Jakarta – KH. As’ad Said Ali menuturksn, Dibawah ini, Benteng dan Kastil Nimrod ( قلعة / كستيل نمردً) yang terletak di lereng selatan G Hermont, Dataran Tinggi Golan ( مرتفعات جولن ) disebelah tenggara kota Ein Qiniye ( عين قنية ) yang mayoritas berpenduduk Druz.
“Sebelum perang 1973 bagian dari wilayah Syria dan sejak itu secara defakto dibawah Israel. Penduduknya mayoritas Arab – Druz masih memegang passport Syria dan hanya 10 persen yang menjadi pemegang pasport Israel karena berbagai alasan. Penduduk Druz ini diizinkan keluar masuk Syria – Israel atas izin Post pasukan perdamaian PBB di Qunaitra,” tutur mantan Waka-BIN tersebut kepada awak media Nasional ews.co.id, Rabu, 20/07/22.
Benteng dan Kastil Nimrod dibangun di ketinggian 800 meter diatas permukaan laut pada abad ke 3 masehi pada era Bizantium / Yunani, kata KH. As’ad, kemudian jatuh ketangan pasukan Salib dari Eropa. Benteng tersebut berhasil direbut oleh Salahudin Al Ayubi dan kemudian dibangun dan diperluas oleh puteranya Ali Otsman karena posisinya strategis guna mencegah musuh mencapai Damaskus. Benteng itu kemudian berturut turut jatuh ketangan Mongol, lalu Mamluk, Turki, Inggris , Syria terakhir Israel.
Dari ketinggian benteng tersebut pemandangan indah terhampar sampai ke Damaskus dan ke barat sampat ke Haifa , Israel. Salah satu jalan masuk hanya dari wilayah Israel bisa dicapai dari Kiryat Simona dari sebelah barat dan kalau dari selatan danau Tiberias. Tempat bersejarah tersebut kini menjadi tempat wisata yang menarik.
“Kalau Kita bangsa Indonesia mampu menjadi juru damai Israel – Palestina maka kita bisa menjaga wilayah bersejarah tsb. Konsepnya satu negara untuk dua bangsa Yahudi dan Arab – Palestina. Orang Yahudi , Palestina dan Arab lain, keduanya menghormati Indonesia, sehingga kita punya peluang dan tentunya kita harus bersikap adil dan mempunyai pengetahuan dan memahami budaya kedua bangsa tersebut,” pungkasnya. (Red 01)












