Berita  

Dibalik Serangan Bom Pager dan Walkie-Talkie: Strategi Intelijen Israel Hancurkan Hizbullah

Jakarta – mantan wakabin KH. As’ad Said Ali mengatakan Israel melakukan peledakan terhadap pager dan walkie talkie yang digunakan oleh pasukan Hisbullah di Libanon Selatan. Banyak pejuang Hisbullah meninggal atau luka dengan meledaknya alat komunikasi buatan Taiwan yang mereka gunakan. Intelijen Israel mencuri dan berhasil mempelajari titik lemah teknologi pager dan walkie talkie buatan Taiwan tsb.Tujuan utama dari serangan Israel tsb adalah untuk melindungi walayah Israel utara ( berbatasan dg Libanon Selatan ) dari serangan roket dan bom dari wilayah Libanon.

Sejak dua tahun terakhir , Israel menghadapi tekanan militer dari Palestina yang mendapat bantuan Iran yang kapasitasnya jauh lebih besar dari sebelumnya. Selain membantu Hizbullah di utara, Iran juga membantu Hamas di Gaza ( tengah ) dan milisi Houthi disisi Selatan cq Yaman . Hal itu berarti , Israel menghadapi serangan di utara, di tengah dan selatan dari Iran. Houthi dalam hal ini berperan mengganggu rute kapal perang sekutu Israel yang berlayar keluar masuk laut Merah dari Samudra Hindia.

Dengan dukungan dan bantuan drone Iran yang canggih, Hamas di sisi tengah melancarkan serangan roket dan drone dari Gaza ke wilayah Israel tengah. Pertahanan udara Israel ( Iron dome );yang dianggap tidak mungkin tembus, ternyata jebol, sehingga titik lemah Israel ini mendorong Iran untuk melakukan serangan rudal tahap kedua yaitu serangan rudal langsung dari wilayah Iran ke Israel.

“Israel melakukan balasan dengan melakukan pembunuhan thd pemimpin tertinggi Hamas, Ismail Haniyeh ketika bertamu dalam rangka menghadiri pelantikan Presiden baru Iran Masoud Pezeskhian di Teheran. Dukungan Iran terhadap Hisbullah ( Shiah );Hamas ( Sunni ) dan Houthy ( Shiah ) jelas mempunyai tujuan strategis,” ungkapnya. 24/9/24.

Menurutnya, dari sejarah politik dikawasan Timur Tengah, tercatat terjadi persaingan sengit antara Bangsa Arab vs bangsa Persia. Perang al qadisiya misalnya pecah antara negara Arab versus bangsa Persia. Dan perang Alqadisiya era modern terjadi ketika Saadam Husein dari Iraq menyerang rezim Ayatollah Khomeini. Namun kedua perang tersebut diakhiri dengan perundingan damai.

Lalu apa tujuan strategis Iran sekarang ini ?. Iran jelas tidak punya ambisi teretorial merebut tanah Arab. Motif politik utama Iran adalah , pertama , keluar dari isolasi internasional yang diipimpin oleh AS / Barat dan ,kedua , ingin ikut berperan dalam hubungan regional Timur Tengah seperti pernah terjadi pada era Iran dibawah pimpinan Raja Shah Reza Pahlevi dimana ketika itu Iran disebut sbg “ Polisi Di Teluk Persia atau Teluk Arab “.

Kalau dicermati secara teiliti dan arief bijaksana , keterlibatan Iran dalam konflik Arab – Israel tersebut menguntungkan perjuangan bangsa Palestina dan prestise dunia Arab secara keseluruhan. indikasinya jelas bahwa Israel belum pernah berada dubawah bayangan kekalahan di arena pertempuran seperti yang terjadi di Israel Utara dan 2 kali serangan rudal Iran mencapai Tel Aviv dan sekitar Yerusalem.

Kalau negara negara Arab mampu mendahulukan kepentingan bangsa Palestina dibanding dengan perseteruan Arab ( Sunni ) dengan Iran ( Shiah ),konflik Palestina akan dapat dipecahkan secara damai karena posisi Arab lebih kuat dibanding Israel. Selama ini negara – negara Arab terlalu berlebihan khawatir thd perkembangan Shiah. Dalam hal ini Indonesia bisa berbagi pengalaman dengan bangsa Arab , nggak perlu terlalu takut dengan ekspansi Shiah.

Shiah masuk ke Indonesia sejak abat 18 , tetapi pemeluknya tidak seberapa dibanding dengan pemeluk Ahlu Sunnah. Kenapa ?. Kata almarhum KH Abdurahman Wahid ; Akidah Shiah kita tolak, , tetapi kita bisa berdamai dengsn budaya Shiah tertentu….,,,,..misalnya perayaan Asura. Bahwa apa yang dimaksudkan Gus Dur adalah dialog antara Sunni dg Shiah adalah hal yang mungkin, terutama dibidang kebudayaan. Ini juga bisa dijadikan pendekatan untuk perdamaian Timur Tengah tanpa harus tersingkirnya Israel. Demikianlah maka perdamaian Timur Tengah bisa diselesaikan dengan pendekatan non militer. Indonesia mempunyai pengalaman panjang dengan pendekatan damai seperti disinggung diatas. (Red 01)