Jakarta – KH. As’ad Said Ali, seorang tokoh yang dikenal dengan pandangan kritisnya, menanggapi kekhawatiran akan potensi ekspansi militer Republik Rakyat Tiongkok (RRC) terhadap Indonesia. Menurutnya, kemungkinan terjadinya invasi militer dari RRC sangat kecil, mengingat secara historis RRC belum pernah melakukan invasi ke Indonesia.
“Aspek historis menunjukkan bahwa pada zaman Kerajaan Kediri, memang terjadi serangan dari Kaisar Ku Bilai Khan. Namun, perlu diingat bahwa Ku Bilai Khan adalah bangsa Mongol yang saat itu menjajah Tiongkok, bukan Tiongkok sendiri,” jelas KH. As’ad Said Ali. “Serangan tersebut akhirnya dipukul mundur oleh pasukan yang dipimpin oleh Aria Wiraraja, yang loyal kepada Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.”
KH. As’ad Said Ali lebih lanjut menjelaskan bahwa jika RRC ingin menguasai Indonesia, strategi yang paling mungkin adalah melalui subversi, yaitu dengan memobilisasi warga keturunan Tionghoa di Indonesia. Sejak zaman Orde Baru, potensi ini sudah diantisipasi melalui pembentukan organisasi INTI, yang bertujuan menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam diri warga keturunan Tionghoa.
“Ketika saya menjabat sebagai Wakabin, hubungan BIN dengan INTI sangat intens. Salah satu kenangan tak terlupakan adalah teman-teman INTI menerjemahkan buku karangan saya ‘NEGARA PANCASILA – JALAN KEMASLAHATAN BERBANGSA’ ke dalam bahasa Mandarin dan menyebarluaskannya kepada seluruh anggotanya,” kenang mantan Waka BIN itu di media sosialnya.
Ia menegaskan bahwa esensi dari strategi tersebut adalah menjadikan warga keturunan Tionghoa sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia melalui internalisasi nilai-nilai Pancasila dan perlakuan yang adil. Namun, dalam satu dekade terakhir, strategi ini terabaikan. “Yang terjadi kemudian adalah strategi mendatangkan tenaga kerja dari Cina daratan secara masif tanpa peningkatan kualitas tenaga kerja dalam negeri, sehingga timbul kecemburuan dengan berbagai dampak negatifnya,” tambahnya. Rabu, 10/7/24.
KH. As’ad Said Ali menaruh harapan besar kepada pemerintah baru di bawah pimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ia yakin bahwa pemerintah telah mempersiapkan strategi yang tepat untuk menangani isu ini. “Hubungan baik dan saling menguntungkan antara Indonesia dan Tiongkok akan menjadi jaminan atas stabilitas kawasan Laut Cina Selatan, yang merupakan jalur perdagangan strategis dan paling penting di dunia,” tutupnya.
*Redaksi*












