Jakarta – KH. As’ad Said Ali menyampaikan sejak Agustus 1945 – 31 Desember 1956, Indonesia dipimpin oleh Presiden Ir Soekarno dan Wapres Drs Mohammad Hatta yang lebih terkenal dengan sebutan DWI TUNGGAL. Kedua pahlawan nasional tersebut berhasil meletakkan landasan kuat dalam membangun semangat persatuan dan persaudaraan bangsa yang kokoh dalam situasi sangat sulit selama revolusi fisik dan politik devide et impera kolonial. Bahkan keduanya mampu mengangkat moril bangsanya sebagai bangsa besar, menjadi pemimpin bangsa dunia ke 3 yang diawali dalam konperensi Asia – Afrika Pertama pada 1956.
Semangat dwi tunggal tersebut bertahan sampai Desember 1956 ketika Bung Hatta mengundurkan diri. Bung Hatta mundur karena berbeda pendapat dalam mengelola pemerintahan dimana Bung Karno mencampuri pengangkatan menteri. Pada hal dengan telah diselenggarakannya pemilu pertama 1955, maka Indonesia berubah mengikuti sistem demokrasi liberal, dimana kekuasaan eksekutif tidak lagi berada dibawah wewenang Presiden.
Menjelang pilcapres – cawapres , alangkah baiknya kita bersama mengenang jasa proklamator dan pahlawan nasional Bung Karno dan Bung Hatta. Dwi Tunggal bermakna dua tetapi menjadi suatu kesatuan yang kompak dimana satu sama lain saling menenggang rasa, saling melengkapi kekurangan dan memelihara hubungan yang harmonis satu sama lain. Keduanya mempunyai jiwa besar, dimana Bung Hatta mengundurkan diri secara konstitusional atau secara ksatria. Demikian juga Bung Karno tidak serta memenuhi atau secara tergesa gesa merespon permintaan pengunduran diri tersebut, melainkan menunggu waktu beberapa waktu sampai upaya membujuk Pak Hatta tidak berhasil.
Semangat dwi tunggal tersebut mempunyai relevansi yang sangat kuat bila dikaitkan dengan perkembangan geo-politik global dan perang ekonomi diantara negara besar serta dampak globalisasi termasuk didalamnya konsekwensi dari pemanasan global. Dalam hal ini para ahli menyimpulkan bahwa umat manusia kini berada dalam situasi sulit dan tidak menentu yang belum pernah terjadi sebelumnya
Dwi tunggal tersebut kalau dicermati terbentuk oleh kondisi pada saat dimana keduanya hidup dalam suatu era yang sangat sulit dan sangat menyakitkan sebagai bangsa terjajah. Kondisi seperti itulah yang membentuk jiwa persaudaraan sejak berada dl pengasingan di Digul. Meskipun keduanya pernah hidup terpisah ketika mencari ilmu, Bung Hatta di Nederland dan Bung Karno di Bandung, tetapi keduanya disatukan oleh semangat untuk membawa bangsanya keluar dari kejamnya hidup dibawah kekuasaan penjajah.
“Jadi , tantangan berat yang menghadang didepan merupakan rangsangan atau dorongan yang dapat memadukan semangat perjuangan keduanya sehingga terbentuk “ dwi tunggal “. Keduanya disatukan bukan dari sejak kecil, tetapi berkembang bersama ketika berjumpa ditengah perjuangan yang berat. Justru karena kondisi perjuangan yang sulit itulah yang membentuk jiwa kesatuan atau dwi tunggal diantara keduanya,” kata mantan Waka-BIN tersebut kepada awak media, Minggu, 23/7/23..
Ia melanjutkan, Sesuai perkiraan sejumlah ahli , Indonesia dan bahkan dunia akan menghadapi situasi yang sangat sulit seperti disinggung diatas. Demikianlah , Indonesia kedepan membutuhkan hadirnya “dwi tunggal” yang memiliki kedalam visi dan logika. (Red 01)












