Jakarta – Banyak negara telah menjadi korban akibat benturan idiologi komunisme dengan idiologi liberalusme termasuk Indonesia. Pancasila bisa menjadi alternatif idiologi untuk menata dunia baru yang lebih damai.
As’ad Said Ali mengatakan pada september 1960, Presiden NKRI pertama H Ir Soekarno dalam sidang Majelis Umum PBB menggetarkan para pemimpin dunia yang hadir dengan pidato yang bertajuk ; To build The World a New- Membangun Suatu Dunia Baru. Dalam pidato tersebut Bung Karno secara tegas menolak premis bahwa didunia hanya ada dua ideologi yaitu Marxisme-Leninisme ( Komunisme ) dan Liberalisme yang saling berhadapan.
Bung Karno menegaskan masih ada satu ideologi tengah yang menjadi solusi untuk mewujudkan dunia yang damai yaitu Pancasila. Bung Karno juga menegaskan bahwa merupakan suatu ketidak adilan , sebagian besar negara Asia, Afrika dan Amerika Latin masih menjadi negara koloni negara besar yang mengendalikan dunia.
Hanya dalam waktu sekitar satu dekade, berkat semangat dekolonisasi yang digaungkan sejak saat itu, sekitar 40 negara Asia, Afrika dan Amerika Latin memperoleh kemerdekaannya. Kemudian terbentuklah suatu kekuatan baru dunia yaitu negara Negara Non – Blok atau Non Alignment yang dipimpin oleh Indonesia.
Sampai sekarang substansi pidato tersebut itu masih relevan, terutama dikaitkan dengan kecenderungan para pendukung Neo-Liberalisme yang ingin mendominasi dunia. Seperti thesis Samuel Huntington dan F Fukuyama bahwa Peradaban Barat akan unggul atas Peradaban Timur ( Jepang, China, India ):dan Islam ( Timur Tengah , Asia Tenggara ). Upaya tersebut bermakna suatu upaya untuk memaksakan peradaban Barat ( Neo – Lib ) berlaku diseluruh dunia ( Globalisme ).
“Dengan kemampuan teknologinya, Barat merasa mampu untuk mencapai tujuan tersebut. Spirit imperalisme dan kolonialisme berwujud menjadi penetrasi budaya melalui instrumen teknologi informasi , tekanan ekonomi dan politik. Slogan Trump yang terkenal “ American First “ menggambarkan pandangan umum bangsa kulit putih khususnya Anglo Saxon,” jelas KH. As’ad, mantan waka-BIN, kepada awak media nasionalnews.co.id, Rabu, 22/06/22.
Ia melanjutkan. Tekanan politik tampak dari subversi AS / Barat dengan memanfaatkan Isu Arab Springs dan terorisme untuk menghancurkan negara negara Timur Tengah yang anti AS/Barat. Melalui tekanan ekonomi bisa dilihat dari perang ekonomi AS – Jepang dari 1990 – 1998 sehinghs terjadi krisis moneter di Asia termasuk Indonesia. Sampai saat ini ekonomi Jepang tidak mampu bangkit atau stagnan.
AS pada era Trump, melancarkan perang ekonomi terhadap RRC meskipun tidak mencapai hasil, negara tirai bambu itu mampu bertahan. Dan dari perang Ukraina – Rusia yang timbul dari manuver Barat mendorong Ukraina bergabung kedalam Nato , berubah menjadi embargo ekonomi Rusia. Artinya AS / Barat mencegah Rusia kuat secara ekonomi, sebab Rusia mewakili “ peradaban Erasia, campuran antara Eropa – Asia”.
Penyeragaman peradaban bertentangan dengan realitas bahwa setiap bangsa memang berbeda satu sama lain karena pengaruh ekologi ( lingkungan ). Jadi upaya penyeragaman peradaban lahir dari ambisi untuk menguasai negara atau bangsa lain. Pada hal setiap bangsa merupakan kekuatan mandiri yang mempunyai hak berdaulat masing-masing.
“Dengan demikian Pancasila adalah alternatif, sebagai solusi dari konflik peradaban dunia pada saat ini. Bukankah Pancasila dengan semboyan “ bhineka tunggal ika “ berisi prinsip pengakuan perbedaan suku dan agama ?. Dan perbedaan iku akan memperkuat masing masing kalau didasari pada ikatan perlunya menjalin persahabat sejati sebagai “ sesama penghuni bumi” pungkasnya. (Red 01)