Mojokerto – Di sela-sela acara Konggres Pergunu III digelar pula bedah buku yang berjudul : Kiai Miliader tapi Dermawan”. Dalam buku tersebut menceritakan kisah tentang
Prof DR. KH. Asep Saifudin pendiri sekaligus pengaruh pondok Pesantren Amanatul Ummah yang berada di Mojokerto. Selain bergelar Kiai juga seorang Miliader yang Dermawan.
Dr KH Mujib Qulyubi MH, sebagai pembedah buku tersebut mengatakan bahwa di salah satu bagian buku “Kiai Miliader tapi Dermawan” disebut kan kalau Kiai Asep memiliki 9 kehebatan. Namun menurut analisis Kiai Mujib tidak hanya 9 kehebatan tapi ada 100 kehebatan Kiai Asep.
Selain Miliader yang Dermawan Kiai Asep juga seorang penduduk yang handal karena mampu memotivasi semua anak didiknya
“Saya berharap, Pergunu ke depan di bawah kepemimpinan Kiai Asep bisa melahirkan kader-kader pendidik sekaliber Kiai Asep,” harap KH. Mujib, Jum’at 27/5/22.
Zawawi Imron menjelasakan kalau KH. Asep Saifudin Chalim merupakan sosok tidak pernah menyuruh pada siapapun tetapi memberi contoh dengan melakukan sesuatu terlebih dulu.
“Kiai Asep sebagai anak seorang pahlawan nasional dia mewarisi jiwa ayahandanya yaitu sebagai seorang nasionalis yang mencintai tanah air seperti mencintai istrinya,” ucap KH. Zawawi.
Sementara, KH. As’ad Said Ali menyebutkan bahwa KH. Asep adalah sosok santri sekaligus Kiai yang berjiwa mandiri dan gigih dalam memperjuangkan keinginannya.
“Selain itu, KH. Asep adalah seorang yang intelek dan memiliki visi jauh ke-depan, maka pergunu yang telah lama mati suri berkat kepemimpinan beliau Pergunu berkibar kembali,” ujar KH. As’ad.
KH. As’ad selalu mempromosikan terhadap Kiai Asep di manapun agar bisa menjadi ikon dan bisa ditiru oleh para Kiai yang lain.
Tentang pandangan politik KH. Asep menurutnya adalah politik kemanusiaan di mana politik yang menghindari konflik dan mengutanakan kemaslahatan umat.
Sementara sang penulis, buku “Kiai Miliader tapi Dermawan” Mas’ud Adnan memberi alasan tertarik menulis buku tentang KH. Asep karena beliau memiliki paradigma yang berbeda dengan Kiai yang lain.
Setelah mendapat banyak pujian dari para pembedah bukunya, justru KH.Asep Saifudin Chalim merasa harus waspada, karena bisa jadi hal itu akan menimbulkan kesombangan di kemuan hari. (Red 01)