Opini  

Eskalasi Motivasi Pasca Pandemi

Bondowoso, Nasionalnews.co.id – Bukan waktu yang sebentar, penduduk Indonesia mengalami dampak dari adanya pandemi covid-19. Baik dampak yang menguntungkan, maupun sebaliknya. Hampir seluruh lapisan masyarakat merasakan dampak yang merugikan bagi kelangsungan hidup mereka. Ada yang berkurang pendapatannya, sebagian beralih profesi, tak jarang ditemukan jajaran pengangguran, dan sebagian pula terpuruk oleh keadaan.

Pemerintah telah berupaya sekuat tenaga untuk mengerahkan seluruh daya dan dana dalam rangka memberikan solusi. Setidaknya dapat mengurangi beban mereka yang terkena dampak kerugian selama masa pandemi. Mulai dari pemetaan wilayah, analisis kebutuhan, sosialisasi pencegahan dan penanggulangan covid-19, pengiriman bantuan berupa barang dan dana, sampai kepada revitalisasi di semua bidang terkait.

Pendidikan menjadi salah satu bagian penting yang terus mengalami pembenahan pasca pandemi covid-19. Kurikulum Darurat telah dirancang dan disosialisasikan secara bertahap sebagai upaya untuk mengatasi _Learning Loss._ Hal ini dilakukan agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan: satuan pendidikan, tenaga pendidik dan kependidikan, peserta didik, wali murid, serta para _stakeholder_ . Munculnya _issue Learning Loss_ membuat pemerintah merasa terbeban terhadap perkembangan pendidikan peserta didik. Oleh karena itu, dinas pendidikan dikerahkan sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Tidak hanya wacana, namun harus terlaksana. Dikutip dari laman merdeka.com, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Suharti mengatakan bahwa Kurikulum Darurat terbukti dapat mengurangi _Learning Loss._ Hal itu disampaikan dengan melihat hasil pencapaian implementasi Kurikulum Darurat baik di bidang numerasi maupun literasi.

Meskipun demikian, masih ditemukan adanya degradasi atau krisis motivasi belajar yang dialami oleh sebagian peserta didik. Hal ini wajar terjadi karena selama kurang lebih 18 bulan mereka melaksanakan sistem belajar dari rumah. Secara teknis lebih santai, bisa _break_, jadwal _flexible_ dan pengerjaan tugas bisa dibantu oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang dengan sengaja mengerjakan tugas anaknya supaya mendapatkan nilai tinggi. Kebiasaan inilah yang masih terbawa ketika peserta didik duduk kembali di bangku sekolah.

Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMP) sudah berjalan mulai awal semester 1 di tahun pelajaran 2021-2022 dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Eskalasi motivasi bagi peserta didik sudah diupayakan oleh pemerintah secara bertahap, khususnya diperuntukkan bagi satuan pendidikan yang termasuk kategori 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Dilansir dari CNN Indonesia, Mendikbudristek – Nadiem Makarim telah memfasilitasi sarana dan prasarana peserta didik yang berada di wilayah 3T dengan cara menaikkan anggaran BOS (Bantuan Operasional Siswa). Sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan lebih maksimal.

Eskalasi motivasi perlu dilakukan secara kontinu, agar semangat belajar para peserta didik kembali berkobar. Lakon inti atau tokoh utama dalam hal ini adalah para tenaga pendidik. Guru-guru dapat bereksplorasi dan berinovasi dalam mempersiapkan _ice breaking_, metode kreatif, serta media pembelajaran yang menarik, agar siswa termotivasi kembali untuk belajar. Eskalasi motivasi tidak secara _instant_ akan nampak, namun pasti akan berdampak kepada seluruh peserta didik. (Oleh: Dr. Septiana Agustin, S.Pd.,M.Pd)