Berita  

Integritas yang Tak Tergoyahkan: KH As’ad Said Puji Sikap Tegas Presiden Prabowo Tolak Suap Rp16,5 Triliun

Jakarta – Pernyataan mengejutkan datang dari Hashim Djojohadikusumo, adik kandung Presiden Prabowo Subianto, yang mengungkap bahwa sang presiden pernah ditawari suap fantastis senilai Rp16,5 triliun oleh seseorang. Namun, tanpa pikir panjang, Prabowo langsung menolak tawaran itu.

Kabar ini sontak menjadi perbincangan luas di publik. Banyak pihak menilai bahwa tindakan tersebut menunjukkan keteguhan moral dan komitmen Presiden Prabowo dalam menegakkan pemerintahan yang bersih dan berintegritas.

Salah satu tokoh yang memberikan pandangannya adalah KH As’ad Said, mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), yang dikenal sebagai figur berpengalaman dalam dunia intelijen, politik, dan keagamaan. Dalam wawancara eksklusif dengan redaksi, KH As’ad menilai langkah Presiden Prabowo menolak suap tersebut sebagai contoh nyata kepemimpinan yang berpegang pada nilai moral dan tanggung jawab kenegaraan.

Wawancara Eksklusif

Wartawan:
Kyai, belakangan publik dihebohkan oleh pernyataan Hashim Djojohadikusumo bahwa Presiden Prabowo pernah ditawari suap Rp16,5 triliun namun menolaknya. Bagaimana Kyai melihat peristiwa ini?

KH As’ad Said:
Saya melihat itu sebagai langkah yang sangat benar dan patut diapresiasi. Ujian moral seperti itu bisa datang kepada siapa saja, apalagi kepada seorang pemimpin negara. Nilai Rp16,5 triliun bukan jumlah kecil, itu angka yang bisa mengguncang iman banyak orang. Tapi Prabowo menunjukkan bahwa dia tidak bisa dibeli. Itu tanda bahwa beliau memimpin bukan untuk memperkaya diri, melainkan untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.

Wartawan:
Menurut Kyai, apa makna penolakan ini dalam konteks moral kepemimpinan nasional?

KH As’ad Said:
Ini adalah simbol moralitas kenegaraan. Dalam sejarah Indonesia, kita sudah sering melihat pemimpin tergoda oleh kekuasaan dan materi. Tapi ketika seorang presiden menolak suap sebesar itu, berarti ia menegakkan prinsip bahwa jabatan bukan untuk diperdagangkan. Ini contoh nyata integritas, dan itu menjadi teladan bagi pejabat lain.
Saya katakan, bangsa ini sedang butuh pemimpin yang punya nyali moral, bukan hanya kecerdasan teknokratik. Dan Prabowo sudah menunjukkannya.

Wartawan:
Ada yang berpendapat bahwa kisah ini bisa menjadi momentum membangun kepercayaan publik terhadap pemerintah. Bagaimana pandangan Kyai?

KH As’ad Said:
Betul sekali. Kepercayaan publik lahir dari kejujuran dan ketegasan moral. Ketika rakyat melihat pemimpinnya tidak bisa disuap, mereka merasa dilindungi. Karena itu berarti negara ini masih punya benteng moral.

Saya sudah lama mengenal karakter Prabowo — dia tegas, keras pada prinsip, tapi hatinya nasionalis. Kalau dia bilang “tidak”, maka itu benar-benar tidak. Sikap seperti itu perlu diwariskan kepada generasi muda birokrat kita.

Wartawan:
Bagaimana Kyai melihat fenomena praktik suap yang masih terjadi dalam birokrasi kita?

KH As’ad Said:
Korupsi dan suap itu penyakit lama, dan tidak akan hilang kalau tidak dilawan dari atas. Kalau presiden tegas menolak, menteri dan pejabat di bawahnya akan berpikir dua kali untuk bermain-main dengan uang haram.

Tapi kalau pemimpinnya lemah, maka bawahannya juga akan longgar. Karena itu, keteladanan di puncak adalah kunci.
Saya kira penolakan Prabowo ini bisa menjadi pesan moral yang sangat kuat: bahwa era jual beli kekuasaan sudah berakhir.

Wartawan:
Apakah menurut Kyai, tindakan seperti ini bisa memperkuat posisi Indonesia di mata dunia?

KH As’ad Said:
Tentu saja. Dunia sekarang melihat siapa yang berani melawan arus suap dan korupsi. Negara-negara besar menghargai pemimpin yang bersih. Kalau Prabowo bisa menunjukkan Indonesia sedang dibangun di atas prinsip integritas dan keadilan, maka investor dan mitra internasional akan lebih percaya.

Jadi, dampaknya bukan hanya moral, tapi juga strategis. Ini memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan bermartabat.

Wartawan:
Apa pesan Kyai bagi masyarakat dan pejabat publik yang membaca kisah ini?

KH As’ad Said:
Saya ingin mengingatkan bahwa setiap orang akan diuji dengan kekuasaan dan harta. Kalau Presiden saja bisa menolak uang sebesar itu, apalagi kita yang rakyat biasa. Ini soal kesadaran batin bahwa rezeki tidak harus didapat dengan cara kotor.
Saya juga berharap, kisah ini tidak hanya jadi berita sensasional, tapi dijadikan pendidikan moral nasional. Karena bangsa besar adalah bangsa yang jujur dan menjaga kehormatannya.

Nilai Keteladanan

KH As’ad menutup wawancara dengan menekankan bahwa integritas adalah modal utama seorang pemimpin. Dalam pandangannya, sikap Presiden Prabowo menolak suap Rp16,5 triliun bukan sekadar tindakan pribadi, melainkan manifestasi nilai-nilai kenegaraan yang berakar pada kejujuran, keberanian, dan cinta tanah air.

“Kalau pemimpin sudah bisa menolak uang sebanyak itu, artinya dia sudah memenangkan pertempuran terbesar — melawan dirinya sendiri,” ujar KH As’ad. 1/11/25.

Publik tentu berharap ketegasan moral semacam ini dapat menjadi budaya baru di lingkar kekuasaan. Di tengah isu korupsi yang kerap mencoreng wajah birokrasi, tindakan seperti ini menjadi oase moral yang meneguhkan bahwa masih ada integritas di puncak pemerintahan. (Red 01)