Di era digital yang serba cepat ini, banyak anak muda merasa bangga menjadi warga dunia, tapi lupa menjadi anak bumi sendiri. Kita sibuk meniru budaya luar, mengejar tren global, tapi jarang menoleh ke akar kebijaksanaan yang tumbuh di tanah Nusantara. Padahal, di balik debu sejarah dan mitos leluhur, tersembunyi jejak kesadaran tinggi — warisan spiritual dan filosofis yang pernah membuat peradaban kita bersinar.
Nusantara bukan sekadar gugusan pulau di garis khatulistiwa. Ia adalah ruang kesadaran yang luas, tempat manusia, alam, dan semesta saling menyapa. Lihatlah Candi Borobudur, yang bukan hanya bangunan batu, tapi peta perjalanan jiwa menuju pencerahan. Lihatlah Pura Besakih, yang menggambarkan keseimbangan antara dunia bawah, tengah, dan atas — simbol harmoni antara tubuh, pikiran, dan roh. Semua itu menunjukkan bahwa leluhur kita tak hanya berpikir tentang hidup, tapi memahami makna keberadaan.
Sayangnya, nilai-nilai luhur itu kini mulai redup. Kita lebih mengenal nama selebritas global daripada ajaran Sangkan Paraning Dumadi yang mengajarkan asal dan tujuan hidup. Kita lebih kagum pada kecerdasan buatan, tapi lupa bahwa Nusantara sudah lama mengenal kecerdasan batin — kemampuan untuk memahami diri, mendengar suara alam, dan hidup selaras dengan semesta.
Inilah saatnya generasi muda menggali kembali makna terdalam dari jati diri bangsa. Menggali bukan berarti mundur ke masa lalu, tapi membangkitkan kesadaran lama dengan semangat baru. Dunia modern butuh generasi yang bukan hanya cerdas secara teknologi, tapi juga bijak secara spiritual. Generasi yang bisa menyeimbangkan kemajuan dengan welas asih, inovasi dengan kearifan.
Kita perlu menyadari bahwa perubahan sejati tidak dimulai dari sistem, tapi dari kesadaran. Dari diri yang jujur, hening, dan berani memahami makna hidup. Bila setiap anak muda Indonesia menemukan kembali kesadaran itu, maka Nusantara akan bangkit bukan sekadar sebagai negara besar, tapi sebagai peradaban sadar — yang mampu membawa cahaya bagi dunia.
“Bangkitnya Nusantara bukan hanya tentang ekonomi atau politik,
tetapi tentang kesadaran manusia yang kembali selaras dengan semesta.”












