Jakarta – Tatang Zaenudin menegaskan bahwa Indonesia harus berani mengambil sikap tegas dalam dinamika geopolitik global, termasuk mempertimbangkan mundur dari Board of Peace (BOP) jika organisasi tersebut dinilai menyimpang dari prinsip dasar perdamaian dan keadilan internasional.
Dalam pernyataannya, Tatang menekankan bahwa komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia tidak boleh dikompromikan oleh kepentingan politik tertentu yang justru merusak esensi lembaga internasional.
“Indonesia telah lama berdiri di garis depan dalam memperjuangkan perdamaian global yang adil. Namun, kita tidak boleh mengorbankan prinsip dan kepentingan nasional hanya demi tetap menjadi bagian dari lembaga yang kehilangan arah,” ujarnya. 2/4/2026.
Menurutnya, opsi mundur dari BOP bukanlah bentuk sikap anti kerja sama internasional, melainkan langkah strategis untuk menjaga kredibilitas Indonesia sebagai negara yang konsisten dalam menjunjung nilai keadilan dan netralitas.
Ia juga menyoroti bahwa BOP seharusnya berfungsi sebagai forum yang objektif dan bebas dari kepentingan geopolitik sempit. Jika lembaga tersebut justru menjadi alat dominasi pihak tertentu, maka Indonesia perlu mengevaluasi keanggotaannya secara serius.
“Kerja sama internasional harus dilandasi rasa saling menghormati dan kesetaraan, bukan tekanan atau paksaan. Jika itu tidak terpenuhi, maka kita harus berani mengambil sikap,” tegasnya.
Lebih lanjut, Tatang menyampaikan bahwa Indonesia tetap akan memainkan peran aktif dalam upaya perdamaian global melalui jalur lain yang lebih sejalan dengan prinsip bangsa. Ia menekankan pentingnya memperkuat peran Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta meningkatkan kerja sama regional, khususnya di kawasan ASEAN dan negara-negara Global South.
Di sisi lain, ia juga menyoroti pentingnya penguatan kapasitas dalam negeri, mulai dari diplomasi perdamaian, mediasi konflik, hingga bantuan kemanusiaan yang netral. Menurutnya, stabilitas nasional menjadi fondasi utama bagi kontribusi Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia.
“Kontribusi global harus dimulai dari kekuatan internal. Ketahanan ekonomi, keamanan nasional, dan harmoni sosial adalah kunci agar Indonesia tetap menjadi aktor perdamaian yang kredibel,” jelasnya.
Menutup pernyataannya, Tatang kembali menegaskan bahwa Indonesia harus berani secara terbuka menyatakan kesiapan mundur dari BOP apabila tidak ada perbaikan signifikan dalam pelaksanaan mandat organisasi tersebut.
“Ini bukan sekadar wacana, tetapi sikap tegas bahwa Indonesia tidak hanya berbicara tentang perdamaian, melainkan juga siap bertindak untuk menjaganya,” pungkasnya. (Red 01)












