Sejak lima tahun yang lalu hingga saat ini, saya merasakan masih cukup tajamnya polarisasi atau pembelahan sosial – masyarakat. Suatu kelompok selalu mencela dan menyudutkan apapun kebijakan pemerintah dengan argumentasi yang sering kali absurd. Sedangkan kelompok lain , yang menjadi pendukung pemerintah juga membela dengan menyudutkan tokoh tokoh yang menjadi idola oposisi dengan nada yang sama.
Ditengah situasi pandemi yang mestinya mempersatukan sikap dan perilaku masyarakat, ternyata gejala pembelahan sosial itu tidak kunjung mereda.Tentu saja hubungan kemasyarakatan seperti itu sama sekali tidak ideal dan tidak produktif , bukan hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Pembelahan masyarakat tersebut bersumber pada prasangka buruk atau syukdhon dari masing masing pihak. Suatu sikap yang irrasional dan muncul dari rasa kebencian terhadap pihak lain dan sering kali diekspresikan secara premordialistik. Medsos dan para buzer atau pendengung mempunyai andil besar atas berlanjutnya pembelahan atau polarisasi masyarakat.
Pada moment tertentu kadang- kadang hilang untuk sementara waktu. Misalnya ketika kita sedang menonton pertandingan sepakbola atau badminton pada saat tim nasional sedang berhadapan dengan tim negara lain. Hal ini bermakna, sikap atau perilaku pembelahan masyarakat tersebut tidak keluar dari lubuk hati masing- masing, melainkan sebagai akibat dari pengaruh faktor lain dari luar yang bertentangan dengan jati diri bangsa.
Dengan demikian pembelahan sosial itu bisa hilang jika kita kembali kepada jatidiri bangsa yang menghargai perbedaan pendapat satu sama lain. Bhineka Tunggal Ika, berbeda beda tetapi tetap satu atau tunggal ika. Saat menjelang tahun baru ini hendaknya kita melakukan perenungan bersama, baik mereka yang mendukung pemerintah ataupun yang oposisi.
Melakukan kritik terhadap pemerintah dan sebaliknya membela kebijakan pemerintah merupakan suatu keniscayaan. Bahkan pro dan kontra itu merupakan nafas dari demokrasi. Tentu saja setiap pendapat dan sikap itu didasarkan pada rasionalitas dan kejujuran.
Rasionalitas memerlukan fakta yang benar dan penilain yang berdasarkan pada logika yang mantik ( konsistensi logis ), sehingga menghasilkan kritik konstruktif. Dalam era medsos seperti sekarang ini banyak informasi penyesatan dan info sampah yang sering kali menjadi dasar dari suatu pendapat politik yang menjadi sumber silang pendapat masyarakat.
Disamping itu sikap kita khususnya pendirian dan pandangan politik hendaknya selalu mengedepankan “prasangka baik”. Atau dalam kalangan kaum santri ( religius nasionalis ) dikenal dengan “khusnud dzon”. Informasi yang valid, rasional dan khusnud dzon akan dapat menuntun kita menuju kebenaran dan selanjutnya membimbing bangsa ini menjadi bangsa besar yang kuat dan jaya.
Mari kita jadikan perayaan Tahun Baru sebagai moment atau saat yang tepat untuk melakukan pembaharuan silaturahmi – persaudaraan kebangsaan.(KH As’ad Said Ali)












