Berita  

Tunas Peradaban dari Bumi Mojokerto Untuk Indonesia dan Dunia

Pendidikan merupan komponen yang sangat penting untuk membangun sebuah peradaban. Baik buruknya pendidikan akan sangat berpengaruh terhadap kualitas peradaban  itu sendiri.

Sebelum Islam tersebar, Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi di salah satu rumah sahabatnya yang telah menerima hidayah. Rumah pertama yang dipakai menyampaikan risalah Islam adalah rumah anak muda bernama Arqam bin Abi Arqam. Rumah Arqom menjadi Madrasah pertama bagi kaum muslimin saat itu.

Rumah ini menjadi tempat berkumpulnya orang-orang pertama yang memeluk Islam. Di sinilah Rasulullah SAW mendidik mereka untuk menjadi jiwa yang tangguh dalam berdakwah dan membela Islam.

Semakin lama, perkumpulan umat Islam ini semakin banyak. Hingga tercatat ada sekitar 40 orang yang datang ke rumah Arqam, mulai dari yang tua sampai muda.

Dari rumah Darul Arqam itulah peradaban Islam mulai di semai kemudian menjelma menjadi peradaban bersekala global, yang mampu menyinari kegelapan dunia. Wilayahnya meluas sampai  dua pertiga dunia, dan bertahan 13 abad lamanya.

Namun  sehebat apapun sebuah peradaban,  tidak akan bisa terhindar dari siklus peradaban itu sendiri. Tak terkecualu peradaban Islam yang pernah menyinari kegelapan dunia, juga mengalami kemunduran. Tepatnya pada 3 Maret 1924 peradaban Islam itu runtuh.

Sejak saat itulah sampai hari ini, dunia mengalami kegelapan dan kebingungan. Lalu siapa yang akan menerangi kegelapan dan kebingungan dunia ini ? Sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh kaum muslim.  Ada secercah cahaya di ujung Pulau Jawa, tepatnya di dusun Paras, desa Kembangbelor, kecamatan Pacet, kabupaten Mojokerto, Jawa Timur,  “Pesantren Amanatul Ummah”  Sedang menjawab pertanyaan tersebut.

Sejarah berdirinya pondok pesantren ini dimulai dari keinginan dan impian Alm.Ayahanda Kyai Asep Saifuddin Chalim yang ingin mewujudkan pondok pesantren yang mengaplikasikan keputusan muktamar situbondo yang mengesankan menjaga tradisi dan membuat cara berfikir manusia yang rasonal. 

Pondok peasantren ini didirikan oleh Kyai Asep Saifuddin Chalim Inipada tahun 1988. Pondok pesantren ini berada di dusun Paras desa Kembangbelor kecamatan Pacet kabupaten Mojokerto. 

Pada awalnya beliau berinisiatif mendirikan sebuah pondok pesantren, namun pada saat itu hanya sebuah villa kecil yang dijadikan tempat mengaji mereka dan jumlah santrinya pun hanya sekitar 24 orang, lalu pada saat ini  menjadi lebih dari  3000 santriwan dan santriwati. Tokoh tokoh yang berperna dalam perkembangan pondok psantren amanatul ummah diantaranya : a. Kiai Haji Asep Saifuddin Chalim, b. Ahmad Mustafid Chalim, c. Ustadz Abudal Mu alim

Metode awal  pembelajaranya dimulai dengan mempelajari huruf hijaiyah, lalu diajarkan mebaca Al-Qur’an serta di ajarkan pula syariat islam, cerita akhlak para Nabi serta para sahabat atau orang- orang sholeh disekitar Nabi dengan harapan mereka dapat meneladaninya. 

Seiring berjalannya waktu system tersebut juga mulai mengalami perubahan  baik dari jumlah santri yang bertambah banyak dan metode pembelajaran yang digunakan yaitu  wetonan atau bandungan (kiayi membacakan suatu kitab kemudian santri menyimak dan mendengarkan bacaan kiayi) dan sorongan (system membaca kitab secara individual).

Banyak metode pembelajaran modern yang di gunakan di pondok-pondok salaf ataupun modern. Sekarang juga lembaga pendidikan pondok pesantren sudah menerapkan sekolah formal layaknya sekolah pada sekolah-sekolah umum di luar pondok pesantren seperti : 1.MTS unggulan, 2. MA unggulan. 3. Institut KH Abdul Chalim Mojokerto. 4. Madin

Fasilitas  Ekstrakurikuler meliputi : 1.Robotika. 2.Perkapalan. 3.Banjari & Qosidah. 4.Paduan Suara. 5.Teater (Atera). 6.Qiro’ah. 7.English Fans Club (EFC). 8.Arabic Fans Club (AFC). 9.Kaligrafi. 10.Editing (iDeasign). 11.Fotografi (ISPC)

Visi dan Misi utama  dari pondok pesantren Amanatul Ummah ini sendiri adalah : Terwujudnya manusia yang unggul, utuh, dan berakhlaqul karimah untuk kemuliaan dan kejayaan Islam dan kaum muslimin, kemuliaan dan kejayaan Islam seluruh bangsa Indonesia dan untuk keberhasilan cita-cita kemerdekaan yaitu terwujudnya kesejahteraan dan tegaknya keadilan bagi seluruh Bangsa Indonesia tanpa terkecuali. 

Selain visi dan misi pondok ini juga memiliki 7 kunci kesuksesan yaitu berkesungguhan dan ajek dalam berkesungguhan, selalu menjaga wudhu, tidak makan berlebihan, sholat malam, sering membaca Al-quran, meninggalkan maksiat dan tidak jajan sembarangan. Lalu juga terdapat komitmen yang di peruntukkan kepada para santri diantaranya adalah, 

Beriman, Bertaqwa, Berilmu, Berdisiplin, Bertanggung jawab, Bersih, Sopan, Ramah, dan Rapi. Yang terakhir terdapat 8 prinsip yang berlaku  pada pendidikan di pondok pesantren, antara lain : a) Memiliki kebijaksanaan menurut ajaran Islam, b) Memiliki kebebasan yang terpimpin, c) Berkemampuan mengatur diri sendiri,. d) Memiliki rasa kebersamaan yang tinggi, . e) Menghormati orangtua dan guru, f) Cinta kepada ilmu, . g) Mandiri, dan,  h) Kesederhanaan.

KH. Asep, menyadari bahwa guru merupakan ujung tombak untuk melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berkualitas dan beraklaqul karimah, sebagai komponen dasar untuk membangun sebuah peradaban, Maka dia bersama kawan-kawanya, mencoba menghidupkan kembali Pergunu yang sudah lama mati suri. 

Pada era reformasi, Pergunu diaktifkan kembali. Sebuah diskusi kecil yang dimotori H. Abdul Latif Mansyur di Jombang menggagas ide tersebut. Sambutan luas pun bergulir dan berproses sampai akhirnya pada 30-31 Maret 2002 terselenggara Musyawarah Guru Pergunu di Pesantren Amanatul Ummah, Surabaya. Pertemuan ini menghasilkan kepengurusan Pergunu Wilayah Jawa Timur dan penetapan AD/ART, rekomendasi kepada PBNU, serta pembentukan tim formatur untuk membentuk Pengurus Pusat Pergunu. 

Setelah melakukan pembentukan cabang-cabang, terutama di Jawa Timur, pada 15 Juli 2003 diselenggarakan pertemuan pembentukan PP Pergunu yang menghasilkan tiga orang pengurus inti harian Pergunu Pusat, yaitu: Drs. K.H. Asep Saifuddin Chalim (Ketua Umum), H Kusnan A. (Sekretaris Jenderal), dan Drs. H. Choiruddin Ch. (Bendahara Umum). Mereka ditugasi menyempurnakan susunan PP Pergunu.

Dalam Muktamar NU ke-31 di Asrama Haji Donohudan, Solo (2004), PP Pergunu berjuang menjadikan Pergunu sebagai salah satu Badan Otonom NU. Tetapi, upaya ini belum berhasil. Baru pada Muktamar Makassar (2010), Pergunu ditetapkan menjadi salah satu Badan Otonom NU.

Kongres I Pergunu di Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, pada 23-24 Juli 2011, KH. Asep terpilih  sebagai Ketua Umum PP Pergunu Periode 2011-2016. Dan Pada kongres II Pergunu, KH Asep terpilih kembali sebagai Ketua Umum PP Pergunu Periode 2016-2021.

Hanya dalam waktu 10 tahun dipimpin oleh KH. Asep Pergunu mulai berkibar kembali dan pergunu terus menjalin persahabatan dengan asosiasi guru yang ada kecuali PGRI. Perlu diketahui bahwa kiprah Pergunu bisa mewarnai semua asosiasi guru Indonesia. dan pergunu banyak dijadikan referensi oleh mereka.

Konggres ke III Pergunu di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, pada Mei   27-29, KH Asep terpilih kembali sebagai Ketua Umum PP Pergunu Periode 2022-2027.

Menurut keterangan Kiai Asep saat ini Pergunu sudah memiliki pengurus wilayah  di 34  provensi. 512 pimpinan cabang, 11.000 pimpinan Anak cabang yang akan segera dilengkapi menjadi 17.000, kemudian Pasca Konggres III ini, 200.000 pimpinan ranting di seluruh Indonesia akan segera dibentuk.

KH. Asep berharap,  Pergunu bisa cepat berhasil sehingga bisa ikut serta mewujudkan cita-cita Indonesia yang maju, adil dan makmur.

Menurut KH. Asep, guru merupakan ujung tombak untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang maju, adil dan makmur. Untuk itu para guru khususnya yang tergabung dalam wadah persatuan guru Nahdlotul Ulama memiliki tanggung jawab   melahirkan anak didik yang  memiliki 8 karakter sebagai berikut,:

1.Guru harus mampu membentuk murid-muridnya menjadi individu yang beriman.

2. Guru harus bisa melahirkan anak didik yang mampu mengongkritkan iman dalam bentuk ketaqwaan yaitu murid yang bisa menjalankan perintah Allah dan meninggalkan karangannya.

3. Guru harus mampu mengajari sopan santun dan memberi teladan tentang ahklaqul karimah. Karena dengan ahklaqul karimah seseorang akan piawai bergaul dengan siapapun.

4. Guru harus mampu mentranformasikan kurikulum yang ada secara tunas untuk muatan yang berupa isi kurikulum dan harus menjangkau ke seluruh anak didik sehingga para murid bisa menguasai semua isi kurikulum.

5. Guru harus mampu membuat murid cerdas

6. Guru harus bisa memberi pemahaman tentang kesehatan. Dan ini adalah tugas guru olah raga di mana guru olah raga harus menyadarkan pada anak didiknya tentang  arti pentingnya kesehatan.

7. Guru harus mengajarkan  ketrampilan seperti tata boga, desainer, terutama yang sangat saat ini  adalah  IT dan  akutansi. Untuk bahasa manyoritas di Indonesia masih mengesampingkan praktek speaking. Maka praktek speaking harus  diwajibakan terutama bahasa Inggris dan Arab, jadi minimal murid akan tetampil berbicara dalam bahasa Inggris dan Arab.

8. Guru harus mengajarkan tentang seni, karena seni bisa melatih hati menjadi bersih, bening dan akan menimbulkan rasa  kasih sayang.

Dengan mempraktekkan 8 karakter tersebut, maka daya kreativitas seorang murid akan secara otomatis muncul.

“Akademis dan ketrampilan merupakan bahan baku kreativitas. Ketika bahan baku tersebut diolah olek mesin kecerdasan, maka akan muncul kreativitas. Ketika kreativitas dioperasionalkan dengan landasan ahklaqul karimah ( tidak kalas, tidak putus ada, tidak boleh mengatakan tidak bisa) maka seorang murid akan bisa mewujudkan kesejahteraan. Dan ketika kesejahteraan dikemas dengan keimanan, maka seorang murud akan mampu melebarkan kesejahteraan, bukan hanya untuk diri dan keluargaya, tetapi akan mampu mendistribusikan kesejahteraan  terhadap lingkungan terutama untuk guru-gurunya. Dan seorang murid yang memiliki karakter semacam itu akan cenderung mendorong dirinya untuk berusaha menegakkan keadilan dan kesejahteraan baik dalam lingkup lokal nasional maupun global, ” ujar KH. Asep. di kediamannya, Mojokerto, Jawa Timur, saat wawancara khusus dengan awak media, majalah Nasionalnews, Minggu, 29/5/22.

Bila  para anggota  Pergunu  seluruh Indonesia mampu melahirkan murid-murid yang kreatif, cerdas, beriman dan beraklaqul karimah,  maka cita-cita para pendiri bangsa untuk mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur akan menjadi realita.

Untuk mewujudkan Indonesia yang maju, adil dan makmur pergunu mendapat hambatan dari kelompok extrim kanan dan extrim kiri, di mana mereka adalah orang-orang yang selalu membuat goncangan terhadap perjalanan sejarah bangsa, karena pada dasarnya mereka tidak tulus. Untuk itu, kelompok Islam moderat terutama pergunu, harus terus mengawal gerak  perjalanan sejarah bangsa Indonesia dari rong-rongan kelompok extrim kiri dan extrim kanan.

Pergunu belum lama ini telah berhasil meredam extrim kanan yaitu DI/TII yang ada di Garut, dan diantara mereka ada yang menjabat camat dan bupati. Dengan menurunkan pergunu di 442 desa, maka hasilnya ada 1000 orang yang menyatakan kembali setia pada NKRI. Dan kelompok kanan DI/TII habis di Garut.

“Kita di kagetkan oleh mereka  para extrim kiri, baru-baru ini mereka mencoba ingin mewarnai wajah bangsa lewat konstitusi yaitu : revisi undang-undang sisdiknas dengan menghilangkan frasa madrasah dari undang-undang sisdiknas. Frasa madrasah yang ditaruh di bagian penjelasan itu hanya tipuan, pada akhirnya nanti akan dihilangkan. Pihak yang berwajib polri, harus menyelidiki konseptor yang menghilangkan frasa madrasah dari draf  RUU. sisdiknas,” jelas KH. Asep.

Salah satu hasil  konggres III pergunu, merekomendasikan ke parlemen, komisi VIII, agar frasa madrasah dicantumkan kembali dalam undang-undang Sisdiknas. Dan nanti akan berangkat 34 pimpinan wilayah provensi pergunu ke parlemen dan akan mengadakan konferensi pers.

Menurut KH.Asep, untuk ikut serta berkontribusi mewujudkan Indonesia yang maju, adil dan makmur ini, merupakan kerjaan besar dan jangka panjang, maka Kiai Asep selalu keliling Indonesia dengan modal sendiri untuk membangkitkan semangat dan gairah para guru anggota Pergunu di seluruh Indonesia, agar tetap optimis, sehingga bisa ikut serta berkontribusi  mewujudkan cita-cita Indonesia yang maju, adil dan makmur.

Indonesia jadi acuan peradaban dunia

KH. Asep  mengatakan, pergunu akan fokus dulu menggarap sumber daya manusia di Indonesia. Sehingga pergunu bisa melahirkan sumber daya manusia unggul yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

Selain itu pergunu juga memiliki program  pangajian “Lailatul ijtima’ yang diafakan setiap seminggu sekali. Dan acara “Lailatul ijtima” selalu disiarkan langsung ke seluruh penjuru dunia lewat you Tube. Dan dalam waktu dekat pengajian Lailatul ijtima’ akan disiarkan lewat seluruh media sosial yang ada.

Indonesia memiliki modal  idiologi yang besar dan tidak dimiliki oleh negara lain. yaitu Pancasila. Substansi dari Pancasila dalam sila Ketuhanan yang Maha Esa, mengandung spiritualitas yang mewarnai  sila-sila yang lain.

Sila ke-dua : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab jika dijiwai oleh sila Ketuhanan yang Maha Esa, maka akan melahirkan sistem  yang menganut prinsip- prinsip kemanusiaan universal, sehingga akan lahir peradaban yang bermartabat dan berkeadilan.

Sila ke-tiga Persatuan Indonesia, jika dijiwai dengan sila Ketuhanan yang Maha Esa, maka persatuan Indonesia akan kokoh dan tidak tergoyahkan oleh apapun.

Sila ke-empat : Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, jika dijiwai oleh Ketuhanan yang Maha Esa, Maka Demokrasi di Indonesia akan beranjak ke Demokrasi substasial, bukan terus terjebak dalam Demokrasi prosedural seperti saat ini.

Sila ke-lima : keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, jika dijiwai oleh Ketuhanan yang maha Esa, maka keadilan sosial akan menjadi realita, karena keadilan merupakan salah satu sifat Tuhan yang harus diimplementasikan dalam kehidupan oleh setiap warga negara.

Ketika bangsa Indonesia mampu mencetak sumber daya manusia yang berkualitas, unggul, beraklaqul karimah, sekaligus menjadi seorang yang Pancasilais, maka peradaban Indonesia akan menjadi peradaban yang mulia, unggul  dan tinggi. Saat itulah Indonesia akan Hamemayu Hayuning Bawono dan menjadi rahmat bagi sekalian alam. Dan tentu peradaban Indonesia akan jadi acuan dunia. (,Red 01)