Seperti anak panah di tangan seorang pemburu, demikian pula setiap murid di tangan pendidiknya. Ragam kepribadian dan karakter yang dimiliki oleh murid tidak dapat disamakan atau dipaksakan agar menjadi serupa. Setiap anak memiliki potensi masing-masing untuk bertumbuh dan melalui proses di tiap tahap perkembangannya. Oleh karena itu, penting sekali membangun dasar atau pondasi yang kuat sejak usia dini. Baik itu melalui pola asuh orang tua di rumah, metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru di sekolah, maupun keterlibatan para praktisi pendidikan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Pendidik yang baik tidak hanya mengajar, namun juga mendidik. Pada lingkup lembaga satuan pendidikan, setiap pendidik diharapakan tidak hanya memberikan materi pelajaran sebagai kegiatan rutinitas belaka. Para pendidik perlu mengusahakan agar murid-muridnya tidak sekadar paham dengan materi yang disampaikan, akan tetapi dapat mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari. Guru yang mengajar cenderung akan lebih fokus pada tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, target yang harus dipenuhi, serta pertanggungjawaban terkait nilai atau hasil belajar murid. Sebaliknya, guru yang mendidik tidak hanya berorientasi pada hasil, melainkan proses yang harus dilalui oleh murid dalam mengerjakan dan memecahkan kesulitan yang dihadapinya.
Pendidik yang bijak tidak akan menghardik muridnya yang belum dapat memahami dan menuntaskan materi yang diberikan. Kesabaran guru juga ada batasnya, namun guru yang baik akan terus mencarikan solusi agar muridnya dapat mengerti. Guru mungkin sedikit tidak sabar ketika menghadapi murid yang termasuk dalam kategori lamban belajar (slow learner). Biasanya, guru akan mulai naik pitam, menaikkan volume suara dengan nada tinggi, hingga berujung menghardik muridnya. Perkataan sinis berupa sindiran, membandingkan, atau bahkan ancaman dapat berdampak buruk bagi perkembangan murid. Sebagian dari mereka akan menjadi rendah diri, memilih menyendiri, dan sulit untuk diajak kompromi.
Mendidik murid dapat dilakukan dengan cara mengulik kepribadian dan latar belakangnya. Guru sebagai pendidik perlu meluangkan waktu untuk murid-muridnya di luar jam pembelajaran di kelas. Mungkin sekadar menanyakan kabar orang tua, aktivitas keseharian, dan juga harapan dan cita-cita muridnya. Guru yang peduli dengan keberadaan muridnya akan membawa muridnya menemukan versi terbaik mereka. Baik itu dalam hal belajar, menjalankan kewajiban, serta bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Guru yang disukai muridnya adalah sosok pribadi yang mau menerimanya dalam segala kondisi dan tidak lekas menghakimi tanpa melakukan pendekatan dan penelusuran terlebih dahulu.
Menjadi pendidik yang bijak membidik dipahami sebagai langkah penting bagi guru, khususnya dalam hal pemetaan karakteristik murid. Salah satunya adalah gaya belajar yang dimiliki oleh murid. Ketika guru sudah menemukan gaya belajar yang tepat, maka akan lebih mudah bagi murid untuk menangkap dan menyerap materi pelajaran. Selain itu, fokus membidik juga berkaitan dengan potensi yang digali oleh guru. Setiap murid memiliki bakat dan minat yang dapat dikembangkan menjadi sebuah prestasi yang layak untuk diapresiasi. Pendidik yang bijak membidik akan menemukan talenta muridnya secara optimal.
Tugas pendidik sebagai pembidik adalah mengarahkan dan memusatkan agar murid dapat tepat pada sasaran. Target yang dimaksudkan bukan berasal dari kemauan guru melainkan kemampuan dasar dan ketekunan murid dalam membangun diri untuk terus berlatih dan fokus belajar. Peran guru sebagai fasilitator adalah membimbing dan menuntun murid, memberikan teladan yang baik, serta memotivasi agar murid dapat mengembangkan dirinya dengan maksimal. Dalam hal ini, murid melakukan petunjuk dan arahan guru dengan penuh kedasaran tanpa unsur paksaan ataupun tekanan.
Mendidik tidak dapat dilakukan dengan asal-asalan dan juga bermalas-malasan. Demikian pula membidik, perlu sebuah keseriusan dan ketelatenan. Pembidik yang konsisten akan memfokuskan murid supaya terbidik dengan baik, sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Pendidik yang cekatan akan menghasilkan murid dengan kepribadian militan. Dengan demikian, guru sebagai garda terdepan di dunia pendidikan perlu mengepakkan sayap untuk terus memperbesar kapasitas diri. Tidak hanya berfokus pada prestasi dan apresiasi, melainkan konsistensi untuk membangun generasi Indonesia maju.












