Berita  

Semangat Kartini di Era Modern: Dari Simbol ke Aksi Nyata

JAKARTA, NASIONALNEWS.CO.ID – Peringatan Hari Kartini setiap tahunnya bukan sekadar mengenang sosok Raden Ajeng Kartini, tetapi menjadi momentum penting untuk merefleksikan sejauh mana perjuangan emansipasi perempuan telah berjalan di Indonesia.

Melalui pemikiran-pemikirannya yang tertuang dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini telah menyalakan obor perubahan. Namun, di tengah dinamika zaman modern, tantangan baru terus bermunculan. Apakah semangat itu masih hidup? Berikut wawancara mendalam yang menggali makna Kartini dari perspektif masa kini.

Demikianlah petikan Wawancara Khusus Redaksi Nasionalnews bersama Anggota DPD RI, Periode 2019 – 2024. Hj Andi Nirwana Sebbu, Pada hari Selasa, 21 April 2026.

Redaksi: Apa makna R.A. Kartini bagi Anda secara pribadi?

Jawab:
Bagi saya, Raden Ajeng Kartini adalah simbol keberanian berpikir dan bertindak di tengah keterbatasan zaman. Ia bukan hanya tokoh sejarah, tetapi representasi dari perempuan yang berani bermimpi besar.
Kartini mengajarkan bahwa pendidikan adalah fondasi utama perubahan. Perempuan yang terdidik bukan hanya mampu mengangkat derajat dirinya, tetapi juga membangun keluarga dan bangsa.

Lebih dari itu, Kartini tidak mengajarkan persaingan antara laki-laki dan perempuan. Ia justru menginginkan kesetaraan—bahwa perempuan dan laki-laki bisa berjalan berdampingan, saling mendukung, dan saling menguatkan.

Makna inilah yang menurut saya harus terus dijaga. Menjadi perempuan hari ini berarti melanjutkan perjuangan itu: tangguh, cerdas, dan mampu beradaptasi di berbagai bidang kehidupan.

Tanya: Apakah semangat Kartini masih relevan di era modern saat ini?

Jawab:
Sangat relevan, bahkan semakin penting.
Di satu sisi, perempuan Indonesia sudah mengalami banyak kemajuan—akses pendidikan semakin terbuka, peluang kerja semakin luas, dan ruang publik mulai lebih inklusif.
Namun di sisi lain, ketimpangan masih nyata. Masih banyak perempuan yang harus putus sekolah karena menikah di usia muda. Di beberapa lingkungan, perempuan masih dibatasi ruang geraknya dengan alasan budaya atau “kodrat”.

Dalam dunia kerja, perempuan juga kerap menghadapi diskriminasi, baik dalam kesempatan maupun penghargaan. Begitu pula dalam kepemimpinan, representasi perempuan masih belum seimbang.
Semua ini menunjukkan bahwa semangat Kartini bukan hanya relevan, tetapi masih sangat dibutuhkan.

Tanya: Bagaimana Anda memaknai emansipasi perempuan di Indonesia hari ini?

Jawab:
Emansipasi hari ini telah bergeser maknanya.
Jika dulu perjuangan adalah untuk mendapatkan hak, kini fokusnya adalah memastikan keadilan benar-benar dirasakan. Bukan lagi sekadar “boleh atau tidak,” tetapi “setara atau belum.”

Ketika seorang perempuan masih harus meminta izin untuk menentukan pilihan hidupnya—baik dalam pendidikan, karier, maupun peran sosial—maka perjuangan itu belum selesai.

Emansipasi yang sesungguhnya adalah ketika perempuan memiliki kebebasan yang bertanggung jawab, dihargai pilihannya, dan dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan.

Tanya: Apakah peringatan Hari Kartini hanya sebatas seremoni tanpa dampak nyata?

Jawab:
Realitanya bisa terjadi keduanya.
Di satu sisi, peringatan Kartini sering kali hanya diisi dengan simbol—lomba kebaya, riasan tradisional, hingga berbagai kegiatan seremonial lainnya. Sayangnya, makna mendalam dari perjuangan Kartini sering kali terpinggirkan.

Namun di sisi lain, jika dimaknai dengan benar, peringatan ini bisa menjadi ruang refleksi dan edukasi yang kuat.
Yang perlu ditekankan adalah substansi, bukan sekadar tampilan. Semangat Kartini bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, tetapi pada keberanian berpikir kritis, menyuarakan pendapat, dan memperjuangkan keadilan.
Tanya: Mengapa kekerasan terhadap perempuan masih terjadi meski semangat Kartini terus digaungkan?

Jawab:
Karena perubahan tidak cukup hanya dengan semangat.
Masalah kekerasan terhadap perempuan berkaitan erat dengan struktur sosial, budaya, dan pola pikir yang sudah mengakar. Selama masih ada ketimpangan relasi kuasa dan kurangnya kesadaran akan kesetaraan, kekerasan akan terus terjadi.
Kartini memang telah menyalakan obor, tetapi jalan menuju terang masih panjang. Diperlukan peran bersama—pemerintah, masyarakat, keluarga, hingga individu—untuk menciptakan lingkungan yang aman dan adil bagi perempuan.
Selain itu, penting juga untuk membangun keberanian dan kesadaran perempuan agar mampu melindungi diri dan memperjuangkan haknya.

Tanya: Apakah kebijakan yang ada saat ini sudah berpihak pada perempuan?

Jawab:
Jika dibandingkan dengan masa Kartini, tentu sudah jauh lebih baik.
Berbagai kebijakan dan regulasi telah hadir untuk melindungi hak perempuan dan mendorong kesetaraan. Namun, tantangan terbesar bukan hanya pada kebijakan, melainkan pada implementasinya.

Masih ada kesenjangan antara aturan dan realita di lapangan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan dalam pelaksanaan kebijakan agar benar-benar memberikan dampak nyata.
Kebijakan yang berpihak pada perempuan harus mampu menjamin akses, perlindungan, dan kesempatan yang setara di semua sektor.

Menyalakan Kembali Api Kartini
Peringatan Hari Kartini seharusnya menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ini adalah panggilan untuk bertindak.

Warisan pemikiran Raden Ajeng Kartini menuntut kita untuk tidak berhenti pada simbol, tetapi bergerak menuju perubahan nyata.
Kartini telah membuka jalan. Kini, tugas generasi perempuan Indonesia adalah melanjutkan langkah tersebut—mewujudkan kesetaraan yang bukan hanya digaungkan, tetapi benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena pada akhirnya, semangat “habis gelap terbitlah terang” bukan sekadar kata-kata, melainkan harapan yang harus terus diperjuangkan.

(Red-03)