Jakarta, Nasionalnews.co.id-KH. As’ad Said Ali, terlahir di keluarga santri. Dia dididik dengan model kehidupan kaum santri. Ayahnya sendiri, Said Bin Ali pernah nyantri di pesantren Tremas Pacitan. Jawa Timur.
Setelah lulus SMA ia melanjutkan kuliah di Universitas Gajah Mada jurusan ilmu sosial politik, sembari mondok di pesantren Krapak yang salah satu pengasuhnya adalah KH. Ali Maksum.
Waktu kuliah di UGM ia pernah diangkat menjadi asisten dosen, tapi ghirah menjadi dosen tidak begitu kuat. Akhinya ia mengundurkan diri dan melamar di badan kordinasi inteljen negara dan diterima. Dalam cerita yang ditulis dalam bukunya yang berjudul “Perjalanan Inteljen Santri” orang tuanya baru tahu setelah 5 tahun kalau As’ad Said Ali bekerja sebagai inteljen negara.
“Tiga puluh lima tahun lebih saya bekerja sebagai seorang inteljen negara. Seringkali berada dalam suasana ektrems dan bertolak belakang. Suatu saat berada dalam suasana yang tertekan ketika menghadapi lorong gelap lambatnya menemukan jawaban persoalan inteljen, pada waktu yang lain kadang datang seorang yang mendekatkan sumber informasi seperti suatu kebetulan” cerita KH. As’ad Said Ali, yang dalam karirnya sempat menjadi wakil Kepala Badan Inteljen Negara, sabtu, 4/12/2021.
KH.As’ad Said Ali hidup dalam kultur pesantren sejak masih kanak-kanak sampai dewasa. Dan ketika selesai kuliah ia terekrut ke dalam badan inteljen negara. Hal ini merupakan lompatan budaya yang sangat progresif. Ini adalah pilihan jalan hidup KH. As’ad Said Ali. Hal ini bukan hanya melepas dari dilema psikologi kesantrian melainkan juga pengasingan budaya. Perjalanan seorang santri mengintegrasikan diri ke dalam badan inteljen negara merupakan harapan modernitas komunitas keislaman.
Menurut KH. As’ad Daid Ali, kegiatan inteljen lahir sejak adanya hubungan antar bangsa dan akan senatiasa hadir sepanjang sejarah hubungan diplomasi. Kekuatan inteljen Indonesia terletak pada kekuatan ideologi, budaya dan geopolitiknya. Indonesia juga sudah mengantisipasi ancaman nasional di era globalisasi dengan terbitnya UD nomor 17 tahun 2011.
Dalam menempuk karir saat menjadi inteljen negara As’ad Said Ali bayak ditugaskan di kawasan timur tengah seperti di Saudi Arabia, Libanon Syiria, Yaman dan lain-lain
Melalui buku As’ad Said Ali, “Perjalanan Inteljen Santri” kita berkesempatan melakukan refleksi tentang tranformasi budaya santri, modernitas dan negara. Dan As’ad Said Ali merupakan contoh yang menarik dan kongkrit bagi kaum santri agar selalu bisa berdaptasi dan bertranformasi di segala sektor kehidupan terutama di era digitalisasi dan globalisasi. (Red 01)












