Kab Semarang, NASIONALNEWS.CO.ID – Dalam kurikulum merdeka Sistem Pendidikan Nasional Indonesia pembelajaran dapat diselenggarakan dimana saja tidak terbatas diruangan kelas.
Kurikulum merdeka dengan P5 memungkinkan peserta didik mendapatkan ilmu pengetahuan dengan semua sumber belajar, termasuk di dalamnya dengan nara sumber dan belajar langsung memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
TK Yayasan Hj. Solekah mengadakan outing kelas dengan mengenalkan kepada peserta didik tentang keragaman dan kemajemukan yang ada di Indonesia, salah satunya adanya keragaman agama.
“Untuk meningkatkan kesadaran adanya kemajemukan dan meningkatkan toleransi antara umat beragama dengan mengunjungi tempat ibadah seperti masjid Agung, gereja Jago Santo Yusup Ambarawa, Kelenteng dan juga Pura,” ungkap Hj. Solekah Rabu (7/2/23). Kepada media Nasionalnews.co.id
Di gereja rombongan anak- anak TK diterima oleh Romo Immanuel Anggun, SY, Heru Sunaryanto, Wenny Suteja dan Noor Hayati.
Dari TK dihadiri ibu KS dengan 5 orang guru pendamping dengan anak- anak TK berjumlah 75 murid.
“Disini di gereja Jago diawali dengan menyanyi bersama dipandu bu Noor Hayati “Matur nuwun” pesan moral dalam lagu adalah mengajarkan kepada anak untuk etika sopan santun dalam pergaulan untuk menyapa, mengucapkan terima kasih dan minta ijin,” ungkap Noor Hayati.
Sedini mungkin anak- anak TK ini diajari untuk bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai atau norna kesopanan. Setelah itu anak- anak diajak masuk ke dalam gereja, disini pengetahuan singkat tentang sejarah dan seluk beluk gereja diberitahukan oleh Heru Sunaryanto, “kemudian Romo Immanuel Anggun mengajak anak- anak untuk yel yel bersama gereja jago kukuruyuk, gereja jago kukuruyuk gereja jago kukuruk, setelah itu semua peserta dibagi menjadi 4 kelompok,” jelas Romo Immanuel.
Dalam kesempatan itu Romo Anggun menjelaskan tentang pengenalan altar gereja, Santo Yusup tidur, Santo Yusup meninggal.
“Heru Sunaryanto menjelaskan tentang Sejarah gereja dan seluk beluk gereja sementara itu Wenny Suteja tentang Keluarga kudus dan Santo Yusup meninggal dunia dan Noor Hayati menjelaskan tentang Pengenalan Reliique, Jalan Salib, Santo Yusup meninggal dunia dan Santo Yusup sebagai simbol bapa pekerja dan juga tidur (istirahat),” ungkap Heru.
“Gereja terbuka untuk berbagi pengetahuan kepada masyarakat luas. Terima kasih kepada Yayasan Pendidikan Solekah yang sudah berkenan mengunjungi gereja Santo Yusup Ambarawa, semoga toleransi semakin nyata dalam keutuhan NKRI” tutup Noor Hayati. (NANO)












