Berita  

Peran Moderasi Nahdlatul Ulama Afganistan

Jakarta, Nasionalnews.co.id – Nahdlatul Ulama Afganistan ( NUA ) yang terbentuk pada  2014 dan kini dipimpin oleh Dr Satar Abdul Hayat secara terbuka mulai menampilkan diri sebagai kekuatan sosial keagamaan (non politik) dalam rangka menyatukan Afganistan dan sekali gus mempromosikan pandangan wasatiyah / moderat.

KH As’ad Said Ali mengatakan Sejak terbentuknya pada 2014, NUA mereplika prinsip sosial ,  dan keagamaan ala Nahdlatul Ulama.  Seperti halnya NU, NUA mempunyai landasan keagamaan yang sebangun dengan NU dibidang aqidah, tasawuf dan fiqh. Bedanya NU mengikuti  mazhab Syafi’i, sedang NUA mengikuti mazhab Hanafi. 

Sama dengan NU, NUA adalah ormas bukan partai politik, tetapi mempunyai komitmen kebangsaan, moderat ( tawasuth ), toleran ( tasamuh ),  seimbang / non blok ( tawazun ), keadilan ( ‘adalah ) dan musyarakah ( musawarah ). Beberapa tokohnya menyebut kelima prinsip itu dengan “ Pancasila “.

Sebelum terjadi perubahan politik di Afganistan ketangan Taliban, NUA telah menjalin kontak erat dengan dua fraksi Taliban yang paling kuat yaitu Hakkani dan Akhunjada. Kini keduanya berkuasa , tetapi masih ada friksi politik diantara keduanya. Kedua belah memerlukan mediasi terutama sikap politik terhadap HAM, Wanita dan praksis  pemerintahan demokrasi. Tanpa moderasi sikap, sulit dunia internasional memulihkan kepercayaan terhadap Afganistan.

“Sikap moderat NUA tersebut ditegaskan kembali dalam konperensi tahunan yang diselenggarakan di Kabul pada 30 dan 31 Desember 2021. Dua pembicara dari NU diundang sebagai pembicara secara daring yaitu Asad Said Ali dan Dr Shalahudin Kafrawi ( UIN Jakarta ). Konperensi itu sendiri diselenggarakan secara luring dan daring,” jelas KH As’ad yang pernah menjabat Wakabin, Minggu, 2/1/2022.

Ia melanjutkan, resolusi atau keputusan konperensi tahunan NUA yang menonjol antara lain sbb ;1 . Penegasan bahwa NUA adalah ormas. non politik dan non partisan. Tujuan utamanya adalah integrasi dan penyatuan ulama dan perubahan sosial. 2. Mendukung sistem sosial – politik Islami yang maslahat dan kompeten, berkeadilan sosial dan partisipasi  masyarakat. 3. Mengajak pemerintah, berbagai golongan, ormas dalam dan luar negeri, negara tetangga dan komunitas Islam internasional  untuk membantu bangsa Afganistan. 4. Menegaskan bahwa Islam dan hukum Islam memberi jaminan kemakmuran / kesejahteraan , keamanan, keselamatan dan kesehatan jasmani dan rohani. 5. Menekankan perlunya setiap orang mempunyai pengetahuan dan pendidikan baik laki laki maupun perempuan sesuai  dengan tuntunan Quran dan Hadits. 6.  NUA menegaskan  prinsip musyawarah , berpandangan moderat, keadilan sosial, toleransi, seimbang , partisipatif dan  menyatakan kesiapannya untuk bekerjasama dengan pemerintah.

Konperensi tahunan NUA tersebut dapat dipandang sebagai upaya untuk memecah kebuntukan sosial politik di Afganistan sejak Taliban berkuasa. Kebuntuhan itu bersumber utama pada

perbedaan diantara dua fraksi Taliban yakni Hakkani ( radikal ) cs Akhunjada ( agak moderat ). Disini NUA berdiri ditengah diantara keduanya dan sekali gus sebagai komunikator dengan dunia internasional. 

“Saatnya dunia internasional termasuk Indonesia untuk merespons inisiatip NUA tersebut. Yang dibutuhkan sekarang ini adalah bantuan sosial kemanusiaan internasional dan menghidupkan  ekonomi Afgan yang porak poranda.  Berikan kesempatan bangsa Afganistan memikirkan masa depannya dalam keadaan sehat jasmani ( pemulihan kebutuhan pokok ) dan sehat rokhani ( komunikasi antar kelompok yang berseberangan ),” pungkasnya. (Red 01)