Berita  

Menikmati Sinar Matahari Pagi Ahad dengan Gaya Tradisional

Jakarta, 23 Juni 2024 – Pagi Ahad ini, suasana terasa lebih tenang dan damai bagi banyak orang yang memilih untuk menikmati sinar matahari pagi dengan cara yang khas dan tradisional. Di berbagai sudut kota, terlihat orang-orang mengenakan sarung dan peci hitam, menikmati cerutu sambil meresapi hangatnya mentari pagi.

Peci hitam atau songkok yang mereka kenakan memiliki sejarah panjang dan kaya. Asalnya dari Turki, peci telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya berbusana di banyak negara, termasuk Indonesia. Dengan desain yang sederhana namun elegan, peci hitam tidak hanya menjadi simbol keagamaan tetapi juga kebanggaan budaya.

Di sisi lain, sarung yang dikenakan memiliki latar belakang yang menarik. Pakaian ini berasal dari Myanmar dan sekitarnya, termasuk Bangladesh. Sarung kemudian menyebar luas ke berbagai negara di Asia Tenggara. Di Indonesia, sarung menjadi simbol kenyamanan dan kesederhanaan yang sering dipakai dalam berbagai kesempatan, mulai dari acara formal hingga kegiatan sehari-hari.

“Yang menarik, di antara negara-negara Arab, hanya orang Yaman yang dikenal kerap memakai sarung. Tradisi ini tidak ditemukan di kalangan bangsa Arab lainnya, termasuk Arab Saudi. Sarung Yaman, atau yang dikenal sebagai “ma’awis” atau “futah”, memiliki pola dan warna khas yang membedakannya dari sarung di negara lain,” kata mantan Waka-BIN itu kepada awak media nasionalnews.

Ahmad, seorang warga Jakarta yang ditemui saat menikmati pagi di taman kota, mengatakan, “Menghabiskan pagi dengan mengenakan sarung dan peci membuat saya merasa lebih terhubung dengan tradisi dan akar budaya. Ini adalah cara saya merayakan akhir pekan dengan ketenangan dan refleksi.”

“Pagi Ahad ini menjadi bukti bahwa di tengah modernisasi, banyak orang yang masih menghargai dan merayakan tradisi dengan cara-cara yang sederhana namun penuh makna. Menghisap cerutu, mengenakan sarung dan peci, serta menikmati sinar matahari pagi adalah cara mereka menyeimbangkan kehidupan modern dengan kekayaan budaya yang mereka warisi,” pungkasnya. (Red 01(