Berita  

Titik Temu Cita-cita Islam dan Ciat-cita Indonesia

Jakarta – Cita-cita kemerdekaan adalah mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Masyarakat yang adil dan makmur itu persis seperti di deskripsikan dalam Al-Qur’an, baldatun toyyibatun warobbun ghofur

Menurut Prof. Dr. Kiai Asep Saifuddin Chalim Indonesia harus menjadi bangsa yang paling maju di dunia. Karena Indonesia dianugerahi sumber daya alam yang melimpah. Dia menyaksikan sendir karena sering keliling ke seluruh pelosok tanah air.

Untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur tidak cukup dengan banyaknya sumber daya alam yang melimpah, tetapi harus ditopang oleh kualitas sumber daya manusianya dengan memiliki pengetahuan yang tinggi. 

“Knowledge is power (Ilmu adalah kekuatan),  Ilmu akan membentuk seseorang  menjadi kuat dan kreatif,” tegas Kiai Asep, saat diwawancarai di Jakarta, Senin, 14/11/22.

Ia melanjutkan agar bangsa ini bisa melahirkan putra-putri terbaiknya maka pemerintah perlu mengembangkan dan mensport dua kementerian yaitu Kementerian Agama dan Kementerian pendidikan. Karena dua kementerian inilah yang memiliki otoritas mengelola pendidikan. Dan bangsa ini harus bisa menjadikan negeri ini menjadi pusat pendidikan global.

Untuk mewujudkan cita-cita masyarakat yang adil dan makmur bisa dengan meningkatkan kemampuan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Agama Islam yang di peluk mayoritas masyarakat Indonesia juga memiliki cici-cita yang sama yaitu ingin mewujudkan negara yang baik yang dapat ampunan dari Tuhan (baldatun toyyibatun warobbun ghofur). Jadi ada titik temu antara cita- cita masyarakat Islam dan cita-cita Indonesia.

Bahkan masyarakat yang adil dan makmur itu pernah terjadi pada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada saat menjadi Kholifah Umar bin Abdul Aziz menarik zakat kemudian zakat tersebut dikelola untuk mendidik dan memberdayakan rakyat pada saat itu dan apa yang terjadi kurang dari dua tahun sudah tidak ada lagi masyarakat yang mau menerima zakat. Karena tidak ada yang mau menerima zakat maka zakat tersebut ditaruh di puncak gunung dan menjadi makanan burung.

Kemudian semua masyarakat yang yang punya hutang dibayar oleh pemerintah sehingga tidak ada kegelisahan di tengah-tengah masyarakat. Dan bagi yang tidak bisa menikah dinikahkan oleh negara.

KH.Asep akan membangun  masyarakat adil dan makmur dalam skala lokal di Kabupaten Mojokerto. Hal itu dilakukan dengan menyediakan pendidikan yang terbaik untuk masyarakat Mojokrto, mengusahakan semua masyarakat memiliki pekerjaan, menyediakan fasilitas kesehatan, dan berusaha agar setiap orang memiliki rumah.

Masyarakat Mojokerto yang adil dan makmur ini akan dijadikan pilot projek dikembangkan di kabupaten lainya dan pada saatnya akan menjadi proyek berskala nasional.

Pada akhir wawancara KH. Asep berpesan dan berharap kepada seluruh elemen bangsa ikut bertanggung jawab untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. (Red 01)