Berita  

Merawat Tradisi Adat Pernikahan Agar Tak Punah

JAKARTA, – 35 tahun berkecimpung di dunia tata rias dan pernikahan membuat Yulie Santoso menyaksikan sendiri perubahan besar dalam tradisi pernikahan. Dari ritual adat yang sarat filosofi hingga intimate wedding yang kini menjadi pilihan generasi Z. Bagi Yulie, budaya boleh berubah bentuk, tetapi tidak seharusnya kehilangan makna.
Pernikahan bukan sekadar perayaan. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya dalam tradisi Jawa, setiap tahapan pernikahan dahulu memiliki makna yang begitu dalam. Siraman, midodareni, akad, hingga berbagai upacara adat merupakan rangkaian yang tidak hanya memperindah prosesi, tetapi juga menyimpan doa dan harapan bagi kehidupan rumah tangga pengantin.

Namun, zaman berubah. Selera generasi muda pun ikut bergeser.

Perubahan itulah yang selama puluhan tahun diamati Yulie Santoso, pemilik GEA (Griya Eigina Ayu & Co.). Selama kurang lebih 35 tahun menggeluti dunia tata rias dan pernikahan, Yulie melihat bagaimana pernikahan tradisional perlahan bertransformasi menjadi konsep yang lebih praktis, sederhana, dan personal.
“Kalau zaman dulu, orang mau menikah bisa sampai tiga hari tiga malam. Ada siraman, midodareni, berbagai upacara adat, kemudian akad dan rangkaian ritual yang penuh filosofi,” tutur Yulie, ketika ditemui Wartawan di kediamannya, Jumat (21/8/26).

Setiap ritual, menurutnya, memiliki tujuan dan harapan. Para leluhur mewariskan filosofi dalam setiap prosesi sebagai doa agar pasangan pengantin dapat membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah dan langgeng.

Kini, sebagian besar generasi muda memandang pernikahan dengan cara berbeda. Mereka lebih mempertimbangkan kepraktisan, efisiensi biaya, dan pengalaman yang lebih personal.

“Anak-anak sekarang lebih memilih yang simpel, lebih intimate, dan lebih menghemat biaya. Daripada biaya dihabiskan untuk wedding satu, dua, atau tiga hari, lebih baik digunakan untuk kehidupan mereka setelah menikah, misalnya untuk rumah atau kebutuhan lainnya,” jelasnya.

Dari Panitia Keluarga ke Wedding Organizer
Perubahan konsep juga mengubah cara sebuah pesta pernikahan dipersiapkan.
Dahulu, keluarga menjadi pusat pengelolaan acara. Panitia keluarga mengurus hampir seluruh kebutuhan pernikahan. Kini, peran tersebut banyak digantikan oleh wedding organizer atau WO.

Calon pengantin tidak perlu lagi berhubungan dengan banyak vendor secara langsung. WO menjadi satu pintu yang mengatur katering, dekorasi, MC, hingga berbagai kebutuhan teknis lainnya.

Menurut Yulie, ada WO yang murni bertugas mengatur dan mengoordinasikan vendor. Ada pula WO yang memiliki properti dan perlengkapan sendiri serta bekerja dengan tim untuk menyiapkan seluruh kebutuhan acara.

Perubahan ini juga membuat strategi bisnis ikut bergerak. Jika dahulu kepercayaan dibangun melalui pertemuan langsung dan pelayanan personal, kini media sosial menjadi salah satu ujung tombak untuk menjangkau calon klien.

“Ke depannya yang paling penting adalah menguatkan media sosial, karena pasar kita memang ada di situ,” ujar Yulie.

Ketika Orang Tua Mengikuti Anak
Salah satu perubahan paling terasa adalah bergesernya posisi pengambil keputusan.
Jika dahulu calon pengantin mengikuti keinginan orang tua, kini justru sebaliknya. Anak muda lebih berani menentukan konsep pernikahan sesuai selera mereka sendiri.

“Kalau zaman dulu anak mengikuti orang tua. Sekarang orang tua yang mengikuti anak,” kata Yulie.

Tidak jarang terjadi perbedaan keinginan antara orang tua dan anak. Orang tua menginginkan pernikahan adat lengkap, sementara sang anak memilih konsep modern.

Yulie pernah mengalami kejadian sebagai pengalamannya keduanya bahkan memilih mengadakan acara masing-masing: anak menggelar wedding dengan konsep yang diinginkannya, sementara orang tua mengadakan acara adat tersendiri.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pernikahan kini semakin menjadi ruang ekspresi bagi pasangan muda.

Identitas Budaya dalam Busana Modern
Perubahan juga terlihat dalam busana pengantin. Meningkatnya penggunaan hijab turut mengubah cara identitas budaya ditampilkan.

“Pengantin sekarang bisa berhijab dengan busana nasional, Jawa, Sunda, atau lainnya. Identitas budayanya bisa ditampilkan melalui busana dan aksesori,” jelas Yulie.

Dengan demikian, modernisasi tidak selalu berarti menghapus budaya. Tradisi dapat bertransformasi mengikuti kebutuhan zaman.

Intimate Wedding, Pilihan Generasi Z
Konsep intimate wedding kini menjadi salah satu pilihan yang semakin populer. Jumlah tamu lebih terbatas, venue lebih kecil atau outdoor, dan suasana dibuat lebih personal.
Bagi generasi muda, mengundang banyak orang bukan lagi ukuran utama sebuah pesta pernikahan.

“Anak-anak sekarang kalau mengundang seseorang, mereka berpikir, ‘Saya harus kenal orang itu.’ Kalau yang diundang teman ibu atau teman bapak dan saya tidak kenal, buat apa?” ujar Yulie.

Pergeseran tersebut ikut berdampak pada penggunaan venue. Gedung-gedung besar tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan. Konsep yang lebih kecil, outdoor, dan intimate justru semakin mendapat tempat.
Budaya Tidak Hilang, tetapi Bertransformasi
Meski melihat adanya penurunan minat terhadap rangkaian adat yang lengkap, Yulie tidak menganggap budaya telah sepenuhnya hilang.

Di sejumlah daerah, terutama wilayah Jawa, pernikahan dengan konsep adat masih memiliki peminat. Bahkan Yulie masih menerima klien yang menginginkan prosesi adat lengkap dengan berbagai ritualnya.
Namun, ia menyadari bahwa pelaku usaha di bidang budaya juga harus mampu membaca perubahan pasar.

“Sebetulnya kita sebagai orang-orang budaya harus mempertahankan semuanya. Tetapi kita juga harus tahu siapa yang kita hadapi,” ungkapnya.

Bagi Yulie, mempertahankan budaya tidak berarti memaksakan seluruh tradisi kepada generasi muda. Ada ruang untuk beradaptasi, selama nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap dihargai.
Melangkah ke Masa Depan
Berbekal pengalaman selama 35 tahun, Yulie memilih untuk tidak mempertentangkan tradisi dan modernitas. GEA tetap memiliki kemampuan menangani pernikahan adat secara lengkap, sekaligus mengembangkan konsep wedding organizer yang lebih sesuai dengan kebutuhan generasi sekarang.

“Kalau saya sendiri sebenarnya bisa menjalankan dua konsep. Karena saya orang adat, saya bisa dengan adat lengkap, bisa juga dengan WO. Yang sekarang ingin saya kembangkan adalah WO-nya, karena konsep adat memang sudah mulai menurun,” ujarnya.

Pada akhirnya, perubahan wajah pernikahan adalah bagian dari perubahan masyarakat itu sendiri. Tradisi mungkin tidak lagi hadir dengan bentuk yang sama seperti dahulu. Namun, selama masih ada generasi yang menghargai maknanya dan pelaku budaya yang bersedia beradaptasi, tradisi masih memiliki kesempatan untuk terus hidup.

“Budaya itu belum hilang, tetapi mulai tersingkirkan oleh perubahan zaman. Kita harus tetap mempertahankannya, sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan generasi sekarang.” tutup Yulie.

(*)