Mojokerto – Pembukaan Konggres Pergunu III dengan Tema “Guru Mulia Membangun Peradaban Dunia”. Acara diadakan di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Mojokerto. sangat meriah.
“Acara yang menghabiskan 6 milyar ini luar biasa karena tanpa penggalangan dana. 34 pengurus wilayah dan 512 pengurus cabang ikut serta di acara tersebut. Saya berharap Pergunu menjadi organisasi profesi yang handal dan mampu berkontribusi terhadap lahirnya generasi yang berkualitas dan mulia untuk membangun Indonesia maju dan makmur,” kata Ketua panitia Saepullah. Jum’at, 26/5/22, dalam liputan khusus Nasionalnews.co.id.
“Kalau di Indonesia ada 10 0rang seperti Kyai Asep, maka Indonesia akan sejahtera,” kata Ketua Komisi VIII, Yandri.
Yandri berharap kongres Pergunu III merekomendasikan kepada DPR, agar frase madrasah yang dihilangakan dalam sistem Undang-undang sisdiknas dicantumkan kembali. dan dia siap memperjuangkan hal tersebut di parlemén.
Sementara penasehat pergunu, KH. As’ad Said Ali menegaskan sudah lama mati duri, namun pergunu bangkit dan berkibar kembali berkat KH. Asep Saifudin. .
“Jangan sampai Pancasila dikebiri oleh siapapun, maka pergunu harus tetap berkibar sepanjang masa di Indonesia agar pergunu bisa melahirkan generasi bangsa yang ber-ahklaq, ” harap KH. As’ad.
Prof. Dr. Ahmad Muzakki, M.Ag, SEA wakil sekjen PBNU menyatakan dalam Konggres III pergunu harus melakukan konsolidasi dan pergunu harus bisa mewarnai kiprah guru di Indonesia. Selain itu Pergunu ke ke-depan harus menjadi “role model” untuk semua guru di Indonesia.
“Semua energi Pergunu harus diarahkan untuk mewujudkan peradaban Indonesia menjadi pautan peradaban dunia,” ujar Ahmad Muzakki.
Prof DR.KH.Asep Saifudin Chalim berharap Pasca Konggres Pergunu III, seluruh PAC dan ranting seluruh Indonesia segera dibentuk.
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menyampaikan saat ini masih banyak guru yang tidak mampu membangkitkan kepercayaan diri para siswa dan siswi.terutama di kalangan guru NU.
“Untuk menciptakan sumber daya manusis yang berkualitas tidak mudah, kita harus melakukan lompatan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Khofifah.
Menurut Khofifah guru agama selain memiliki kopetensi juga harus bisa memberi pemahaman Islam rahmatal lil-alamin kepada anak didiknya agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam aliran yang radikal.
“Guru agama juga harus bisa menggarami kopetensi profesi, kopetensi sosial, kopetensi kepribadian dan kopetensi padagogik dengan nilai-nilai spiritual,” Pungkas Khofifah. (Red 01)












