Berita  

Indonesia Bersama Komunitas Global harus Mengantisipasi Dampak Buruk dari Konflik Rusia dengan Ukraina

Jakarta – Indonesia bersama komunitas global harus mengantisipasi dampak buruk lanjutan dari konflik Rusia dengan Ukraina, serta memuncaknya ketegangan antara Tiongkok dengan Taiwan. Ketidakpastian global yang tereskalasi akibat dua konflik itu akan memperburuk kinerja perekonomian dunia dan Indonesia.

Sangat penting bagi semua elemen masyarakat untuk menyadari bahwa kecenderungan dinamika global saat ini benar-benar sedang tidak kondusif. Konflik bersenjata antara Rusia dengan Ukraina masih berlangsung. Pada aspek ekonomi global, ekses dari konflik ini nyata karena memicu lonjakan harga energi dan beberapa komoditas bahan pangan.

Ketua MPR, Bambang Soesatyo mengatakan seperti masyarakat di banyak negara di Eropa yang mengeluh karena minimnya pasokan dan mahalnya harga gas, masyarakat Indonesia pun sudah merasakan ekses tersebut.

Pemerintah melalui Pertamina terpaksa harus mengatur lagi mekanisme jual-beli bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.  Membengkaknya nilai belanja impor BBM yang disubsidi memaksa pemerintah mengatur ulang jual-beli agar BBM bersubsidi tepat sasaran. Tahun ini, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalokasikan Rp 520 triliun untuk subsidi energi meliputi BBM, LPG dan listrik.

Faktor memuncaknya ketegangan Tiongkok dengan Taiwan juga harus diperhitungkan dan diantisipasi.  Kedua negara sudah unjuk kekuatan persenjataan masing-masing. Bahkan masyarakat Taiwan sudah memperkirakan keadaan terburuk. Tempat parkir, pusat belanja, dan stasiun bawah tanah di Taiwan telah dipersiapkan sebagai tempat perlindungan dari serangan udara.

Wajar jika para pemimpin negara dan lembaga-lembaga multilateral menyuarakan kecemasan. Dalam beberapa kesempatan, Presiden Joko Widodo pun sudah menyuarakan kekhawatiran itu. Senin, 8 Agustus, Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong, mengingatkan bahwa ketegangan Tiongkok dengan Taiwan bisa saja berkepanjangan karena faktor keterlibatan Amerika Serikat.

Presiden Joko Widodo maupun Perdana Menteri Singapura memperingatkan bahwa situasi global yang tidak kondusif seperti sekarang ini akan berlanjut hingga tahun 2023. Artinya, dalam skala lebih luas, dunia sedang menyongsong resesi karena ketidakpastian yang berlarut-larut. Momentum pemulihan ekonomi global dari kerusakan akibat dua tahun lebih Pandemi Covid-19 terlewatkan begitu saja karena konflik yang melibatkan sejumlah negara.

Untuk meminimalisir ekses ketidakpastian itu, Indonesia dan banyak negara lain harus antisipatif. Mengandalkan sumber daya yang tersedia, perekonomian nasional harus dikelola dengan sangat berhati-hati untuk meminimalisir ekses dari resesi global itu. Situasinya memang menuntut kehati-hatian dan kearifan, agar resesi global tidak menimbulkan kesulitan bagi semua elemen masyarakat.

Masyarakat Indonesia patut bersyukur, perekonomian nasional masih tumbuh impresif di tengah ketidakpastian saat ini. Per kuartal I-2022, ekonomi Indonesia tumbuh 5,01 persen. Para ekonom pemerintah memperkirakan kuartal II-2022 akan tetap tumbuh di atas 5 persen. Menguatnya konsumsi rumah tangga, meningkatnya mobilitas masyarakat, pertumbuhan ekspor, serta efektivitas pengendalian Covid-19, menjadi faktor penggerak pertumbuhan. Nilai ekspor Indonesia tahun 2021 mencapai 88,29 miliar dolar AS, naik 43,56 persen dari tahun sebelumnya.

Pertumbuhan yang impresif itu hendaknya tidak membuat masyarakat lengah. Dinamika global tahun mendatang belum tentu lebih baik dari tahun ini.  Sebagaimana sudah dikemukakan Presiden, Pemerintah terus membarui perhitungan atas APBN tahun 2023, dan berharap ada tambahan kekuatan untuk menambah dana bagi program jaring pengaman sosial yang diwujudkan dengan subsidi BBM, LPG dan listrik.

“Presiden pun telah menginstruksikan ekonom pemerintah melakukan uji ketahanan atau stress test terhadap APBN 2023. Stress test perlu dilakukan dengan asumsi dinamika global masih berselimut ketidakpastian. Stress test bertujuan mengukur daya tahan sistem keuangan menghadapi skenario yang buruk,” jelas Bamsoet, 

Awal April 2022 lalu, Energy Information Administration (EIA) memperkirakan harga minyak mentah Brent sepanjang tahun 2022 ini bisa mencapai 98 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN 2022 yang 63 dolar AS per barel.

Jika kenaikan harga minyak dunia semakin tinggi, kemampuan fiskal yang memang sudah cukup terbatas untuk menyediakan tambahan subsidi guna meredam laju inflasi, menjadi semakin berat.

Untuk mengantisipasi kemungkinan itu, pemerintah perlu mempertimbangkan perubahan skema pemberian subsidi energi. Misalnya, kalau selama ini subsidi berbasis pada komoditas dan bersifat terbuka, diubah menjadi subsidi langsung kepada kelompok masyarakat yang tidak mampu.  Acuannya adalah laporan BPS yang menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin per September 2021 sekitar 26,5 juta orang.

Ketidakpastian global saat ini diperparah oleh dampak buruk atau ekses perubahan iklim. Beberapa negara bahkan sudah menerapkan kebijakan yang protektif di sektor pangan dan energi. Menghadapi kecenderungan itu, sektor pertanian tanaman pangan dalam negeri hendaknya segera diperkuat dengan kebijakan yang mengarah pada peningkatan produktivitas dan mengurangi ketergantung pada impor. Misalnya, meningkatkan luas tanam sorgum di dalam negeri sebagai pengganti gandum impor.