DIBALIK KISRUH BOLA DI STADION KANJURUHAN

Jakarta – KH. As’ad Said Ali mengatakan Menkopolhukan menyalahkan Pengurus PSSI, Aparat Keamanan dan Penyelenggara lokal atas terjadinya kerusuhan di stadion Kanjuruhan, Malang yang mengakibatkan 131  korban. Terjadi kesalahan prosedural ; kapasitas stadion 38 ribu diisi dengan   42 ribu, dan tidak ada penjaga setiap pintu stadion yang  dikunci sehingga penonton tidak bisa keluar stadion.

Upaya mencegah bentrok antar penonton sebenarnya sudah dilakukan dengan melarang  Suporter Persebaya memasuki stadion, sehingga penonton hanya terdiri dari pendukung AREMA. Kerusuhan bermula ketika pertandingan selesai dan penonton turun kelapangan hijau kearah pintu gerbang selatan bermaksud menanyakan kepada pengurus Arema kenapa kesebelasan kesayangannya kalah tiga kali berturut turut termasuk di kandang sendiri.

Aparat keamanan cq Kepolisian setempat menembakkan gas air mata kearah  lapangan hijau untuk membubarkan penonton. Dan kerumunan menjadi semakin kisruh ketika tembakan gas air mata juga diarahkan ke tribun yang mengakibatkan penonton  turun berlarian kebawah menuju pintu  gerbang  yang  terkunci. 

Korban terbanyak terjadi di dekat gate 11:  12, 13 dan hal ini karena meskipun ada 14 pintu gerbang, tetapi arah tembakan diarahkan ke tribun pintu 11,12,13 yang menjadi konsentrasi penonton. Sebab lain yang mengakibatkan banyak korban adalah gas air mata yang ditembakkan sudah kedaluwarsa.

“Pendukung kesebelasan Persebaya , Arema dan juga Persigres merupakan penonton yang fanatik. Tidak jarang, sehabis pertandingan dilanjutkan dengan tawuran diluar stadion. Saya pernah terjebak sekitar 2 jam pada  awal 2014 dalam perjalanan malam dari Lamongan ke Surabaya, ketika pulang mengikuti pelantikan pengurus PCNU – Lamongan,” tuturnya kepada awak media lewat keterangan tertulis, Minggu, 16/10/22.

Menurut keteranganya, pada masa lalu terkenal istilah “ bonek – bondo nekat “ julukan bagi pendukung team sepakbola dari Jawa Timur yang bertanding di Jakarta. Dukungan fanatik team Persebaya, Arema, Persema tersebut merupakan pencerminan  keberanian dan  “ semangat pantang menyerah” dari arek arek Jawa Timur.

Semangat “pantang menyerah” arek arek Jawa Timur itulah yang melahirkan palagan 10 Nopember 1945 yang dikenal sebagai “ Hari Pahlawan “. Perang yang berlangsung hanya 9 hari itu merenggut korban 11 ribu warga Surabaya dan sekitarnya.  Semangat pantang menyerah atau bonek bisa menuai hasil positip, sebaliknya bisa negatif , tergantung bagaimana menyalurkannya.  Jiwa patriotisme yang bergelora kuat adalah modal utama menjadi bangsa yang perkasa dan tentu saja perlu dibarengi sikap arif bijaksana. (Red 01)