Berita  

Apel Kader Penggerak NU 2017: Upaya Cegah Kebangkitan PKI yang Disalahpahami Sebagai Kaderisasi Terorisme

Jakarta – Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) KH. As’ad Said Ali mengungkapkan kisah menarik di balik Apel Kader Penggerak NU yang berlangsung pada 2017 lalu. Acara ini diadakan untuk memperkuat militansi generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) dan sebagai respons atas kekhawatiran kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). TNI, termasuk beberapa purnawirawan, turut mendukung apel ini, yang dihadiri oleh beberapa mantan perwira tinggi, di antaranya Letjen (Purn.) Kiki Syahnakri.

Acara dimulai dengan dzikir bersama dari tengah malam hingga subuh, kemudian dilanjutkan apel kader dari pukul 06.00 hingga 08.00 pagi. Namun, di tengah berlangsungnya kegiatan, hadir seorang utusan dari Universitas Islam Sanaa, Yaman, yang memiliki agenda lain, yaitu bertemu seorang tokoh dari Solo. Sang utusan bermaksud memindahkan pusat kaderisasi mereka ke wilayah Solo dengan bantuan tokoh yang dianggap sepaham.

Namun, rencana pemindahan tersebut dibatalkan karena intelijen nasional berhasil mendeteksi tujuan terselubung dari kunjungan itu. Meski demikian, KH. As’ad menegaskan bahwa Apel Kader NU tersebut tidak ada kaitannya dengan terorisme. “Tujuan utama acara ini adalah untuk memperkuat militansi generasi muda NU dan membantu memenuhi permintaan para purnawirawan TNI untuk mencegah kebangkitan PKI,” jelasnya.(3/11/24)

Peristiwa ini menjadi salah tafsir bagi beberapa pihak yang menganggap acara tersebut sebagai bagian dari gerakan radikal. KH. As’ad menutup pernyataannya dengan mengatakan bahwa kejadian ini adalah salah satu kehendak Allah SWT, yang penuh hikmah dan tidak terduga.