Jakarta, Nasionalnews.co.id – Perusahaan pelat merah alias Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berbondong-bondong mau investasi ke perusahaan rintisan atau startup Indonesia.
Hal itu disampaikan oleh Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga. Menurut dia ada lima BUMN yang menggenjot investasinya ke startup, kendati belum membeberkan secara spesifik.
Menteri BUMN Erick Thohir kecewa karena banyak startup yang dikuasai asing. Hal ini dikarenakan tidak ada investor lokal yang masuk untuk berinvestasi.
“Kita teriak-teriak asing-asing. Sementara satu punya potensi bisa masuk BUMN, jangan marah kalau asing kuasai startup kita, makanya BUMN harus masuk, lima BUMN ini sudah masuk venture capital [modal ventura],” jelas Erick.
“Kita ini kecewa, ternyata Gojek itu dikuasai asing sekarang, Tokopedia dikuasai asing, Bukalapak juga, tidak ada investor lokal masuk,” tegas Erick.
Erick melanjutkan, saat ini pemerintah sedang mensolidkan bisnis supaya bisa fokus mencari startup yang punya peluang besar. Tidak hanya fintech, e-commerce, tapi ada juga startup bidang teknologi dan sebagainya.
Lebih lanjut dia mengatakan nantinya akan dilihat startup mana yang punya ciri khas untuk Indonesia dan yang dibutuhkan oleh pasar. Dia menyebut bisa saja di sektor pertanian yang memang menjadi kebutuhan yang perlu mendapat suntikan investasi.
“Bisa seperti itu gak hanya e-commerce, bisa juga edutech karena pendidikan punya punya ruang besar juga, bisa saja BUMN – BUMN ini masuk ke sana. Yang memang Indonesia banget lah,” jelasnya.
Dengan demikian, startup besar bisa dimiliki oleh BUMN lewat modal ventura . Arya menyayangkan karena saat ini investor asing rajin masuk namun BUMN tidak masuk berinvestasi.
“Asing saja masuk, berarti peluang besar. Masak kita nunggu-nunggu terus kalau udah besar mereka nilainya gak ada lagi. Kalau terus ketakutan jangan harap start up dimiliki kita, ya dimiliki asing sementara konsumennya kita,” ucapnya.
Dari sisi pemilihan dia sebut harus benar-benar dipilih dengan baik. Jangan terus terusan menunggu sampai start up untung.
“Sementara asing masuk gak ada ketakutannya, asing emang gak khawatir uang hilang, mereka sudah hitung secara bisnis, emang kita gak mampu itung secara bisnis?,” katanya.
“Kenapa misalnya Telkomsel masuk ke Gojek? Kenapa? Karena memang harus masuk. Asing saja masuk kok, masa kita enggak masuk?” Pungkasnya. (Red 01)












