Berita  

Tokoh NU Harapan Nahdliyin, KH A Malik Madani : Perintis PKPNU, Terbukti Bermanfaat se-Antero Negeri

Surabaya, Nasionalnews.co.id-  KH Misbahus Salam, Pengasuh Yayasan Raudlah Darus Salam, Sukorejo Bangsalsari, Jember, Jawa Timur pernah mendapat amanah untuk menyampaikan hasil istikharah santri Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki tentang kondisi NU pasca muktamar ke-33 di Jombang. 

Amanah itu baru tersampaikan ketika berada di Surabaya, saat bertemu almaghfurlah Kiai Hasyim Muzadi, Kiai Salahudin Wahid, Prof Dr KH Rochmat Wahab. Intinya, Kiai Hasyim dan Kiai Salahuddin serta dzurriyah pendiri NU, tidak boleh diam dan harus terus bergerak untuk menyelamatkan NU. Jika kita biarkan, NU akan menjadi lahan risywah alias tempat suap menyuap.

“Ya saya masih ingat ketika hasil istikharah itu disampaikan. Karena itu, kita tidak boleh diam. Gus Solah (KH Salahudin Wahid) kemudian membuat Komite Khitthah NU 1926 (KKNU-26). Ini adalah gerakan moral untuk menyelamatkan NU,” demikian Prof Rochmat Wahab Ketua KKNU-26 meneruskan almaghfurlah Gus Solah, Kamis 9/12/21.

Hari ini, menjelang Muktamar ke-34 NU, kondisi organisasi ini kian karut marut. Dua kubu yang bersaing, antara duet Rais Aam-Katib versus Ketua Umum-Sekjen PBNU, sudah tidak lagi sehat. Diyakini, Muktamar yang akan berlangsung di Lampung, tidak lebih baik dari muktamar ke-33 NU di Jombang. Bisa adi lebih parah.

“Meminjam bahasa Cak Anam (Drs Choirul Anam), semua yang bersaing itu (kualitas) KW3, tidak cukup untuk menata NU lebih baik dan benar. Karena itu, muktamirin harus memilih calon alternatif. Masih ada kader hebat yang mampu menyelamatkan NU,” demikian KH Imron Rosyadi, tokoh NU Jombang.

Menurut Kaji Rosyad, panggilan akrabnya, masih ada Wakil Ketua Umum PBNU (2010-2015), KH DR As’ad Said Ali. “Beliau memang pantang menyalonkan diri. Karena itu, perlu kita tangisi bersama. Demi NU, beliau harus mau,” harapnya.

Dan, nama Kiai As’ad juga menjadi harapan Prof Dr KH Abdul Malik Madani, mantan Katib Aam PBNU. Kiai berdarah Madura ini, juga merindukan pemimpin NU yang mau menghidupkan NU, bukan justru mencari hidup di NU. Jangan sampai kaya, sejahtera justru karena memanfaatkan NU.

“Kita memiliki kader handal.  Rintisannya cemerlang dan Insya Allah membawa barokah bagi NU. Beliau adalah perintis PKPNU (Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama) yang terbukti bermanfaat bagi nahdliyyin di seantero negeri,” jelasnya.

Masih menurut KH A Malik Madani, sosok Kiai As’ad Said Ali ini memang sangat low profile. Baginya, pantang mendeklarasikan diri. Ini sesuai dengan tradisi NU yang asli. “Alangkah bahagianya kita,  NU,  jika beliau berkenan. Semoga Allah swt membukakan hati beliau demi NU dan NKRI. Aamiin!,” tegasnya.

KH As’ad Said Ali, lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 19 Desember 1949. Alumnus Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta dan Alumni Hubungan Internasional UGM. Ia memiliki pengalaman masuk ke BAKIN (Badan Intelejen Negara red.) sejak tahun 1982-1999.

Jejaknya tidak perlu kita ragukan. Ia sempat bertugas lama di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Yordan, Syuriah, Lebanon, Eropa dan Amerika serikat. Di organisasi, jejak KH As’ad juga terlihat jelas, aktif di BANOM NU seperti IPNU, PMII dan GP Ansor. Karena perintah Rais Aam PBNU, serta ulama sepuh NU, ia berkenan mendampingi KH Said Agil Siradj sebagai Wakil Ketua Umum PBNU 2010-2015.

KH As’ad juga telah mendapat Gelar Doktor Horonis Causa dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Sekarang, ia mendapat kewenangan sebagai penanggung jawab kaderisasi NU, serta mengepalai berbagai program perdamaian dunia seperti Afganistan, Cyprus dan lain-lain. (Red 01)