Opini  

BUDAYA LOKAL BERSANDING DENGAN ERA DIGITAL Oleh: Septiana Agustin, S.Pd.,M.Pd.

Berdampingan atau berseberangan? Itulah pertanyaan yang perlu digaungan di setiap sanubari para generasi muda saat ini. Dapatkah Gen-Z memahami makna dan peran penting dalam kehidupan? Apakah mereka dapat menyeimbangkan antara kehidupan nyata dengan dunia maya? Adakah kebermanfaatan diri sendiri yang dapat mereka berikan dan bagikan dalam kehidupan bermasyarakat? Akankah gaya hidup individual akan membudaya seiring dengan kemajuan peradaban bangsa berbasis era digital? Bagaimana generasi muda mempersiapkan diri untuk meneruskan cita-cita bangsa dengan melestarikan budaya kearifan lokal?

Menembus dimensi digital seakan melihat dunia tanpa batas. Ruang komunitas menjadi semakin luas, ditambah jejaring komunikasi yang tidak terbatas. Semua tidak lepas dari adanya perkembangan dan kemajuan teknologi yang begitu pesat dan dahsyat. Dampak perkembangan teknologi yang kian melejit, menjadikan ruang tumbuh gerak manusia tidak lagi terhimpit. Hal ini nampak dari fenomena anak-anak muda yang begitu aktif menggunakan alat komunikasi berbasis teknologi modern. Mereka cenderung sangat gencar menggunakan ragam aplikasi yang tersedia di berbagai sumber media komunikasi. Gerak langkah mereka begitu cepat dalam menggali informasi yang up to date. Oleh karena itu, muncul istilah untuk para kaum muda di era ini dengan sebutan generasi milenial.

Generasi milenial juga akrab disebut Gen-Z, yaitu mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Generasi Z mampu menggunakan gadget sebagai salah satu teknologi komunikasi digital dengan cepat dan hebat. Berbagai alamat web dan aplikasi yang disodorkan melalui media playstore, dapat diakses dan dimanfaatkan oleh mereka dengan autodidak. Ragam informasi dan ilmu pengetahuan juga dapat diakses dengan mudah melalui aplikai AI, Gemini, ChatGPT, dan lain sebagainya. Gen-Z kental dengan teknologi digital, hal ini sebetulnya berdampak positif bagi anak, yaitu membentuk pola pikir think smart. Sebuah konsep dimana segala sesuatu dapat dikerjakan dengan cepat dan singkat. Beberapa diantaranya: berkenalan dengan orang lain yang berbeda suku dan bangsa, pembelian produk dengan aplikasi penjualan online, pinjaman uang secara online, serta akses informasi lainnya yang tidak terbatas.

Hidup terasa lebih mudah dan praktis dengan teknologi digital. Namun demikian, adapun dampak negatif dari penggunaan teknologi digital oleh Gen-Z. Salah satunya adalah kemalasan. Hal itu dikarenakan banyak waktu terbuang oleh kenyamanan bersama teman favorit, yaitu gadget. Anak-anak muda yang menggunakan gadget sepanjang waktu, cenderung akan mengabaikan dan melalaikan hal-hal yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya di dalam keluarga. Secara psikologis, anak akan terdidik sebagai pribadi yang malas, acuh, dan suka menyepelekan. Anak terdidik untuk malas, karena waktunya lebih banyak terbuang di depan layar gadget daripada berkomunikasi dengan orang tua atau saudara. Selain itu, penggunakan gadget yang melebihi porsi melatih anak untuk manja. Jika tidak suka dengan masakan di rumah, maka dengan mudah akan memesan makanan secara online tanpa beranjak dari rumah. Menghabiskan banyak waktu untuk berkomunikasi dengan teman tanpa harus bertemu, serta keinginan untuk bereksplorasi ke segala penjuru dunia juga tidak lagi menjadi hal yang sulit. Semua terasa asyik, menyenangkan, nyaman, dan memanjakan diri.

Gen-Z yang kental dengan teknologi digital secara tidak langsung mendidik anak menjadi kaum hedon, misalnya: buat story menu makanan yang dipesan sebelum dinikmati. Beberapa diantara mereka juga menjadi haus akan perhatian orang lain, misalnya: foto selfie sedang melamun, menyendiri, menikmati secangkir minuman, juga tidak sedikit yang foto di area toilet mall. Perkembangan teknologi di era digital juga memengaruhi generasi milenial untuk bertumbuh menjadi pribadi yang individual. Mereka terlalu asyik dengan dunia pertemanan di media sosial, mereka begitu kawatir jika tidak update dengan style terbaru maka akan dikucilkan, diremehkan, atau ditertawakan. Sebagian anak muda cenderung takut kehilangan komunitasnya. Akibatnya, mereka akan menghabiskan waktu lebih banyak bersama komunitas daripada memiliki waktu berkualitas bersama dengan keluarga. Mereka jarang melihat tayangan televisi bersama keluarga, makan malam bersama di meja makan, atau sekadar duduk bercengkerama bersama orang tua. Sekalipun duduk di area yang sama, namun masing-masing sibuk dengan gadget. Hal semacam ini akan berdampak pada pembunuhan karakter anak. Kecerdasan interpersonal dan juga intrapersonal yang seharusnya dapat diasah, menjadi minim bahkan tidak berfungsi dengan baik, karena faktor gadget yang menyebabkan kurangnya komunikasi diantara anggota keluarga.

Porsi penggunaan gadget di kalangan Gen-Z sebetulnya dapat dikendalikan. Bagi anak yang sudah beranjak remaja, seharusnya sudah memiliki kesadaran akan pentingnya kebersamaan bersama keluarga daripada sekadar menggandrungi gadget. Bagi anak yang masih berusia kanak-kanak, maka pengendali utama adalah orang dewasa yang ada di sekitarnya. Iya betul, anak akan tenang dan tidak berlarian ketika dipegangi gadget, namun itu bukan solusi yang baik dan bukan pula cara mendidik anak yang benar. Ketika orang tua memiliki kesadaran untuk menahan gadget dikala anak-anak harus belajar, bertamu, atau berkumpul bersama keluarga, maka orang tua pun harus memiliki kesadaran untuk memberikan teladan kepada anak-anaknya. Sehingga, hubungan antar anggota keluarga akan terjalin semakin erat dan harmonis.

Dalam perkembangan era yang semakin pesat dengan kemajuan teknologi ini, pentingnya menanamkan value atau nilai-nilai budaya lokal di dalam diri anak. Hal yang paling mudah adalah budaya mengantri, anak perlu belajar untuk menunggu gilirannya dengan sabar. Anak belajar untuk tidak egois dengan merebut posisi yang didepannya, juga tidak berbuat curang untuk mendahului. Selain itu, anak juga perlu belajar hidup bermasyarakat: bagaimana berbicara dengan orang yang lebih tua, bagaimana mempersilahkan tamu untuk masuk ke dalam rumah, adab bertamu, sikap ketika lewat di depan orang-orang yang sedang duduk berkumpul, dan juga cara menyampaikan pendapat kepada orang lain di depan khalayak. Ketika konsep budaya lokal dipahami dengan sungguh-sungguh, tetap dijaga, dan dilestarikan, maka anak-anak muda akan mampu hidup berdampingan dengan era digital. Sebaliknya,
jika anak-anak muda saat ini tidak terbiasa atau kurang pembiasaan terhadap budaya lokal, maka lambat laun mereka akan hidup berseberangan dengan era digital. Mereka akan menganggap bahwa budaya lokal tidak penting, kurang berfaedah, dan tidak sesuai dengan kehidupan saat ini.

Dengan ragamnya akses informasi yang luas dan tidak terbatas, Gen-Z akan semakin mencuat dengan kecakapan mereka dalam hal penggunaan teknologi digital. Pengetahuan mereka akan bertambah, wawasan meningkat, dan ilmu-ilmu baru juga akan mereka dapatkan dengan mudah. Namun demikian, jika tidak didukung dengan pengawasan dari orang dewasa yang berada di sekitar anak, maka pertumbuhan karakter anak menjadi tidak sehat. Pembinaan karakter sangat penting untuk mendukung proses pembentukan kepribadian anak. Karakter yang terbangun dengan baik akan membekali anak dalam bersosialisasi dalam komunitas pergaulan mereka. Dampaknya, generasi milenial ini akan bijak dalam menggunakan teknologi di era digital.