme merupakan perpaduan antara ajaran Marx dengan ajaran Lenin. Meskipun Presiden Mesir Gamal Abdul Naser mengikuti garis pemikiran Marx, tetapi karena dipadukan dengan  Pan Arabisme, maka tidak dapat disebut dengan komunisme, tetapi Naserisme.  Demikian juga Sukarno, meskipun mengambil ajaran marx sebagai landasan berpikirnya tetapi karena memadukan  dengan nilai ke- Indonesiaan, ajarannya disebut “ Marhaenisme “, atau Sukarnoisme. Baik pandangan Naser maupun Sukarrno lebih tepat disebut sosialisme, bukan komunisme.

Partai Komunis Rusia saat ini hanya menduduki rangking ke 8, sedangkan yang berkuasa di Rusia sejak 1991 adalah Partai Rusia Bersatu dibawah  pimpinan Vladimir Putin. Sedang Partai Komunis Cina ( PKC ) yang berkuasa Cina Daratan tidak lagi memasukkan Leninisme – Maoisme sebagai ideologinya. PKC mendasarkan pada Marxisme dengan nilai nilai budaya Cina. Kedua negara itu menerapkan ekonomi pasar bebas, izinkan milik pribadi dan penanaman modal asing serta memberikan kebebasan beragama.

Di RRC, Partai Komunis Cina lebih mempunyai fungsi untuk mengendalikan  kekuasaan katimbang  mengedepankan ideologi.  Hanya Partai Komunis Kuba yang mempertahankan Marxisme dan Leninisme sebagai dasar ideologinya dan mungkin satu-satunya yang layak disebut Partai komunis. Sedangkan Korea Utara, yang sering disebut negara komunis, tetapi  ideologinya disebut  dengan  Juche“ atau “Berdikari “, yang digagas oleh Bapak Negara Kim Il Sung. Juche merupakan perpaduan Marxisme – Leninisme dengan nilai budaya Korea. Berbeda dengan negara komunis lain,seorang pemimpin partai sekaligus Presiden di Pyongyang dipilih secara turun temurun.

Terlepas adanya persaingan antara PKC dan Partai Komunis Uni Soviet, partai-partai komunis pada masa itu diikat oleh solidaritas sebagai  kekuatan progressif melawan Liberalisme / Kapitalisme Barat. Organisasi internasional yang menaunginya disebut dengan Komintern ( Komunis Internasional ) dibawah kendali Uni Soviet / RRC , yang secara rutin menyelenggarakan konggres secara periodik. Solidaritas diantara 2 negara eks komunis tersebut masih terasa sampai sekarang, meskipun mengalami pasang-surut.

Sejak 1991, pengganti komintern adalah International League for People’s Struggle ( ILPS ) yang berkantor di Rotterdam, Nedeland.  Namun berbeda dengan Komintern yang dianggap berwibawa karena didukung secara finansial oleh negara ( komunis ),tetapi ILPS hanyalah suatu LSM. Dengan kata lain , kekuatan komunis internasional sangatlah  jauh dibanding dengan masa era perang dingin. 

Bagaimana dengan kekuatan komunis di Indonesia. Mereka itu adalah kader kader yang ditempa  oleh tokoh tokoh komunis setelah bebas dari tahanan di pulau Buru pada pertengahan 1980 sampai dengan pertengahan 1990 an. Instrukturnya antara lain Rewang, Mbah Sosro, Hutajulu dan lain-lain. Dalam buku yang saya tulis pada 2011 “ Ideologi paska reformasi “, kegiatan mereka saya kupas. Kekuatan komunis indonesia , sejauh ini tidak berkiblat kesatu negara.

“Saya tidak khawatir berlebihan terhadap mereka , sehingga jika mereka melamar di institusi pemerintah ,tidaklah menjadi persoalan besar. Meskipun demikian, tidaklah bijaksana kalau mereka juga dibiarkan mempunyai dendam sejarah dan merasa tidak ada masalah pada masa lalu yang menimbulkan luka pihak lain. Kadang kadang saya  galau, misalnya membaca berita  adanya upaya untuk menghilangkan peranan tokoh agama  dari buku sejarah. Siapa pelakunya, para keturunan komunis ataukah kelompok politik lain misalnya yang terpengaruh oleh globalisme dan mendukung penyeragaman budaya global,” katanya.

Ia melanjutkan. “Barangkali pesan Jendral Andika Perkasa adalah perlunya kita menghilangkan luka lama untuk memperkokoh tali persatuan nasional. Berdasarkan asumsi dunia yang selalu berubah, lawan dari luar bisa datang dari pihak manapun,”pungkasnya. (Red 01)