Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas dan memunculkan kekhawatiran akan pecahnya konflik berskala luas. Hubungan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat semakin memburuk, sementara posisi negara-negara Barat terlihat tidak sepenuhnya solid. Dalam wawancara khusus bersama Redaksi NasionalNews di Jakarta, 2 Mei 2026, Mayjen TNI (Purn) H. Tatang Zaenudin mengulas perkembangan terkini, membedah berbagai klaim yang beredar, serta memberikan pandangan strategis bagi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Wawancara Khusus
Redaksi:
Bagaimana Anda melihat kondisi terkini konflik di Timur Tengah?
Mayjen (Purn) Tatang Zaenudin:
Situasi di Timur Tengah saat ini berada dalam fase yang sangat dinamis dan penuh ketidakpastian. Banyak informasi beredar yang menggambarkan kondisi seolah-olah sudah menuju perang besar, tetapi kita harus berhati-hati dalam menyimpulkan. Memang benar ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat meningkat, namun dinamika di lapangan tidak sesederhana narasi yang berkembang di publik. Ada unsur propaganda, perang informasi, dan kepentingan politik yang saling bertabrakan.
Redaksi:
Ada narasi bahwa Amerika mulai kehilangan dukungan dari sekutu NATO, khususnya Eropa. Bagaimana Anda menilai hal itu?
Tatang:
Saya melihatnya bukan sebagai kehilangan dukungan, melainkan adanya perbedaan pendekatan. Negara-negara Eropa cenderung lebih berhati-hati karena mereka mempertimbangkan dampak langsung terhadap stabilitas kawasan mereka sendiri, termasuk ekonomi dan keamanan energi. NATO sebagai aliansi masih ada dan berjalan, tetapi dalam praktiknya, setiap negara memiliki kepentingan nasional yang tidak selalu sejalan dengan Amerika.
Redaksi:
Bagaimana dengan klaim bahwa pangkalan-pangkalan Amerika di Timur Tengah mengalami kehancuran besar?
Tatang:
Dalam konteks konflik modern, informasi seperti itu harus diverifikasi secara ketat. Tidak semua klaim bisa langsung dipercaya. Memang ada serangan terhadap beberapa fasilitas militer, tetapi menyebut semuanya hancur total adalah pernyataan yang perlu bukti kuat. Kita harus membedakan antara fakta operasional dan narasi psikologis yang bertujuan mempengaruhi opini publik.
Redaksi:
Bagaimana kondisi dalam negeri Amerika sendiri di tengah konflik ini?
Tatang:
Tekanan domestik pasti ada. Dalam sistem demokrasi, protes terhadap perang adalah hal yang wajar. Kita melihat adanya demonstrasi, perdebatan di parlemen, dan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Namun, itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa negara tersebut melemah secara keseluruhan. Amerika tetap memiliki kapasitas ekonomi dan militer yang sangat besar.
Redaksi:
Lalu bagaimana Anda melihat kekuatan Iran dalam menghadapi Amerika?
Tatang:
Iran memiliki keunggulan dalam strategi asimetris, termasuk kemampuan rudal dan jaringan sekutu regional. Mereka juga memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi tekanan eksternal. Namun, jika dibandingkan secara keseluruhan, Amerika masih unggul dalam teknologi militer, logistik, dan jangkauan global. Jadi tidak tepat jika dikatakan Iran lebih kuat, tetapi juga tidak bisa diremehkan.
Redaksi:
Apakah Anda melihat kemungkinan perang besar benar-benar akan terjadi?
Tatang:
Kemungkinan itu selalu ada, tetapi semua pihak juga memahami risikonya sangat besar. Perang terbuka antara negara-negara besar akan berdampak global, termasuk ekonomi dunia. Oleh karena itu, yang lebih mungkin terjadi adalah konflik terbatas atau perang tidak langsung melalui pihak ketiga.
Redaksi:
Bagaimana peran PBB dalam situasi seperti ini?
Tatang:
PBB tetap penting sebagai forum diplomasi, tetapi efektivitasnya sering terbatas oleh kepentingan politik negara-negara besar di Dewan Keamanan. Ini realitas yang tidak bisa dihindari.
Redaksi:
Apa pelajaran strategis bagi Indonesia?
Tatang:
Indonesia harus konsisten pada prinsip politik luar negeri bebas aktif. Jangan terjebak dalam blok kekuatan mana pun. Selain itu, kita perlu memperkuat ketahanan nasional, baik di bidang pertahanan, energi, maupun ekonomi.
Redaksi:
Apa saran Anda jika konflik ini berlangsung lama?
Tatang:
Pemerintah harus fokus pada stabilitas dalam negeri. Lakukan efisiensi anggaran, prioritaskan sektor strategis, dan pastikan komunikasi kepada masyarakat berjalan dengan baik. Kesiapan nasional adalah kunci menghadapi situasi global yang tidak menentu.
Penutup:
Di tengah derasnya arus informasi dan spekulasi, pendekatan rasional dan berbasis fakta menjadi sangat penting. Wawancara ini menegaskan bahwa Indonesia perlu bersikap hati-hati, tidak terjebak dalam narasi konflik, serta tetap fokus memperkuat ketahanan nasional sebagai fondasi menghadapi dinamika geopolitik dunia. (Red 01)












