JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi ke level 6.663,11 pada perdagangan Rabu (16/5/2023). Saham berkapitalisasi pasar besar atau big cap seperti TPIA, BBCA, TLKM, dan ASII memimpin penguatan pada hari ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG hari ini ditutup terkoreksi 0,01 persen ke level 6.675,66. IHSG bergerak pada rentang 6.661,46 sampai 6.706,59 sepanjang perdagangan. Sebanyak 201 saham menguat, 331 saham terkoreksi dan 210 stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp9.494 triliun. Adapun PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) memimpin penguatan big cap dengan naik 1,80 persen ke level Rp2.260. Disusul oleh, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang menguat 0,86 persen ke level Rp8.775.
Market Bursa & Indeks IHSG Ditutup Merah, Saham TLKM & BBCA Masih Cuan Usai War Tiket Coldplay Sebanyak 201 saham menguat, 331 saham terkoreksi dan 210 stagnan pada penutupan IHSG hari ini.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan pada Selasa (16/5/2023) IHSG ditutup terkoreksi 0,52 persen ke 6.677 dan masih didominasi oleh munculnya tekanan jual. “Dapat diwaspadai area support terdekatnya di 6.657, apabila menembus area tersebut maka pergerakan IHSG hari ini masih akan terkoreksi membentuk wave c dari wave (y) dari wave [ii] ke rentang 6,612-6,622 di label hitam,” ungkapnya dalam riset harian, Rabu (17/5/2023). Namun, pada skenario terbaiknya, selama masih mampu bertahan di atas 6.657, terdapat peluang IHSG menguat untuk uji rentang 6.751-6.820 terlebih dahulu. Oleh karena itu, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak dengan support di 6.657, 6.587 dan resistance di 6.751, 6.820. Sejumlah saham yang masuk dalam daftar rekomendasi MNC Sekuritas hari ini di antaranya BBCA, ERAA, SRTG, dan TINS.
Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street ditutup bergairah
Jakarta – Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street ditutup bergairah pada perdagangan Rabu (17/5/2023), karena investor berharap para pemimpin kongres dan Presiden Joe Biden dapat mencapai kesepakatan tentang plafon utang AS dan menghindari gagal bayar (default).
Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melonjak 1,24% ke posisi 33.420,77, S&P 500 melesat 1,19% ke 4.158,77, dan Nasdaq Composite melompat 1,28% menjadi 12.500,57.
Di akhir pertemuan antara presiden dan pemimpin kongres kemarin, Ketua DPR AS Kevin McCarthy mengatakan bahwa “proses yang lebih baik” sekarang tersedia untuk pembicaraan lebih lanjut, dengan mengatakan “kemungkinan untuk mendapatkan kesepakatan pada akhir minggu.”
Gedung Putih mengatakan bahwa Biden membatalkan putaran kedua perjalanan internasional yang akan datang untuk fokus pada negosiasi terkait plafon utang.
“Saya pikir pada akhirnya kami tidak akan mengalami default. Saya pikir kami akhirnya membuat presiden setuju untuk bernegosiasi,” jelas McCarthy.
Pada Rabu pagi waktu setempat, Biden mengatakan dari Gedung Putih bahwa dia dan anggota parlemen lainnya telah mengadakan pertemuan “produktif”.
“Saya yakin kita akan mendapatkan kesepakatan tentang anggaran dan Amerika tidak akan gagal bayar,” kata presiden Biden.
Kekhawatiran atas potensi default telah membebani pasar dalam beberapa hari terakhir. Dow Jones sepanjang bulan ini ambles 2%, termasuk koreksi hingga 1% pada Selasa lalu.
Sebelumnya pada Senin lalu, Menteri Keuangan AS Janet Yellen kembali menegaskan bahwa negara itu akan gagal bayar. Ia menyebut kekacauan akan terjadi.
“Dengan informasi tambahan yang sekarang tersedia, saya menulis untuk dicatat bahwa kita masih memperkirakan, bahwa Departemen Keuangan kemungkinan tidak akan lagi dapat memenuhi semua kewajiban pemerintah jika Kongres tidak bertindak untuk menaikkan atau menangguhkan batas utang pada awal Juni dan potensinya paling cepat 1 Juni,” tegasnya.
Surat baru itu juga datang hanya beberapa hari setelah panduan dari Kantor Anggaran Kongres (CBO) mengatakan pendapatan pajak dan tindakan darurat setelah 15 Juni akan memungkinkan pemerintah untuk melanjutkan operasi pembiayaan. Itu setidaknya akan berlaku hingga akhir Juli.
Sejumlah dampak akan terjadi jika AS default. Mulai dari mandeknya pembayaran jaminan sosial, rata-rata US$ 1.827 (Rp 26,8 juta) hingga tunjangan 2 juta pegawai federal dan 1,4 veteran (anggota militer tidak aktif) senilai miliaran dolar.
Ini juga akan berdampak ke biaya pinjaman. Jika terjadi default, imbal hasil (yield) Treasury AS pasti akan naik untuk mengkompensasi peningkatan risiko bahwa pemegang obligasi tidak akan menerima uang yang mereka pinjam dari pemerintah.
Karena suku bunga pinjaman, kartu kredit, dan hipotek sering didasarkan pada yield Treasury, biaya pinjaman uang dan pelunasan utang akan meningkat. Jumlahnya di atas peningkatan biaya yang sudah dihadapi orang Amerika dari kenaikan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).
Di lain sisi, saham-saham perbankan di AS rebound, di mana saham Western Alliance memimpin kenaikan di antara bank-bank regional, di tengah optimisme tentang potensi terobosan dalam kebuntuan di Washington atas batas utang negara.
Saham Western Alliance melonjak 10,19%, karena pertumbuhan simpanan pemberi pinjaman melebihi US$2 miliar dan pialang dari Bank of America Global Research.
Sedangkan saham bank regional AS lainnya seperti PacWest Bancorp, Comerica Inc, dan Zions Bancorporation juga naik di atas 7%. (Red 01)












