Depok. Nasionalnews.co.id – Pagi hari Ngobrol dan menikmati kopi bersama mantan Lurah Duren Mekar (Dumek) Muhammad Sahal, yang kini menempati posisi kepala UPT Pasar Cisalak Cimanggis Kota Depok menggantikan sutisna yang kini pensiun.
Kehadiran UPT yang baru ini diharapkan bisa membawa angin segar bagi para pedagang mengingat sepinya pengunjung dan banyaknya kios-kios yang Kosong di tinggal pedagang serta ketidak stabilan harga dan tingginya harga minyak goreng dan segudang cerita lainnya.
Sambil menikmati secangkir kopi, terlihat kerut di wajahnya dan sedikit senyum. ” Ayo di minum kopinya mumpung hangat,” ucap pak UPT.
Dinamika itu selalu ada datangnya naik turunnya. “Saat ini ibaratnya saya baru menempati rumah baru, penghuninya juga berbeda, jadi saya kini punya keluarga baru. Selama sebulan ini saya rasakan sambutan di lingkungan yang baru saya merasa nyaman, begitu juga para pedagang menyambut dengan baik. Bagi saya yang utama dalam kerja itu adalah kenyamanan, jabatan tinggi kalau nggak nyaman gak ada artinya, karena nyaman itu kita yang yang menciptakan,” ucap Sahal sambil tersenyum.
Masih kata Sahal. “Selama sebulan lebih di sini saya didukung oleh tim yang loyal, Solid dan para pedagang pasar juga welcome dan familiar mereka menyambut baik, dari situ kita lihat sudah terbangun komunikasi, baik saya dengan anggota staf maupun pedahang. Usai di lantik Jumat, tanggal 31 Desember 2021, seninnya saya langsung pantau kelokasi Pasar Cisalak menghampiri fan menyapa para pedagang,” ucapnya.
Selama menjalankan tugas di Pasar Cisalak, banyak keluhan yang sama di sampaikan, masalah kios-kios yang kosong, masalah pasar yang sepi pengunjung apa lagi di situasi Covid-19 yang belum usai serta masalah tingginya harga minyak goreng belakangan ini.
“Kita sedang cari terobosan agar Pasar Cisalak kembali menggeliat, melihat sepinya pengunjung dan akan saya sampaikannke dinas terkait langkah-langkah yang harus segera di cari solusinya, masalah ketersediaan minyak goreng cukup namun harga masih cukup tinggi dan kasihan para pedagang, subsidi yang katanya, harga Rp.14.000, fakta di lapangan kosong dan tidak sampai ke pasar-pasar apalagi ke masyarakat.
Penjual gak berani spekulasi harga naik turun, pemerintah harus samakan harga agar daya beli masyarakat menikngkat. Sementara di pasar-pasar modern, satu pembeli itu hanya satu kantong jadi masih ada keterbatasan,”ucapnya lagi sambil menikmati kopi hangat.
Saat di tanya langkah kedepan melihat banyaknya kios-kios yang tutup dan sepinya pengunjung yang membeli.
“Saya juga sangat menyayangkan Ketika saya mendapat amanah tugas di sini ternyata ratusan kios yang masih kosong. Banyak alasan-alasan yang di sampaikan, malasnya pengunjung naik ke atas, batang tidak lengkap, harga yang jauh berbeda dengan harga di pasar emperan dan harga lebih murah, akibatnya pedagang yang sewa di gedung banyak yang merugi dan akhirnya gulung tikar.”tambah sahal dengan nada pelan.
Di penghujung Sahal mengatakan, inilah yang menjadi PR bagaimana menggiatkan minat masyarakat untuk membeli dan bagai mana agar kios-kios yang kosong ini bisa terisi.
“Harapan kedepan, pasar Cisalak yang notabenenya pasar tradisional yang berlisensi SNI, agar masyarakat dan para pedagang di bangkit lagi di era pandemi ini, saya ingin mewujudkan pasar yang ramai yang ramah nyaman, dari 50 sampai 70 pasar rakyat di Indonesia Ber SNI, salah satunya adalah Depok dan kita Harus bangga. Sekarang bagaimana caranya supaya bisa terisi aja dulu, masalah ketersediaan sembako, sayur mayur, ikan, telur tercukupi bahkan harga menurun. Selain itu kita rutin mengadakan penyemprotan disinfektan bila pasar sudah tutup, setiap Selasa dan Kamis penyemprotan ke seluruh kios dan los. Saya mengimbau kepada Kementerian Perdagangan agar tetap memantau perkembangan harga sembako di kota Depok, silahkan di minum kopinya.”Tegas pak UPT di akhir kata. (SL)













