Jakarta – KH. As’ad Said Ali menggambarkan keindahan malam dengan bulan di langit biru, memulai refleksinya tentang pengalaman spiritual ibadah haji. Dalam tulisannya, beliau mengajak kita membayangkan persiapan menuju padang Arafah pada pagi hari Sabtu, di tengah cuaca panas bulan Agustus dengan suhu mencapai 40 hingga 45 derajat Celsius.
Kesetaraan di Padang Arafah
Beliau melukiskan suasana di padang Arafah, tempat berkumpulnya jutaan jamaah haji dari seluruh dunia. Dengan pakaian putih ihram, para jamaah berdoa dari pagi hingga senja, menunjukkan kesetaraan di hadapan Allah tanpa memandang status sosial, kekayaan, atau jabatan. “Semua jamaah setara tanpa pandang bulu si kaya atau miskin, pejabat atau rakyat biasa,” tulis KH. As’ad Said Ali, mantan Waka-BIN itu,” Minggu, 16/6/24.
Perjalanan Menuju Muzdalifah dan Mina
Setelah melaksanakan wukuf di Arafah, jamaah haji mulai bergerak serentak setelah sholat Maghrib menuju Muzdalifah dan Mina, tetap mengenakan pakaian ihram. Perjalanan ini merupakan bagian penting dari rangkaian ritual haji, menggambarkan semangat kebersamaan dan ketulusan dalam menjalankan ibadah.
Pengalaman Pribadi yang Menginspirasi
KH. As’ad Said Ali juga mengekspresikan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan Allah untuk beberapa kali menunaikan ibadah haji bersama keluarganya, mengingat masa hidup mereka di tanah suci. “Alhamdulillah beberapa kali saya dan keluarga melakukan ibadah haji karena pernah hidup di sana. Subhanallah Wal Hamdulillah,” ungkapnya.
KH. As’ad Said Ali menggambarkan keindahan dan kesucian ibadah haji, serta mengingatkan kita akan nilai kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan ritual suci tersebut. Semoga pengalaman beliau dapat menginspirasi kita semua dalam menjalankan ibadah dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. (Red 01)












