Opini  

GENGSI DIGITAL & JERAT UTANG Oleh: Siti Nuraisyah Suwanda, S.T., M.M., Ph.D. (Cand.) PhD in Marketing – West Virginia University

Mengurai tekanan sosial, consumption stigma, dan keputusan finansial di balik fenomena membeli demi pengakuan

Di era ketika layar ponsel menjadi cermin identitas, keputusan membeli tidak lagi sekadar soal kebutuhan, melainkan soal makna. Banyak orang rela berutang demi memiliki iPhone terbaru—bukan karena perangkat lama tak berfungsi, tetapi karena takut tertinggal dalam hierarki sosial yang tak kasatmata. Fenomena ini mengungkap satu realitas penting: konsumsi telah berubah menjadi bahasa status. Di baliknya, bekerja sebuah kekuatan psikologis dan sosial yang dikenal sebagai consumption stigma—dorongan halus namun kuat yang mampu mengubah rasa tidak nyaman menjadi keputusan finansial yang berisiko.

Konsumsi sebagai Bahasa Status

Dalam masyarakat modern, barang bukan lagi sekadar alat pemenuh fungsi. Ia telah menjadi simbol. Ponsel, sepatu, kendaraan, hingga tempat nongkrong—semuanya berbicara tentang siapa kita, atau setidaknya, siapa yang ingin kita tampilkan.

Ketika seseorang memilih iPhone terbaru, pesan yang sering terbaca bukan hanya “saya butuh teknologi canggih,” tetapi juga “saya mampu,” “saya update,” atau “saya bagian dari kelompok tertentu.” Sebaliknya, ketika seseorang bertahan dengan perangkat lama, ada risiko dipersepsikan sebaliknya—meskipun persepsi itu tidak selalu benar.

Di titik inilah konsumsi berubah menjadi bahasa sosial. Ia menjadi alat komunikasi non-verbal yang sering kali lebih kuat daripada kata-kata.

Apa Itu Consumption Stigma?

Consumption stigma adalah kondisi ketika individu merasa dinilai atau diberi label sosial berdasarkan pilihan konsumsi mereka—baik karena menggunakan atau tidak menggunakan produk tertentu.

Stigma ini bisa bersifat eksternal (dari orang lain) maupun internal (dari diri sendiri). Bahkan, dalam banyak kasus, tekanan terbesar justru datang dari persepsi yang kita bangun sendiri tentang bagaimana orang lain melihat kita.

Akibatnya, keputusan konsumsi tidak lagi sepenuhnya rasional. Ia menjadi respons terhadap tekanan sosial yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat terasa.

Dari Rasa Tidak Nyaman ke Keputusan Finansial

Awalnya mungkin hanya rasa kecil: sedikit tidak percaya diri saat melihat orang lain menggunakan barang yang lebih “premium”. Namun, jika dibiarkan, rasa ini dapat berkembang menjadi dorongan kuat untuk menyesuaikan diri.

Di sinilah muncul fenomena compensatory consumption—ketika seseorang membeli sesuatu yang lebih mahal untuk mengompensasi perasaan kurang atau untuk menghindari penilaian negatif.

Dalam konteks Indonesia, fenomena ini semakin kompleks karena adanya akses kredit yang sangat mudah. Pinjaman online (pinjol) dan layanan buy now pay later membuat batas antara “ingin” dan “mampu” menjadi kabur.

Seseorang bisa saja tidak memiliki dana untuk membeli iPhone terbaru hari ini, tetapi tetap bisa membawanya pulang dengan skema cicilan. Masalahnya, keputusan ini sering kali tidak mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Jerat Halus Ekonomi Cicilan

Kemudahan akses kredit adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membuka peluang—memungkinkan masyarakat memenuhi kebutuhan mendesak atau meningkatkan kualitas hidup. Namun di sisi lain, ia juga dapat mendorong konsumsi impulsif.

Ketika consumption stigma bertemu dengan kemudahan kredit, terciptalah kombinasi yang berbahaya. Tekanan sosial mendorong keinginan, sementara akses finansial mempermudah realisasi.

Akibatnya, tidak sedikit individu yang terjebak dalam siklus utang konsumtif. Cicilan yang awalnya tampak ringan perlahan menumpuk, menggerus stabilitas keuangan, dan dalam beberapa kasus, memicu stres serta kecemasan.

Media Sosial dan Standar yang Tak Realistis

Peran media sosial dalam memperkuat consumption stigma tidak bisa diabaikan. Platform digital telah menciptakan ruang di mana kehidupan ditampilkan secara selektif—hanya sisi terbaik yang diperlihatkan.

Feed yang penuh dengan gadget terbaru, liburan mewah, dan gaya hidup premium membentuk standar sosial baru. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan diri dengan gambaran yang sebenarnya tidak utuh.

Perbandingan ini melahirkan tekanan: untuk mengikuti, untuk menyesuaikan, untuk tidak tertinggal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengaburkan batas antara kebutuhan nyata dan kebutuhan yang dibentuk oleh ekspektasi sosial.

Psikologi di Balik Gengsi

Pada dasarnya, manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk diterima dan dihargai. Konsumsi menjadi salah satu cara tercepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut, karena ia terlihat, nyata, dan mudah dikenali.

Namun, ketika harga diri terlalu bergantung pada simbol eksternal, individu menjadi rentan. Setiap perubahan tren dapat memicu rasa tidak aman baru, menciptakan siklus konsumsi yang tidak pernah selesai.

Gengsi, dalam hal ini, bukan sekadar sikap. Ia adalah mekanisme psikologis yang berakar pada kebutuhan akan pengakuan sosial.

Ketika Stigma Berubah Arah

Menariknya, stigma konsumsi tidak bersifat statis. Ia dapat berubah seiring waktu dan konteks sosial.

Beberapa tahun lalu, menggunakan barang bekas mungkin dianggap memalukan. Kini, thrifting justru menjadi tren yang identik dengan kesadaran lingkungan. Produk lokal yang dulu dipandang sebelah mata kini menjadi simbol kebanggaan.

Perubahan ini menunjukkan bahwa makna konsumsi adalah konstruksi sosial. Jika masyarakat mengubah cara pandangnya, maka stigma pun ikut berubah.

Social Marketing: Mengubah Perilaku, Bukan Sekadar Menjual

Di tengah dinamika ini, muncul pendekatan yang menawarkan perspektif berbeda: social marketing. Pendekatan ini menggunakan prinsip pemasaran untuk mendorong perubahan perilaku yang bermanfaat bagi masyarakat.

Alih-alih sekadar meningkatkan penjualan, social marketing berfokus pada pemahaman mendalam tentang audiens—apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka rasakan, dan apa yang menghambat mereka untuk berubah.

Pendekatan ini menyadari bahwa informasi saja tidak cukup. Perubahan perilaku membutuhkan strategi yang mempertimbangkan norma sosial, kebiasaan, dan kenyamanan.

Dalam konteks consumption stigma, social marketing dapat membantu menggeser narasi: dari konsumsi berbasis gengsi menuju konsumsi berbasis kebutuhan dan nilai.

Peran Brand dalam Membentuk Narasi Sosial

Brand memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi. Melalui komunikasi dan positioning, mereka dapat menentukan apa yang dianggap “bernilai” oleh masyarakat.

Dalam era modern, semakin banyak perusahaan yang mengadopsi konsep Triple Bottom Line: people, planet, profit. Artinya, keberhasilan tidak hanya diukur dari keuntungan, tetapi juga dari dampak sosial dan lingkungan.

Brand yang mendorong kesadaran finansial, keberlanjutan, dan gaya hidup sehat tidak hanya membangun loyalitas, tetapi juga membantu menciptakan ekosistem konsumsi yang lebih sehat.

Menuju Konsumsi yang Lebih Sadar dan Berdaulat

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah “apa yang orang lain pikirkan tentang saya?”, melainkan “apa yang benar-benar saya butuhkan?”

Consumption stigma akan selalu ada dalam berbagai bentuk. Namun, kesadaran dapat menjadi penyeimbang. Dengan memahami bahwa banyak tekanan berasal dari konstruksi sosial, kita dapat mengambil jarak—dan memilih dengan lebih bijak.

Menggunakan ponsel lama bukanlah kegagalan. Tidak mengikuti tren bukan berarti tertinggal. Justru, kemampuan untuk menentukan pilihan secara mandiri adalah bentuk kebebasan yang sesungguhnya.

Di dunia yang terus mendorong kita untuk memiliki lebih, mungkin keberanian terbesar adalah merasa cukup.

Mengembalikan Makna pada Konsumsi

Konsumsi seharusnya melayani manusia, bukan sebaliknya. Ia ada untuk memenuhi kebutuhan, bukan untuk menentukan nilai diri.

Ketika kita mampu memisahkan antara kebutuhan dan tekanan sosial, kita tidak hanya melindungi kondisi finansial, tetapi juga menjaga kesehatan mental dan integritas diri.

Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang bernilai bukanlah apa yang ia miliki—melainkan bagaimana ia memilih untuk hidup.