Berita  

Nasaruddin Umar Menguat Jelang Muktamar NU, PBNU: Jejak Katib Aam Jadi Modal Besar Menuju Kursi Ketum

Jakarta – Nama Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, semakin santer diperbincangkan menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU). Di tengah mulai menghangatnya dinamika suksesi kepemimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai Nasaruddin memiliki peluang kuat untuk mendapatkan dukungan luas dari kalangan nahdliyin.

Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, mengungkapkan bahwa rekam jejak Nasaruddin Umar di lingkungan NU menjadi salah satu faktor yang membuat namanya banyak diperbincangkan sebagai figur potensial menuju kursi Ketua Umum PBNU.

Menurut Gus Ipul, jika melihat pola kepemimpinan NU dalam beberapa dekade terakhir, jabatan Katib Aam PBNU sering kali menjadi jalur strategis yang mengantarkan seorang tokoh menuju posisi tertinggi organisasi.

“Prof Nasaruddin Umar pernah menjadi Katib Aam pada masa kepemimpinan KH Hasyim Muzadi. Jika melihat pengalaman dan statistik kepemimpinan yang ada selama ini, beliau memiliki potensi yang cukup besar,” ujar Gus Ipul saat meninjau persiapan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Kediri.

Meski demikian, Gus Ipul menegaskan bahwa dirinya tidak sedang memberikan dukungan politik kepada figur tertentu. Ia hanya menyampaikan fakta yang berkembang di kalangan warga NU menjelang Muktamar.

Menurutnya, dalam berbagai kunjungan ke sejumlah daerah, nama Nasaruddin Umar menjadi salah satu tokoh yang paling sering disebut sebagai calon pemimpin masa depan NU.

“Nama Prof Nasar memang cukup banyak disebut dalam berbagai forum dan pertemuan. Itu yang saya dengar dari berbagai kalangan. Namun, dinamika menuju Muktamar masih panjang dan segala kemungkinan tetap terbuka,” katanya. 17/6/2026.

Tradisi Katib Aam Menuju Puncak PBNU

Gus Ipul menjelaskan bahwa sejarah NU menunjukkan adanya pola menarik dalam proses regenerasi kepemimpinan. Dalam kurun sekitar empat dekade terakhir, sejumlah Ketua Umum PBNU berasal dari posisi Katib Aam.

Tokoh-tokoh besar seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Hasyim Muzadi, hingga Yahya Cholil Staquf pernah menduduki jabatan Katib Aam sebelum akhirnya dipercaya memimpin PBNU.

Fakta historis tersebut dinilai menjadi salah satu indikator kuat mengapa nama Nasaruddin Umar kini semakin diperhitungkan dalam percaturan internal NU.

Selain posisi Katib Aam, Gus Ipul juga menyebut jabatan Sekretaris Jenderal PBNU dan Ketua PWNU Jawa Timur sebagai posisi strategis yang selama ini banyak melahirkan tokoh sentral dan berpengaruh di tubuh organisasi.

Peta Muktamar Mulai Menghangat

Meskipun Muktamar NU masih menunggu waktu pelaksanaan, munculnya berbagai nama potensial menandakan bahwa proses konsolidasi dan komunikasi politik di kalangan nahdliyin mulai bergerak. Sejumlah pengamat menilai figur yang memiliki pengalaman organisasi, kapasitas intelektual, serta jaringan kuat di pesantren akan memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan dukungan.

Dalam konteks tersebut, Nasaruddin Umar dinilai memiliki kombinasi pengalaman birokrasi nasional, kapasitas keilmuan keislaman, dan rekam jejak organisasi yang membuat posisinya semakin diperhitungkan menjelang Muktamar NU mendatang.

Dengan dinamika yang terus berkembang, pertarungan menuju kursi Ketua Umum PBNU diperkirakan akan menjadi salah satu agenda paling menarik dalam perjalanan organisasi NU pada periode berikutnya. (Red 01)