Gebrakan hebat di dunia pendidikan tidaklah lepas dari adanya keseimbangan antara pembelajaran di bidang akademik, non-akademik, dan juga pembiasaan budaya positif. Biasanya, berorientasi pada: keimanan dan ketaqwaan, kemandirian dan kedisiplinan, nasionalisme, cinta lingkungan, kerukunan dengan teman, dan juga peran aktif di dalam kehidupan bermasyarakat. Pembiasaan budaya positif menjadi salah satu bagian penting dari penanaman budi pekerti di satuan pendidikan.
Pembiasaan budaya positif bukan sekadar pajangan program sebagai kepanjangan visi dan misi sekolah, bukan pula wacana bergema yang tidak terlaksana, atau hanya pengisi jeda di kegiatan semester. Lebih dari itu, bahwasannya pembiasaan budaya positif merupakan hal yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Tentunya, juga bertujuan untuk mencetak generasi muda yang cerdas berkarakter dan berakhlak mulia.
Dalam hal ini, peranan orang dewasa sangatlah penting guna mendukung terciptanya budaya positif di lingkungan sekitar anak. Orientasi tumbuh kembang anak ke arah yang semakin baik perlu difasilitasi oleh kehadiran orang dewasa yang ada di sekelilingnya. Keterlibatan tersebut tidak hanya sekali waktu, namun terus menerus dilakukan secara rutin tanpa ada batasan waktu. Dengan demikian, pembiasaan budaya positif akan terlaksana secara optimal.
Benturan terbesar dalam pembiasaan budaya positif adalah hiruk pikuk media sosial yang kian mewabah di berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak yang masih tergolong usia dini, kelompok remaja, golongan dewasa, hingga lanjut usia. Penggunaan media sosial melalui gawai atau gadget dalam kehidupan sehari-hari tampaknya sudah menjadi sesuatu hal yang biasa, bahkan cenderung mendominasi gaya hidup zaman now.
Melakukan rutinitas harian seperti komunikasi, mobilitas bisnis, mengerjakan tugas, menyiapkan presentasi, rapat virtual, pembelajaran daring, mengunduh dan mengunggah berkas, mendengarkan musik, mencari inspirasi usaha baru, tutorial penggunaan suatu alat, mempelajari resep masakan, perdagangan online, promosi jasa, mengunggah foto, menonton film atau serial drama, mengirim dan berbalas pesan, atau sekadar menggulir fitur video pendek. Inilah ragam hal menarik yang dapat dinikmati melalui pemanfaatan gawai.
Peran para pendidik sebagai orang dewasa yang berada di rumah kedua bagi anak, perlu diupayakan secara maksimal. Metode kreatif dan media interaktif dapat diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran di bidang akademik maupun non-akademik. Kebutuhan anak terkait penanaman karakter dapat dilakukan melalui kegiatan kokurikuler atau ektrakurikuler. Salah satunya adalah giat pramuka yang diagendakan secara berkala dan berkesinambungan.
Gerakan Pramuka menjadi salah satu upaya guna mengubah polusi gawai menjadi solusi kepemimpinan yang tepat. Nilai-nilai dan wawasan tentang pramuka tercakup rinci dan lengkap di dalam metode kepramukaan, diantaranya: (1) Pengamalan Kode Kehormatan Pramuka; (2) Belajar sambal melakukan; (3) Kegiatan berkelompok, bekerjasama, dan berkompetisi; (4) Kegiatan yang menarik dan menantang; (5) Kegiatan di alam terbuka; (6) Kehadiran orang dewasa yang memberikan bimbingan, dorongan, dan dukungan; (7) Penghargaan berupa tanda kecakapan; (8) Satuan terpisah antara putra dan putri; dan (9) Kiasan dasar.
Gugus Depan Bondowoso 04.057 dan 04.058 Pangkalan UPTD SDN Sumbersuko 1 memiliki banyak program besar kepramukaan yang bertujuan untuk membekali anak agar memiliki kepribadian tangguh dan terampil dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, program kepramukaan juga ditujukan agar anak berwawasan luas, memiliki jiwa wirausaha dan potensi mengembangkan diri berbasis kearifan lokal, meningkatkan kesadaran peduli lingkungan, dan juga pentingnya melestarikan budaya daerah, serta kecakapan hidup bermasyarakat.
Giat rutin pramuka dilaksanakan setiap dua minggu sekali dan diperbanyak menjelang agenda tahunan seperti Persami, Pesta Siaga, Latihan Tingkat, dan Jambore. Kegiatan pramuka di Pangkalan UPTD SDN Sumbersuko 1 diberi istilah “ANGKASA” yakni Aku Senang Pramuka Saja. Pemberian nama ini dimaksudkan agar anak-anak memiliki ketertarikan dan antusias yang besar untuk mengikuti kegiatan pramuka, serta kemauan mendalami materi dengan baik.
Program diturunkan menjadi ragam kegiatan menarik, menyenangkan, dan mendalam sesuai dengan pendekatan kurikulum merdeka saat ini. “KERONG” kepanjangan dari keripik singkong merupakan salah satu giat pramuka berbasis kearifan lokal yaitu membuat keripik dari bahan singkong. Kerong juga merupakan salah satu kosakata Bahasa Ibu yang berarti “rindu”. Pramuka diharapkan dapat menjadi salah satu kegiatan yang selalu dinantikan oleh anak-anak.
Giat pramuka yang menarik dan menantang berfokus pada melatih kewirausahaan anak, yaitu membuat MITRA TANI dan POC. MITRA TANI memiliki kepanjangan yaitu Minuman Tradisional Sehat Jasmani. Pembuatan minuman ini berbahan dasar tanaman TOGA (Tanaman Obat Keluarga) yang ada di lahan belakang sekolah. Selanjutnya adalah POC yaitu Pupuk Organik Cair, yang dibuat dari sisa buah markisa yang ditanam di kebun sekolah. Buah Markisa pun dimanfaatkan untuk membuat minuman Sari Markisa sebagai upaya menyehatkan tubuh.
Kegiatan yang bersimbolkan tunas kelapa ini juga pernah menghadirkan Tim Pemadam Kebakaran untuk memberikan edukasi, wawasan, serta pengalaman terkait pencegahan dan penanggulangan bencana kebakaran di rumah penduduk. Pada acara Persami (Perkemahan Sabtu Minggu) tahun 2025 lalu, Gugus Depan Bondowoso 04.057 dan 04.058 mengusung tema “HIJAU DAUN”. Semua kegiatan, seperti penjelajahan, permainan, pentas seni, dan juga bazaar menggunakan daun sebagai gerakan cinta alam dan lingkungan atau yang disebut Go Green.
Gerakan Pramuka merupakan salah satu pilar penting dalam pembentukan karakter anak sebagai generasi penerus bangsa. Gugus Depan Bondowoso 04.057 dan 04.058 semakin santer membina karakter melalui giat pramuka dengan dasar sukarela, tanpa paksaan dan ikhlas. Hal ini dipahami bahwa ketika anak belajar dari kemauannya sendiri, berlatih dengan kesadaran penuh, maka hasil yang didapatkan sungguh akan bermanfaat bagi anak. Pramuka juga dilakukan dengan hati yang gembira, berani berpendapat, patuh pada arahan, dan suka bermusyawarah.
Dalam Kode Kehormatan Pramuka tertulis jelas bahwa anak memiliki dua kewajiban, yaitu Satya dan Darma. Amanah sebagai makhluk yang beragama, warga negara yang baik, bagian dari keluarga serta lapisan masyarakat Indonesia. Kewajiban tersebut secara lengkap tercantum pada Dwi Satya dan Dwi Darma untuk golongan Siaga, Tri Satya dan Dasa Darma untuk golongan Penggalang, Penegak dan Pandega.
Semangat kepramukaan di dalam Organisasi Pandu Dunia (WOSM) terus digalakkan dan dikobarkan demi memunculkan anak-anak berkepribadian tangguh, terampil, kreatif, dan berkarakter. Pramuka bukan hanya giat yang dapat direka-reka dan dianggap sepele, melainkan pembelajaran di alam terbuka yang terus bergerak dan menggerakkan. Pramuka merupakan wujud usaha dunia guna mencetak generasi muda yang pantang tumbang, namun selalu teguh berjuang berasaskan keikhlasan.












